Posts filed under ‘cerpen’

Amangkurat Pujono


PUJONO atau Mas Pujo dikenal sebagai pemain ketoprak lumayan tersohor. Kami mencarinya di dusun kediamannya di daerah Ngablak di lereng Gunung Merbabu ketika bos atau juragan kami yang mengelola pekan raya di ibu kota provinsi, berkeinginan menghadirkan pertunjukan ketoprak di pekan raya yang bakal berlangsung sebulan penuh, bulan depan. Sudah tak banyak rombongan kesenian rakyat masih tersisa, bahkan sepengetahuan kami berikut orang-orang yang kami tanyai, hanya rombongan ketoprak pimpinan Mas Pujo-lah yang masih aktif. Menurut beberapa orang, rombongan ketoprak itu, Langen Redi Budoyo, masih sering terlihat membuka tobong atau tempat pertunjukan di kota-kota kecil. Ada yang bilang, terakhir Langen Redi Budoyo terlihat di Bawang, sebuah kota kecamatan di dekat Weleri. Namun, ketika kami cari ke situ, sudah tak terlihat jejak rombongan kesenian rakyat itu. Orang-orang setempat mengatakan mereka telah cabut sekitar seminggu lalu. Itulah yang menyebabkan kami kemudian mencari Mas Pujo dan Langen Redi Budoyo-nya di Ngablak–daerah yang menurut informasi yang kami terima merupakan desa tempat asal rombongan kesenian rakyat tersebut.

Tak sulit mencari Mas Pujo di daerah asalnya. Sejak daerah wisata Kopeng, pedagang bunga dan sayur-sayuran sudah bisa menunjukkan di mana Mas Pujo tinggal. “Oh, Pujo ketoprak. Rumahnya di Ngablak…,” kata pedagang bunga yang kami tanyai tempat tinggal Mas Pujo. Seorang tukang parkir mendekat. “Nggoleki sopo?” tanyanya. “Ooo Pujono. Ya, di sana, Ngablak. Naik lagi, sekitar setengah jam dari sini,” sambung tukang parkir itu dengan bahasa Indonesia medok Jawa, menunjuk jalan raya yang menanjak menuju daerah yang disebutnya Ngablak tadi.

Kabut datang bergulung-gulung. Bau asap tembakau yang dicampur remukan kemenyan tercium di mana-mana. Orang-orang di desa di kaki gunung ini memang terbiasa mengisap tembakau yang selain dicampur cengkih biasanya juga dicampur dengan kemenyan.

***

SISA-SISA kejayaan hidup seniman panggung masih terlihat di kediamannya. Ada jalan menurun yang dikeraskan dengan semen sebelum sampai ke tempat tinggalnya. Tempat ini seperti sanggar, dengan pekarangan amat luas. Selain rumah berdinding papan yang merupakan rumah utama, terdapat pendopo desa, di mana tampaknya para anggota Langen Redi Budoyo biasa berkumpul dan latihan. Di pendopo itu terlihat banyak perlengkapan panggung, dari gamelan, dekorasi, sampai properti semacam senjata berupa tombak, pedang, yang semua terbuat dari kayu.

“Monggo, monggo…,” suara Mas Pujo menggema mempersilakan kami masuk rumahnya.

Kami berdua, utusan bos pekan raya, memilih bisa diterima di pendopo saja, yang suasananya lebih terbuka. Dari situ terlihat lingkungan daerah gunung yang asri. Lembah dengan pohon-pohon cemara terlihat di kejauhan. Sementara di sekeliling sanggar Mas Pujo, tampak bunga-bunga seperti kenaka, kembang sepatu, yang meski tidak terlalu terawat tetap berbunga besar-besar.

Tak ada kursi di pendopo. Kami duduk di tikar. Mas Pujo segera bersila dengan sikap sempurna–punggung tegak, pundak rata–ketika menemui kami setelah sebelumnya sempat masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian. Dia berucap, memang sudah sekitar seminggu rombongan ketopraknya prei atau libur.

Seketika matanya berbinar-binar ketika mendengar bahwa maksud kedatangan kami adalah untuk mengundang dia dan rombongan ketopraknya untuk bermain di pekan raya selama sebulan penuh bulan depan.

“Hanya saja, pertunjukan ini sifatnya lain dari biasanya Mas. Pekan raya hanya berlangsung sampai pukul sepuluh malam. Pertunjukan paling bisa berlangsung selama dua jam, sehingga Mas Pujo harus memilih lakon-lakon sederhana. Dekorasi panggung pun harus bersahaja, karena panggungnya kecil. Sifat pertunjukan ini hanya untuk mengenalkan kepada para pengunjung pekan raya akan kesenian rakyat kita yang masih tersisa,” kataku menerangkan, agar dia tak terlalu bersemangat membawa semua perangkat panggungnya yang kubayangkan akan sulit bisa diterapkan di panggung pekan raya. “Dekor juga cukup sederhana saja, tidak bisa memakai layar-layar panggung seperti yang biasa Mas Pujo lakukan,” tambahku.

“Bisa, bisa…,” katanya penuh semangat. “Nanti akan saya bawakan lakon Amangkurat Wuyung. Kanjeng Sunan Amangkurat waktu itu mencari garwo, dan beliau mendengar dari Pangeran Purboyo, bahwa dalang dari Blitar, Ki Wayah, punya putri cantik jelita bernama Ni Sekar.”

“Soal lakon kami serahkan penuh kepada Mas Pujo. Yang penting Mas Pujo bisa memperhitungkan bagaimana pertunjukan yang bakal berlangsung selama tiga puluh hari itu bisa terus-menerus menarik setiap malam. Kami juga ingin tahu berapa orang yang akan Mas Pujo bawa, dan bagaimana kami harus menanggung mereka semua,” aku menyela.

“Amangkurat ini adalah pengganti Sultan Agung. Cerita Amangkurat yang juga disebut sebagai Sunan Tegalwangi ini adalah cerita paling menarik dalam sejarah Mataram,” ucap Mas Pujo. Dia sepertinya tidak mendengar kata-kataku.

Aku mengingatkannya lagi, tentang sifat pertunjukan yang berlangsung di tengah berbagai acara lain ini, yang sebagian besar merupakan pameran barang-barang kerajinan. Dengan demikian, pengunjung yang datang bukanlah melulu penonton ketoprak. Kataku, “Karena itu, Mas Pujo membawakan lakon-lakon yang sederhana saja setiap malam. Kalau bisa yang banyak dagelannya. Penonton yang sifatnya melihat sambil lalu akan lebih suka kalau banyak dagelannya, banyak humornya.”

“Nanti saya sendiri yang akan menjadi Amangkurat atau Sunan Tegalwangi. Beliau itu penguasa yang bengis. Kalau tertawa suaranya mengguntur: hua-ha-ha…,” Mas Pujo berucap sambil menirukan tawa Sunan Amangkurat. Suaranya menggema memecah keheningan senja.

“Siapa yang akan jadi Sunan Amangkurat kami tak peduli. Yang kami kehendaki Mas Pujo menghitung biaya operasional sehari-hari, sehingga kami bisa melaporkan kepada atasan kami dan memperhitungkan anggaran,” ucapku mulai kurang sabar.

“Nanti panjenengan akan lihat sendiri kalau saya jadi Amangkurat. Gigi Amangkurat hitam-hitam, karena selalu mengunyah kinang. Kalau tertawa seperti tadi: hua-ha-ha…,” Mas Pujo memperdengarkan tawanya lagi. “Duduknya begini,” kata dia, sembari memperbaiki posisi duduk bersilanya, seolah sedang duduk di singgasana.

“Mas Pujo…” aku berusaha mengingatkannya.

“Ya…” jawabnya. Nada bicaranya seperti seorang raja menerima laporan bawahan. “Sunan Amangkurat menitahkan Pangeran Purboyo untuk memboyong putri Ki Wayah untuk dibawa ke Mataram, untuk dihaturkan di hadapannya.”

Aku menengok temanku. Dia cuma mengangkat bahu. Kami sama-sama tak tahu, bagaimana meluruskan Mas Pujo, bahwa yang hendak kami bicarakan ini adalah soal bisnis, bukan soal Amangkurat mencari istri.

“Tahi kucing dengan urusan Amangkurat mencari istri,” secara sambil lalu aku mengucapkan kata-kata kurang ajar.

“Hua-ha-ha…,” Mas Pujo lagi-lagi tertawa. “Cerita ini benar-benar terjadi di zaman Mataram,” katanya sambil menuding-nudingkan jarinya. “Seperti tersebut dalam Serat Babad Tanah Djawi, di situ disebutkan, Kacariyos, Ki Wayah agadah anak estri satunggil, sakalangkung ayu, namun sampun gadah bojo. Anunten bojonipun tiyang istri wau, andikakaken mejahi….Jadi wanita ayu itu punya suami. Amangkurat menitahkan, supaya suaminya dibunuh saja. Ngek…. Nah, ramai kan? Karena Sunan Amangkurat menghendaki, tidak peduli si perempuan sudah bersuami, ya tetap diambil begitu saja. Cocok kan dengan keadaan sekarang?” ucapnya kepadaku.

“Peduli setan!” ucapku dalam hati. Tak kujawab pertanyaannya. Aku melirik temanku. “Kami permisi, mohon pamit Mas Pujo….” kataku.

“Lhoh, tunggu dulu. Panjenengan harus tahu, bagaimana nantinya Sunan Amangkurat benar-benar jatuh cinta pada wanita itu. Setelah diperistri, wanita itu diberinya nama Ratu Wetan. Ratu Wetan menjadi istri yang paling dicintai Sunan di antara istri-istrinya yang lain. Sebaliknya, karena duka lara ditinggal mati suaminya yang dibunuh Sunan, Ratu Wetan terus-menerus menangis setiap malam, sampai akhirnya jatuh sakit….”

Kami berdua berdiri, bersiap meninggalkan pendopo. Tak ada gunanya menanggapi orang ini.

Sedangkan Mas Pujo makin menjadi-jadi. Dia tampaknya makin terbayang-bayang akan kecantikan Ratu Wetan-nya. “Ratu Wetan jatuh sakit, dan akhirnya meninggal. Sunan Amangkurat tidak membiarkan liang lahat kuburan Ratu Wetan ditutup. Bahkan di liang lahat itu mayat Ratu Wetan disetubuhinya. Edan, ini benar-benar cerita edan,” Mas Pujo berucap, entah ditujukan kepada siapa.

“Edan, memang edan…” kataku, di ambang meninggalkan kediamannya.

“Edan kan? Nah, bagaimana kalau itu kami bawakan nanti?” tanya Mas Pujo.

“Silakan saja. Kalau Mas Pujo sudah menghitung biaya untuk tampil dan lain-lainnya, silakan hubungi kami di Hotel Sriti. Kami menginap di situ sampai besok pagi,” kataku sembari minta diri.

“Ooh, menginap di Hotel Sriti? Baik, nanti saya akan temui panjenengan…” katanya.

***

SAUDARA-SAUDARA, ada satu hal yang sempat aku pertimbangkan beberapa kali, sebelum berkeputusan menceritakan kelanjutan pengalaman bertemu Mas Pujo tadi. Baiklah. Begini ceritanya. Tak berapa lama setelah kami tiba di hotel petang itu, telepon di kamarku berdering. Waktu itu aku baru saja habis mandi dan berganti pakaian. Petugas hotel memberi tahuku, seorang tamu, namanya Pujono, menunggu di depan.

“Hah, dia menyusul? Mau apa dia?” pikirku.

Segera aku keluar untuk menemuinya. Di ruang tamu hotel sederhana ini, terlihat Mas Pujo. Ia duduk bersila di kursi panjang. Di hotel ini pun, jangan-jangan dia berpikir sebagai Amangkurat….

“Hua-ha-ha…” ia tertawa menyambutku.

Aku bersiap-siap untuk berhadapan dengan Sunan Amangkurat lagi. “Mas sudah putuskan semuanya? Kita langsung bicara soal bisnis saja, tidak usah membicarakan lakon segala. Sudah cukup bicara soal Amangkurat,” kataku tegas, karena aku tidak ingin malamku di hotel ini bakal tersia-sia.

“Ha-ha-ha…” dia tertawa lagi. Kemudian didekatkannya mukanya kepadaku. Dia ingin bicara pelan-pelan rupanya. “Sssttt…,” bisiknya memberi isyarat. “Mas butuh teman tidur? Yang saya ceritakan tadi, si Ratu Wetan, saya bawa ke sini. Dia bisa jadi teman tidur,” lanjutnya dengan suara berbisik.

“Hah?” aku yang terperangah. Amangkurat Pujono ini serba tak terduga.

“Dia menunggu di luar. Mas tunggu di sini. Akan saya bawa kemari…” ucapnya sembari berdiri, tanpa memberiku kesempatan untuk menimbang-nimbang sama sekali.

Tak berapa lama kemudian, dia masuk bersama seorang wanita. Aku merasa dia bawa dari satu keterpanaan ke keterpanaan. Wanita ini cantik, meski sudah tidak muda lagi. Usianya dugaanku tiga puluhan, atau bahkan menjelang empat puluh. Ada beberapa helai rambutnya yang kelihatan mulai memutih. Inikah Ratu Wetan….

Rombongan ketoprak Mas Pujo akhirnya jadi main, mengisi acara di pekan raya. Pertunjukannya tak istimewa, bahkan boleh dikata gagal. Mereka tak pernah berhasil menarik penonton seperti diharapkan.

Dari situ aku berkesimpulan, tontonan ini memang sudah masanya gulung tikar. Kalau toh ada yang masih bisa dikenang dari “laskar terakhir” kesenian rakyat ini, hanyalah si Ratu Wetan, wanita cantik, yang entah sudah berapa lelaki menidurinya….

Jakarta, Mei 2004

April 6, 2011 at 12:07 pm Leave a comment

Mbak


“JANGAN percaya pada novelis,” katanya. “Jangan pernah yakin, bahwa kita tidak bakal dibawanya ke tempat tidur pada suatu hari, telanjang, di antara halaman-halaman buku….”

 

DENGAN gembira dan tertawa-tawa ia mengucapkan kata-kata dari buku yang dia pamer-pamerkan padaku. Buku itu berbahasa Inggris, dan kutipan tadi terjemahan bebas saya atas apa yang diucapkannya. Dalam beberapa hal, aku kadang menilai tingkah dia “yang usianya dua tahun lebih tua dariku, oleh karenanya aku memanggilnya mbak”, agak kekanak-kanakan. Untuk soal terakhir itu, ia tampaknya menangkap persepsiku terhadapnya, menerimanya secara suka rela, dan kemudian tingkah yang sering berbau kekanak-kanakan itulah yang memang sengaja dimunculkannya di depanku.

 

Atau ia lebih merasa aman dengan pola hubungan seperti ini “Karena dalam dirinya, sebenarnya berkecamuk dorongan lain, bahwa sangat mungkin di antara kami berdua bisa terlibat hubungan” lebih daripada ini “Persoalannya Saudara-saudara, sering ada situasi tertentu dalam hubungan perempuan-lelaki, yang membatasi mereka untuk bisa begitu saja saling mengekspresikan ketertarikannya, mewujudkan dorongan itu menjadi “taruhlah” bahasa “eksistensialnya”: berhubungan seks.

 

Mana mungkin itu aku lakukan bersamanya. Entah apa kata sekeliling kami “atau bahkan kata dunia” kalau hal itu terjadi. Meskipun, sebenarnya dalam diriku terus terang selalu menggelegak gairah setiap kali melihatnya, atau bahkan sekadar mengingatnya. Seluruh penampilan kewanitaannya selalu mengundang berahiku. Betisnya, pinggangnya yang terpelihara bentuknya, sampai payudaranya “yang tidak terlalu besar” yang sangat mungkin terjaga “kesopanannya”, dalam arti tidak terjamah sembarang tangan, sering tak terhindarkan melintas di benakku.

 

Apakah dia sebenarnya menangkap juga apa yang berkecamuk di benakku. Jangan percaya pada novelis…. Oleh orang-orang tertentu, aku memang dianggap sebagai “novelis”. Anggapan atau sebutan itu selalu membuatku gamang. Meski pernah menghasilkan dua buku novel yang diterbitkan penerbit kurang dikenal, aku tidak pernah punya nyali untuk menyebut diri sebagai novelis. Dua buku itu pun kuanggap gagal. Aku sendiri malu kalau membacanya. Kulihat-lihat, terlalu banyak cerita dan adegan seks yang tak berjuntrungan.

 

“Jangan percaya pada novelis….”

 

Kupegang tangannya untuk mencoba merebut buku yang dipamer-pamerkannya. Ia makin tertawa kegirangan. Aku menangkap kulit tangannya yang halus….

 

Ah Mbak….

 

DIA adalah putri bude alias ayah kakak. Dulu kami dibesarkan sama-sama di Semarang, karena begitu lulus sekolah dasar, aku dikirim ke Semarang oleh ayahku, dititipkan kepada bude. Pertimbangannya, di Bandungan, ayah adalah petani bunga (mawar) di daerah pegunungan bernama Bandungan di Jawa Tengah itu, belum terdapat sekolah lanjutan.

 

Mbak adalah figur kebanyakan siswa di sekolah. Artinya, jejak hidupnya adalah jejak hidup yang juga dijalani sebagian besar orang. Ia bukan “bintang sekolah”, “primadona” yang menjadi rebutan para cowok, mayorete drumband yang membikin semua orang berdecap, tukang pesta yang beredar di mana-mana, dan semacamnya. Bukan. Ia bukan itu semua. Dia hanya sekolah, belajar dengan tekun seusai sekolah atau pada petang hari. Kegiatan lain yang dia ikuti seingat saya sebatas pada rombongan kur gereja.

 

Lalu dia lulus SMA (waktu pesta perpisahan sekolah pun, bahkan barangkali tidak mendapati sesuatu yang istimewa, misalnya dicium cowok yang lantas dikenangnya sebagai kenangan manis). Dia melanjutkan kuliah di perguruan tinggi dengan ketekunan dan rutinitas hidup yang sama, lulus pada waktunya, kemudian melamar kerja di sebuah bank di Jakarta, dan diterima. Sejak itu ia pindah ke Jakarta.

 

“Di bagian apa, Mbak” tanyaku mengenai pekerjaan yang dijalaninya di Jakarta.

 

“Aku menjadi teler,” jawabnya.

 

***

 

ENTAH mengapa, ketika aku mulai terpengaruh pada berbagai kredo kepengarangan “termasuk di antaranya kalau mau mengeksplorasi kehidupan manusia carilah pada pengalaman sehari-hari yang sederhana, bukannya pengalaman spektakuler dan spesial yang barangkali tak dialami semua manusia” aku suka tergoda untuk menokohkan dirinya. Segi apa darinya” Ya tentang kesederhanaan dan semua hal yang bersifat biasa dari hidupnya itu, Saudara-saudara.

 

Aku membayangkan, pekerjaannya sebagai teler, bagian yang langsung menghadapi para nasabah bank, untuk urusan menyetor uang, mengambil uang, mentransfer dana, memindahkan dana antar rekening, dan seterusnya. Ia hanya menjadi perantara dari instrumen hidup yang rasanya lebih fungsional, yakni uang. Siapakah akan memerhatikannya, apalagi dalam urusan penampilan, dia tergolong biasa-biasa saja, bukan “katakanlah” seorang Sophia Latjuba?

 

Lalu aku mereka-reka cerita, bahwa pada suatu saat ada seorang pangeran yang cukup sering mendatangi banknya. Sang pangeran diam-diam suka memperhatikan dirinya, sambil mencari-cari cara, bagaimana bisa berkomunikasi lebih lanjut dengan pegawai bank di garis depan pelayanan nasabah ini, yang umumnya sifatnya menjadi seperti uang? berharga tapi hambar.

 

Tiba-tiba sang pangeran menemukan cara. Pada kertas bank yang isinya selalu cuma kolom-kolom kosong untuk diisi angka-angka, ia berpura-pura salah menulis isian. Dia minta kertas yang lain lagi. Sementara pada kertas yang ia akui sebagai telah salah mengisi tadi, ia tulis kata-kata untuk si Mbak, deformasi sembarangan dari sajak penyair terkenal Chairil Anwar: “Hidup terlalu berharga untuk dibekukan dalam cakrawala angka-angka/Makin jauh dari cinta sekolah rendah/Dan tak ada yang tak terucapkan/Sebelum kita menyerah…. Salam dari saya.”

 

“Ini untuk Anda,” kata sang pangeran mencuri-curi.

 

Jantung Mbak terasa copot menerima pesan tak terduga, yang disampaikan dengan cara yang tak biasa itu.

 

Siapakah pangeran yang telah memutus rutinitas hidupku ini?

 

***

 

ORANG kadang bertanya, mana hal yang sungguh-sungguh terjadi dan mana yang tidak padaku. Ada juga yang langsung menyimpulkan, bahwa yang ditulis seorang pengarang sebenarnya adalah pengalaman pribadi.

 

Tidak gampang aku menjawab pertanyaan itu. Bukankah semua orang punya pengalaman pribadi, dan kalau itu dituliskannya dengan demikian semua orang adalah pengarang? Sebaliknya, ketika seorang pengarang menulis, dia memang menulis sesuatu dari facet-facet pribadinya, mengungkapkan pribadinya?

 

Kembali kepada soal Mbak itu misalnya. Apakah dia benar-benar ada dan punya kaitan hubungan pribadi seperti kuceritakan tadi? Sungguh pertanyaan yang sukar kujawab. Termasuk, ketika seorang wanita benar-benar bertanya padaku: “Apakah yang kamu maksud dalam tulisan itu diriku”?

 

Aku tergeragap. Yang mengajukan pertanyaan tersebut teman dekat, yang karena soal kedekatan dan lain-lain, selalu membuat aku segan terhadapnya.

 

“Bukankah kamu bukan teller sebuah bank”? ucapku. “Dan aku tidak memanggilmu Mbak”?

 

Dia menyungging senyum tipis, yang sulit kutangkap maknanya. Apakah dia tersinggung? Ia berbalik, berlalu dari hadapanku.

 

Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku mengejarnya. “Apakah aku menyinggungmu”?

 

“Kuharap, jangan ceritakan bagian lainnya. Never, never, never…” katanya memutus perbincangan.

 

***

 

SEBENARNYA, tulisan mengenai wanita di bank yang bertugas di bagian pelayanan nasabah atau disebut teler tadi, ada lanjutannya. Wanita itu tidak berdaya belaka, ketika dalam kerutinan bahkan kedunguan pekerjaan sehari-hari, pangeran yang entah datang dari mana itu menjemputnya, memberinya mawar dari kebun keluarganya di Bandungan, Jawa Tengah, memberinya minum anggur merah yang tak pernah dirasakannya sebelumnya, dan membawanya ke tempat tidur…. (Bagian ini kuhapus).

 

Jika Anda bertanya, aku bakal tidak bisa menjawab secara pasti, wanita (atau wanita-wanita) yang kuceritakan itu benar-benar ada atau tidak. Soal Mbak, putri bude, sebagaimana orang yang biasa hidup dalam keluarga besar, aku pasti punya. Teman, dalam suatu relasi yang aku segani, aku juga punya. Teler bank, yang kadang memikat perhatian kita, pasti juga ada, bahkan banyak di kota besar ini.

 

Terus terang, sebutan sebagai novelis (novelis gagal sekalipun) sering membuatku gamang. Benarkah novelis suka membawa wanita ke tempat tidur, telanjang, di halaman-halaman bukunya?

 

Kupegang tangan wanita itu.

 

“Tidak, aku tidak akan pernah menceritakannya…,” janjiku padanya.

 

Dia tersenyum, tampak lega.

 

Banjarsari, Ciawi, Oktober 2004

April 6, 2011 at 12:04 pm Leave a comment

Pelayanan Kudus


AKU mendarat, dan seperti biasa-aku sudah diberi tahu sebelumnya-Joni-lah yang akan menjemputku di airport. Kota tempat tinggal Ros, kakak perempuanku, masih sekitar satu setengah jam dari kota di mana airport ini berada.

“Om…”

KUDENGAR teriakan anak perempuan. Aku menoleh. Dua keponakan perempuanku-alasan utama aku selalu datang ke sini-menghambur ke arahku. Ini hari istimewa, terutama bagi si kecil, Wida (kelas V SD), yang hari ini berulang tahun. Dia berlari-lari ke arahku, diikuti kakaknya, Vivi (kelas II SMP), yang setahun tak kulihat, dalam pandanganku sekarang terlihat begitu cepat besar dan manis. Di belakang keduanya, ada Joni yang senyum-senyum-satu ekspresi paling khas pada dirinya.

“Kalian tidak sekolah?” tanyaku.

“Kan libur, Natal…,” jawab Wida sambil menggeleyot manja. Si adik ini memang selalu begitu.

“Om dulu kalau Natal tidak libur ya?” sela Vivi. Ini khas ekspresi sang kakak: agak jahil.

Coba kucubit pipinya. Dia menghindar sambil tersenyum meledek.

Joni mengambil alih bawaanku. Kami berendengan menuju area parkir.

“Kamu apa kabar Jon?”

“Baik.”

Dia kulihat juga bertambah dewasa kalau mengingat pertama ikut Mama di kota kelahiran kami dulu, ia baru lulus SD. Kecil, udik, dan penakut. Bahkan kalau bicara pun, sering bergemetaran. Dia ikut keluarga kami, bersekolah sampai lulus SMA, sebelum kemudian pindah ke kota ini, ikut Ros. Ia kelihatan gagah dan penuh kepercayaan diri sekarang. Kudengar, dia aktif berlatih silat, bahkan kadang sudah bertindak sebagai pelatih.

“Umur kamu sekarang berapa Jon?” tanyaku.

“Dua empat, eh, dua lima,” jawabnya.

“Sudah punya pacar?”

Ia cuma tersenyum.

“Ibu di rumah?” aku bertanya tentang Ros.

“Tidak,” kata Joni. “Pergi, pelayanan…,” tambahnya. Ia selalu berkata satu-satu begitu, dan cenderung tidak bersuara kalau tidak ditanya.

Siang ini cuaca mendung. Udara menjadi agak dingin, sejuk.

NASI kuning dengan sejumlah lauk-pauk termasuk ikan asin yang dibakar-makanan yang menurut hematku terenak di dunia-terhidang di meja. Beberapa anak tetangga teman-teman Wida menunggu di rumah. Satu lagi yang kusukai dari lingkungan kota kecil: kesederhanaan semacam ini.

“Selamat ulang tahun…,” seruku sambil mencium Wida. “Siapa yang membikin nasi kuning luar biasa ini? Mama?” tanyaku.

“Bukan,” jawab Wida. “Mas Joni.”

Aku melirik Joni. “Kamu yang membikin, ya Jon?”

Lagi-lagi ia cuma tersenyum, sembari sibuk menurun-nurunkan dan mengatur barang bawaanku.

“Gila, kamu makin pandai memasak,” aku bicara sambil mencomot tempe yang dipotong kecil-kecil, dimasak dengan bumbu manis-manis pedas. Kepiawaian memasak Mama rupanya Joni yang mewarisinya. Bukan Ros. Aku tahu Ros tidak suka memasak, dan barangkali tidak punya waktu. Apalagi, sejak dia makin sibuk melakukan pelayanan rohani di tahun-tahun belakangan ini.

“Kita akan makan nasi kuning ini bersama Mama?” tanyaku pada anak-anak.

“Mama bilang dia akan pergi seharian. Mama pesan kita-kita saja yang pesta…,” kata Vivi.

Aku mencari penegasan pada Joni.

“Ya, ibu pesan begitu,” ujar Joni.

“Ooh, pelayanan…,”

Tiba-tiba telepon rumah berdering. Vivi mengangkatnya, bercakap-cakap sebentar, sebelum kemudian menyodorkan gagang telepon padaku. “Mama,” ucapnya memberitahuku.

“Hai Ros…,” kataku.

“Ya, kamu baru datang ya? Perjalanan lancar? Di rumah semua sudah siap. Sudah ada nasi kuning segala, dibikin oleh Joni. Kamu makan saja sama anak-anak, tidak usah menunggu aku. Hari ini aku sibuk sekali. Pagi tadi sudah ke gereja, mengurusi persiapan bazar. Lalu aku harus segera lari ke Efatta karena harus ceramah di situ mengenai kesiapan wanita kalau harus hidup sendiri, memimpin keluarga sendiri…,” ia bicara seperti berondongan mitraliur, tentang topik yang terus terang sangat tidak menarik perhatianku.

Itulah Ros. Sejak berpisah dengan suaminya, dia menjadi sangat sibuk dengan kegiatan gereja, melakukan pelayanan rohani, ceramah dengan topik seperti disinggungnya tadi (yang tampaknya didasarkan pengalaman pribadi, bagaimana sebagai orangtua tunggal dia membesarkan dua anak), memberi kursus bahasa Inggris pada para mahasiswa sekolah theologia yang tidak sanggup membayar kursus di tempat-tempat kursus resmi, dan lain-lain.

“Nah, dari Efatta nanti aku harus ke desa tempat kami mendirikan taman bacaan untuk anak-anak. Kasihan sekali lho, anak-anak di desa itu. Mereka sama sekali tidak punya fasilitas apa-apa. Kamu mbok kalau punya buku, entah buku apa saja, dikirimkan kesini, disumbangkan kepada mereka. Tempatnya jauh. Aku pulang mungkin agak malam….”

Aku mulai jemu mendengar bicaranya. Nasi kuning di meja lebih menarik perhatianku daripada taman bacaan di desa.

“Ros, anak-anak sepertinya ingin pesta ulang tahun segera dimulai,” aku memotong pembicaraannya.

“Oke, oke, oke… baik. Tuhan memberkati,” katanya.

Kututup telepon.

“Mari kita makan…,” aku berseru di hadapan anak-anak, berlagak seperti bajak laut memimpin perompakan.

Semuanya siap menyerbu.

“Eh, tunggu, berdoa dulu,” sela Vivi.

“Oh, ya… Siapa yang memimpin doa? Kamu Joni. Kamu yang menghadirkan berkah ini,” selorohku pada Joni.

Joni tersenyum.

“Ayo…,” seruku.

“Saya tidak bisa berdoa,” ucap Joni malu-malu.

Entah siapa yang kemudian memimpin doa. Yang jelas, nasi kuning tersebut sangat istimewa, dan anak- anak semua bergembira. Ada beberapa penganan lain lagi setelah itu.

Tuhan memberkati Joni…

Seusai makan, aku merasa sangat ngantuk. Ada tetesan air. Hujan agaknya akan segera turun. Kesejukan udara inikah yang menstimulasi kantuk? Atau mungkin karena tadi aku bangun terlalu pagi, untuk penerbangan yang sangat awal?

“Om ingin tidur, kalian jangan terlalu ribut,” ujarku kepada anak- anak. Aku masuk kamar dan menutup pintu.

RUMAH ini dipimpin Joni. Kubayangkan betapa repot kalau tidak ada dia. Mataku terasa semakin berat, sementara di luar terdengar berisiknya keponakanku dan teman- teman kecilnya-entah melakukan apa mereka.

Rasanya belum terlalu lama aku terlelap ketika aku dikejutkan oleh ketukan di pintu kamar yang cukup keras. Aku mendengar suara keponakanku berseru-seru membangunkanku. Apa yang terjadi?

“Om, bangun, bangun… Mas Joni sakit….”

Aku meloncat dari tempat tidur dan membuka pintu. Wida berada di depan pintu dengan wajah cemas. “Mas Joni sakit…” katanya.

“Di mana?”

“Di depan.”

Kudapati Joni tengah duduk di kursi di teras, bersama Vivi yang kebingungan. Tak jelas bagiku, apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa Jon?”

Joni mencoba menjawab, tapi tampaknya membuka bibir pun dia kesulitan. Kulihat bibirnya bahkan agak miring. Dari matanya, kulihat dia juga berada dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.

“Ada apa?” tanyaku lagi.

Ia mencoba bangkit dari kursi, tetapi tiba-tiba hampir saja dia jatuh. Dengan cepat aku memegangnya. Tubuhnya sangat dingin. Tangan kanannya, kaki kanannya, bibir, dan sorot mata itu….

“Ya Tuhan,” seruku dalam hati. “Mungkinkah stroke…”

“Di mana rumah sakit terdekat?” tanyaku kepada Vivi.

“Maranatha, tidak jauh dari sini…,” jawab Vivi.

“Kalian semua siap-siap. Kita bawa Mas Joni ke Maranatha. Kamu Vivi, menunjukkan jalan. Om yang nyetir.”

Kuangkat Joni ke dalam mobil. Ia duduk di belakang, ditemani si kecil Wida. Duduk di jok depan, di sebelahku, Vivi terus sibuk memencet- mencet handphone, untuk coba menghubungi mama-nya, Ros, kakak perempuanku.

“Tidak bisa Om, handphone Mama tidak aktif,” katanya. “Mungkin Mama sedang ceramah, atau melakukan pelayanan….”

SULIT rasanya memercayai kejadian ini. Betapa tak terduga kehidupan. Beberapa saat lalu aku melihat Joni yang sehat, cenderung perkasa. Tiba-tiba, ia tergeletak tak berdaya seperti ini. Di ruang gawat darurat Rumah Sakit Maranatha beberapa selang segera ditancapkan ke Joni, setelah sebelumnya aku mengisi berbagai formulir, termasuk menandatangani beberapa persetujuan untuk tindakan medis yang akan diambil. Apa yang disebut CT Scan Kepala (NK) segera dilakukan. Hasilnya keluar berupa film besar, yang dengan singkat diterangkan oleh dokter padaku apa artinya semua itu.

“Gejala semacam ini umumnya disebabkan dua hal, pendarahan di otak atau penyumbatan,” kata dokter yang bisa kuingat. “Dari foto ini bisa kita lihat. Tidak terjadi pendarahan. Hanya terlihat di situ ada suatu titik yang tampaknya merupakan penyumbatan. Ini bisa dianggap cukup melegakan,” tambah dokter, berusaha menenangkan kepanikanku. “Oke, tindakan pertama saya akan memberikan lovenox injection, itu untuk coba mencairkan sumbatan tadi….”

Aku mengangguk. Ia memang menginformasikan semua tindakan medisnya padaku, sebagai bagian dari pertanggungjawabannya. Ia katakan pula, ia adalah dokter umum, yang beberapa saat lagi akan dibantu oleh dokter khusus untuk kasus ini, seorang neurolog.

“Kasus semacam ini sering terjadi?” aku bertanya.

“Ya, tapi jarang terkena pada mereka yang berusia muda. Berapa umur dia tadi?”

“Dua empat, eh, dua lima….”

Dokter menggeleng-gelengkan kepala. Vivi terus sibuk dengan handphone-nya, namun tak kunjung bisa berkomunikasi dengan mamanya.

NATAL yang penuh kepanikan, tetapi neurolog atau dokter khusus ahli saraf yang beberapa saat kemudian datang, memberi penjelasan padaku secara lebih rinci lagi mengenai keadaan Joni sehingga kami bisa merasa lebih tenang. Tak lama kemudian, Joni dipindahkan dari ruang gawat darurat ke kamar rawat inap biasa. Dalam semua proses itu, aku bersama dua keponakanku terus mendampingi Joni. Dua keponakanku itu kulihat seperti malaikat-malaikat kecil.

Beberapa waktu kemudian pula, Joni juga membuka mata, dalam tatapan yang berbeda dibanding ketika dia di rumah dan kami larikan ke rumah sakit tadi. Meski dengan sangat susah payah, ia mulai bisa berkomunikasi.

Saat itu pula Vivi tergopoh-gopoh mendatangiku, dan menyodorkan handphone-nya. Rupanya Ros telah bisa dihubungi. “Mama ingin bicara…,” kata Vivi.

“Ya Ros…,” kataku.

“Apa yang terjadi? Kenapa dia? Tidak apa-apa? Kamu bisa menangani semuanya? Sudah di rumah sakit, jadi apa hasilnya? Waduh, bagaimana ya, aku sangat sibuk. Ini Natal, kamu tahu kan… aku tidak segera bisa ke situ karena aku masih harus melakukan pelayanan di dua tempat berbeda, jaraknya berjauhan….”

Segera kupotong omongan Ros yang membuat kepalaku mendadak pusing. Kataku, “Ya Ros, kamu selesaikan urusanmu dulu, nanti kita bicara lagi….”

“Nanti kuberi tahu lagi aku di mana. Tuhan memberkati…,” kata Ros sebelum menutup telepon.

Aku kurang peduli.

DI luar, hujan kelihatannya mulai turun. Aku menatap mata Joni, yang balik menatapku, dengan pantulan seperti paduan antara pasrah dan terima kasih. Bahkan matanya kelihatan berkaca-kaca. Aku ingat, di kampungnya, Joni sudah tak punya siapa-siapa. Ayah dan ibunya sudah meninggal. Adik-adiknya tersebar di berbagai tempat, salah satunya ikut Mama di kota asalku.

“Kita sama-sama tidak bisa berdoa Jon, tapi percayalah, Tuhan akan menolong kita. Dia mungkin sudah turun, bersama hujan…” kataku mengajaknya sedikit bercanda.

Mata Joni makin berkaca-kaca. Hujan terdengar semakin deras.

“Nah, ya kan, Tuhan makin deras…,” ujarku lagi melucu.

Kali ini Joni terlihat tersenyum.

Entah di mana Ros. Aku tak berpikir mengenai dia. Ini memang Natal, dan tahu kan, seperti dikatakannya tadi, dia sibuk….

Aku hanya berpikir satu hal: mudah-mudahan Tuhan benar-benar datang bersama hujan, dan Joni cepat sembuh.

Banjarsari, Ciawi, Desember 2004

April 6, 2011 at 12:03 pm Leave a comment

Pelayanan Kudus


AKU mendarat, dan seperti biasa-aku sudah diberi tahu sebelumnya-Joni-lah yang akan menjemputku di airport. Kota tempat tinggal Ros, kakak perempuanku, masih sekitar satu setengah jam dari kota di mana airport ini berada.

“Om…”

KUDENGAR teriakan anak perempuan. Aku menoleh. Dua keponakan perempuanku-alasan utama aku selalu datang ke sini-menghambur ke arahku. Ini hari istimewa, terutama bagi si kecil, Wida (kelas V SD), yang hari ini berulang tahun. Dia berlari-lari ke arahku, diikuti kakaknya, Vivi (kelas II SMP), yang setahun tak kulihat, dalam pandanganku sekarang terlihat begitu cepat besar dan manis. Di belakang keduanya, ada Joni yang senyum-senyum-satu ekspresi paling khas pada dirinya.

“Kalian tidak sekolah?” tanyaku.

“Kan libur, Natal…,” jawab Wida sambil menggeleyot manja. Si adik ini memang selalu begitu.

“Om dulu kalau Natal tidak libur ya?” sela Vivi. Ini khas ekspresi sang kakak: agak jahil.

Coba kucubit pipinya. Dia menghindar sambil tersenyum meledek.

Joni mengambil alih bawaanku. Kami berendengan menuju area parkir.

“Kamu apa kabar Jon?”

“Baik.”

Dia kulihat juga bertambah dewasa kalau mengingat pertama ikut Mama di kota kelahiran kami dulu, ia baru lulus SD. Kecil, udik, dan penakut. Bahkan kalau bicara pun, sering bergemetaran. Dia ikut keluarga kami, bersekolah sampai lulus SMA, sebelum kemudian pindah ke kota ini, ikut Ros. Ia kelihatan gagah dan penuh kepercayaan diri sekarang. Kudengar, dia aktif berlatih silat, bahkan kadang sudah bertindak sebagai pelatih.

“Umur kamu sekarang berapa Jon?” tanyaku.

“Dua empat, eh, dua lima,” jawabnya.

“Sudah punya pacar?”

Ia cuma tersenyum.

“Ibu di rumah?” aku bertanya tentang Ros.

“Tidak,” kata Joni. “Pergi, pelayanan…,” tambahnya. Ia selalu berkata satu-satu begitu, dan cenderung tidak bersuara kalau tidak ditanya.

Siang ini cuaca mendung. Udara menjadi agak dingin, sejuk.

NASI kuning dengan sejumlah lauk-pauk termasuk ikan asin yang dibakar-makanan yang menurut hematku terenak di dunia-terhidang di meja. Beberapa anak tetangga teman-teman Wida menunggu di rumah. Satu lagi yang kusukai dari lingkungan kota kecil: kesederhanaan semacam ini.

“Selamat ulang tahun…,” seruku sambil mencium Wida. “Siapa yang membikin nasi kuning luar biasa ini? Mama?” tanyaku.

“Bukan,” jawab Wida. “Mas Joni.”

Aku melirik Joni. “Kamu yang membikin, ya Jon?”

Lagi-lagi ia cuma tersenyum, sembari sibuk menurun-nurunkan dan mengatur barang bawaanku.

“Gila, kamu makin pandai memasak,” aku bicara sambil mencomot tempe yang dipotong kecil-kecil, dimasak dengan bumbu manis-manis pedas. Kepiawaian memasak Mama rupanya Joni yang mewarisinya. Bukan Ros. Aku tahu Ros tidak suka memasak, dan barangkali tidak punya waktu. Apalagi, sejak dia makin sibuk melakukan pelayanan rohani di tahun-tahun belakangan ini.

“Kita akan makan nasi kuning ini bersama Mama?” tanyaku pada anak-anak.

“Mama bilang dia akan pergi seharian. Mama pesan kita-kita saja yang pesta…,” kata Vivi.

Aku mencari penegasan pada Joni.

“Ya, ibu pesan begitu,” ujar Joni.

“Ooh, pelayanan…,”

Tiba-tiba telepon rumah berdering. Vivi mengangkatnya, bercakap-cakap sebentar, sebelum kemudian menyodorkan gagang telepon padaku. “Mama,” ucapnya memberitahuku.

“Hai Ros…,” kataku.

“Ya, kamu baru datang ya? Perjalanan lancar? Di rumah semua sudah siap. Sudah ada nasi kuning segala, dibikin oleh Joni. Kamu makan saja sama anak-anak, tidak usah menunggu aku. Hari ini aku sibuk sekali. Pagi tadi sudah ke gereja, mengurusi persiapan bazar. Lalu aku harus segera lari ke Efatta karena harus ceramah di situ mengenai kesiapan wanita kalau harus hidup sendiri, memimpin keluarga sendiri…,” ia bicara seperti berondongan mitraliur, tentang topik yang terus terang sangat tidak menarik perhatianku.

Itulah Ros. Sejak berpisah dengan suaminya, dia menjadi sangat sibuk dengan kegiatan gereja, melakukan pelayanan rohani, ceramah dengan topik seperti disinggungnya tadi (yang tampaknya didasarkan pengalaman pribadi, bagaimana sebagai orangtua tunggal dia membesarkan dua anak), memberi kursus bahasa Inggris pada para mahasiswa sekolah theologia yang tidak sanggup membayar kursus di tempat-tempat kursus resmi, dan lain-lain.

“Nah, dari Efatta nanti aku harus ke desa tempat kami mendirikan taman bacaan untuk anak-anak. Kasihan sekali lho, anak-anak di desa itu. Mereka sama sekali tidak punya fasilitas apa-apa. Kamu mbok kalau punya buku, entah buku apa saja, dikirimkan kesini, disumbangkan kepada mereka. Tempatnya jauh. Aku pulang mungkin agak malam….”

Aku mulai jemu mendengar bicaranya. Nasi kuning di meja lebih menarik perhatianku daripada taman bacaan di desa.

“Ros, anak-anak sepertinya ingin pesta ulang tahun segera dimulai,” aku memotong pembicaraannya.

“Oke, oke, oke… baik. Tuhan memberkati,” katanya.

Kututup telepon.

“Mari kita makan…,” aku berseru di hadapan anak-anak, berlagak seperti bajak laut memimpin perompakan.

Semuanya siap menyerbu.

“Eh, tunggu, berdoa dulu,” sela Vivi.

“Oh, ya… Siapa yang memimpin doa? Kamu Joni. Kamu yang menghadirkan berkah ini,” selorohku pada Joni.

Joni tersenyum.

“Ayo…,” seruku.

“Saya tidak bisa berdoa,” ucap Joni malu-malu.

Entah siapa yang kemudian memimpin doa. Yang jelas, nasi kuning tersebut sangat istimewa, dan anak- anak semua bergembira. Ada beberapa penganan lain lagi setelah itu.

Tuhan memberkati Joni…

Seusai makan, aku merasa sangat ngantuk. Ada tetesan air. Hujan agaknya akan segera turun. Kesejukan udara inikah yang menstimulasi kantuk? Atau mungkin karena tadi aku bangun terlalu pagi, untuk penerbangan yang sangat awal?

“Om ingin tidur, kalian jangan terlalu ribut,” ujarku kepada anak- anak. Aku masuk kamar dan menutup pintu.

RUMAH ini dipimpin Joni. Kubayangkan betapa repot kalau tidak ada dia. Mataku terasa semakin berat, sementara di luar terdengar berisiknya keponakanku dan teman- teman kecilnya-entah melakukan apa mereka.

Rasanya belum terlalu lama aku terlelap ketika aku dikejutkan oleh ketukan di pintu kamar yang cukup keras. Aku mendengar suara keponakanku berseru-seru membangunkanku. Apa yang terjadi?

“Om, bangun, bangun… Mas Joni sakit….”

Aku meloncat dari tempat tidur dan membuka pintu. Wida berada di depan pintu dengan wajah cemas. “Mas Joni sakit…” katanya.

“Di mana?”

“Di depan.”

Kudapati Joni tengah duduk di kursi di teras, bersama Vivi yang kebingungan. Tak jelas bagiku, apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa Jon?”

Joni mencoba menjawab, tapi tampaknya membuka bibir pun dia kesulitan. Kulihat bibirnya bahkan agak miring. Dari matanya, kulihat dia juga berada dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.

“Ada apa?” tanyaku lagi.

Ia mencoba bangkit dari kursi, tetapi tiba-tiba hampir saja dia jatuh. Dengan cepat aku memegangnya. Tubuhnya sangat dingin. Tangan kanannya, kaki kanannya, bibir, dan sorot mata itu….

“Ya Tuhan,” seruku dalam hati. “Mungkinkah stroke…”

“Di mana rumah sakit terdekat?” tanyaku kepada Vivi.

“Maranatha, tidak jauh dari sini…,” jawab Vivi.

“Kalian semua siap-siap. Kita bawa Mas Joni ke Maranatha. Kamu Vivi, menunjukkan jalan. Om yang nyetir.”

Kuangkat Joni ke dalam mobil. Ia duduk di belakang, ditemani si kecil Wida. Duduk di jok depan, di sebelahku, Vivi terus sibuk memencet- mencet handphone, untuk coba menghubungi mama-nya, Ros, kakak perempuanku.

“Tidak bisa Om, handphone Mama tidak aktif,” katanya. “Mungkin Mama sedang ceramah, atau melakukan pelayanan….”

SULIT rasanya memercayai kejadian ini. Betapa tak terduga kehidupan. Beberapa saat lalu aku melihat Joni yang sehat, cenderung perkasa. Tiba-tiba, ia tergeletak tak berdaya seperti ini. Di ruang gawat darurat Rumah Sakit Maranatha beberapa selang segera ditancapkan ke Joni, setelah sebelumnya aku mengisi berbagai formulir, termasuk menandatangani beberapa persetujuan untuk tindakan medis yang akan diambil. Apa yang disebut CT Scan Kepala (NK) segera dilakukan. Hasilnya keluar berupa film besar, yang dengan singkat diterangkan oleh dokter padaku apa artinya semua itu.

“Gejala semacam ini umumnya disebabkan dua hal, pendarahan di otak atau penyumbatan,” kata dokter yang bisa kuingat. “Dari foto ini bisa kita lihat. Tidak terjadi pendarahan. Hanya terlihat di situ ada suatu titik yang tampaknya merupakan penyumbatan. Ini bisa dianggap cukup melegakan,” tambah dokter, berusaha menenangkan kepanikanku. “Oke, tindakan pertama saya akan memberikan lovenox injection, itu untuk coba mencairkan sumbatan tadi….”

Aku mengangguk. Ia memang menginformasikan semua tindakan medisnya padaku, sebagai bagian dari pertanggungjawabannya. Ia katakan pula, ia adalah dokter umum, yang beberapa saat lagi akan dibantu oleh dokter khusus untuk kasus ini, seorang neurolog.

“Kasus semacam ini sering terjadi?” aku bertanya.

“Ya, tapi jarang terkena pada mereka yang berusia muda. Berapa umur dia tadi?”

“Dua empat, eh, dua lima….”

Dokter menggeleng-gelengkan kepala. Vivi terus sibuk dengan handphone-nya, namun tak kunjung bisa berkomunikasi dengan mamanya.

NATAL yang penuh kepanikan, tetapi neurolog atau dokter khusus ahli saraf yang beberapa saat kemudian datang, memberi penjelasan padaku secara lebih rinci lagi mengenai keadaan Joni sehingga kami bisa merasa lebih tenang. Tak lama kemudian, Joni dipindahkan dari ruang gawat darurat ke kamar rawat inap biasa. Dalam semua proses itu, aku bersama dua keponakanku terus mendampingi Joni. Dua keponakanku itu kulihat seperti malaikat-malaikat kecil.

Beberapa waktu kemudian pula, Joni juga membuka mata, dalam tatapan yang berbeda dibanding ketika dia di rumah dan kami larikan ke rumah sakit tadi. Meski dengan sangat susah payah, ia mulai bisa berkomunikasi.

Saat itu pula Vivi tergopoh-gopoh mendatangiku, dan menyodorkan handphone-nya. Rupanya Ros telah bisa dihubungi. “Mama ingin bicara…,” kata Vivi.

“Ya Ros…,” kataku.

“Apa yang terjadi? Kenapa dia? Tidak apa-apa? Kamu bisa menangani semuanya? Sudah di rumah sakit, jadi apa hasilnya? Waduh, bagaimana ya, aku sangat sibuk. Ini Natal, kamu tahu kan… aku tidak segera bisa ke situ karena aku masih harus melakukan pelayanan di dua tempat berbeda, jaraknya berjauhan….”

Segera kupotong omongan Ros yang membuat kepalaku mendadak pusing. Kataku, “Ya Ros, kamu selesaikan urusanmu dulu, nanti kita bicara lagi….”

“Nanti kuberi tahu lagi aku di mana. Tuhan memberkati…,” kata Ros sebelum menutup telepon.

Aku kurang peduli.

DI luar, hujan kelihatannya mulai turun. Aku menatap mata Joni, yang balik menatapku, dengan pantulan seperti paduan antara pasrah dan terima kasih. Bahkan matanya kelihatan berkaca-kaca. Aku ingat, di kampungnya, Joni sudah tak punya siapa-siapa. Ayah dan ibunya sudah meninggal. Adik-adiknya tersebar di berbagai tempat, salah satunya ikut Mama di kota asalku.

“Kita sama-sama tidak bisa berdoa Jon, tapi percayalah, Tuhan akan menolong kita. Dia mungkin sudah turun, bersama hujan…” kataku mengajaknya sedikit bercanda.

Mata Joni makin berkaca-kaca. Hujan terdengar semakin deras.

“Nah, ya kan, Tuhan makin deras…,” ujarku lagi melucu.

Kali ini Joni terlihat tersenyum.

Entah di mana Ros. Aku tak berpikir mengenai dia. Ini memang Natal, dan tahu kan, seperti dikatakannya tadi, dia sibuk….

Aku hanya berpikir satu hal: mudah-mudahan Tuhan benar-benar datang bersama hujan, dan Joni cepat sembuh.

Banjarsari, Ciawi, Desember 2004

April 6, 2011 at 12:02 pm Leave a comment

Indrakila


Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar, lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya, ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang, mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. Sebagai penulis, dia malah membayangkan produktivitasnya nanti, di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra.

Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. Ini untuk melukiskan, bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit, di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. Di seberang sana, lembah dan gunung-gunung. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya, lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak, ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya), kebiasaan serta irama keseharian mereka, sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata, fana.

”Kamu ini psikolog, pendeta, atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi.

”Sudahlah, kamu jawab semua pertanyaanku. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual, bukan teknis,” tukas sang teman.

”Wah, aku lupa, pekerjaanmu urban planner. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek, ha-ha-ha…,” sahutnya berseloroh.

Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu. Sang sahabat garuk-garuk kepala. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi,” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. ”Aku memang belum pernah membangun rumah. Kali ini aku mau, karena ini rumah wong edan…,” tambahnya getas.

Ketika hari pensiun tiba, teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta.

”Masih cantik ya…,” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan. Terus terang, ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu.

Dia disuruh pidato, menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. Beberapa teman ada yang mengusap air mata. Pimpinan perusahaan, orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut, mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”.

Begitulah, sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri, untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri, terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa.

Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi. Terasalah, waktu tidak seluas dibayangkannya. Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa. Setelah itu sore tiba. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain, dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung.

”Kalau ingin menulis, ya mustinya bangun pagi,” komentar istrinya.

Dia cuma tertawa. ”Benar juga,” ujarnya dalam hati.

Pertama berat, tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri. Ia mulai bangun saat subuh, sebelum matahari terbit.

”Kenapa bangun sepagi itu, Pa?” tanyanya. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, bersih-bersih, merapikan barang-barang, dan lain-lain. ”Ooh, barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan,” pikir sang istri.

Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman, memangkas dan merapikan daun-daun bambu, menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan, sesekali merawat dengan memberinya pupuk, memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman, sampai-sampai, dia seolah seperti landscaper. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. Dia lebih tertarik pada tanaman. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman, gardening, lanscaping, space planning, dan semacamnya.

Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga, orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani.

”Mas Daru kini jadi petani lho…,” celoteh orang di kantor.

”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya. ”Apa dia bisa pegang cangkul?”

”Hu… kalian tidak tahu. Coba tanya beberapa teman. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong. Waktu saya ke sana, kebun singkongnya itu sudah seperti hutan. Katanya dia sampai diprotes tetangga, takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling….”

Begitulah kehidupan pensiunan ini. Dia menjadi petani. Soal menulis, jangan-jangan dia bahkan sudah lupa….

Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan, selalu terjadi pada para pensiunan. Hanya saja, ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi, kaget juga banyak orang). Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong.

Ia dilarikan ke rumah sakit. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan.

”Stroke ya?”

”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?”

”Stres karena pensiun, kali….”

Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya. Sang istri percaya, tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa, dari berbagai penjelasan dokter, si istri ini percaya suaminya akan segera pulih. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya. Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. Akan tetapi, ia percaya, kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki.

Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali, melihat kemajuan suaminya. Ia merasa benar dengan feeling-nya. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. Bukan hanya stretching, tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya. ”Liong bun…,” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga….”

Perkembangan berikutnya lagi, sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya, dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit. Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian, dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi, berada di ruang kerja menghadap komputer. Dia baru menyadari, bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya, langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung.

”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya.

Sang suami diam, duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan.

Di balik gunung ada gunung, di balik cakrawala ada cakrawala….

Si istri kaget. Suaminya telah pulih kembali. Itu tadi ucapan suaminya, penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam.

Didekatinya suaminya dari belakang. Ia ingin menguji memori suaminya.

”Itu gunung apa Bib…,” tanyanya, dengan menggunakan nama panggilan suaminya, semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu.

”Indrakila!” jawabnya.

Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama. Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango.

”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila. Semua saudaranya tumbang di jalan. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan, diiringi anjing kita, Patman…,” suaminya melanjutkan kata-katanya.

Ah, realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali. Wanita ini tersenyum. Itu Gunung Gede-Pangrango, bukan Gunung Indrakila. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka.

Sang istri kian penasaran.

”Kita sekarang berada di mana?”

”Mertasari!”

Tersenyum sang istri. Dia tahu, suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari, bukan Mertasari.

”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik, di pinggir kolam.

Si suami diam sesaat, sebelum berucap, ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam. Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri, tentang asal-usulnya, tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita….”

Terhenyaklah sang istri. Itu peristiwa puluhan tahun lalu, pertemuan mereka, episode-episode manis yang pernah mereka lewati.

Mata sang istri menjadi berkaca-kaca. Dia peluk suaminya dari belakang.

”Bibib telah benar-benar sehat, siap menulis lagi…,” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya.

Langit semburat merah. Pagi benar-benar datang.

Ciawi Junction, 2005

April 6, 2011 at 11:58 am Leave a comment

Ciawi Junction


WAKTU seperti berhenti di perempatan kota kawedanan ini. Oh ya, bagi yang kurang paham, kawedanan adalah daerah administratif di bawah pimpinan seorang asisten residen, yang padanannya kini meski kurang tepat kira-kira seperti kecamatan. Seorang wanita menunggu pemenuhan janji cinta di perempatan yang membeku serupa potret tua hitam putih, potret yang dalam keusangannya selalu menampilkan masa lalu yang tak pernah mati sampai kini dan bahkan sampai selamanya nanti.

“Aku tahu, kau selalu mengingat tempat ini dan akan kembali ke sini nanti,” kata wanita itu di depan gedung bioskop yang bangunannya tak kalah tua dibanding impiannya. Waktu boleh membuat semua hal melepuh, namun tidak untuk bayang-bayang mimpi. Seperti misteri citra yang terpantul di layar bioskop, dunia bayang-bayang memiliki roh kehidupan sendiri yang mengatasi keadaan sekelilingnya yang melapuk oleh waktu. Kegairahan adegan ranjang layar bioskop tak pernah surut meski kenyataannya pemainnya telah jompo dan loyo.

Bagi wanita ini dunia tidak berubah. Lagu Portrait of My Love berikut tiruannya dalam bahasa Indonesia Potretmu tetap berdengung dalam kesenduan yang sama. “Orang bilang aku bermimpi. Tidakkah mereka tahu, bahwa kita terus berhubungan, membangun simpul kehidupan yang berpusat di perempatan ini, dengan gedung bioskop yang sangat kita cintai ini….”

Perempatan yang mencoba bertahan. Dalam beberapa hal sebenarnya memang tak banyak yang berubah dari perempatan milik wanita tersebut. Seperti saya singgung tadi: semuanya hanya dalam proses pelapukan dan menjadi usang. Di situ tetap ada toko kue yang menjual kue kelapa, apotek dengan nama tetap sama, yakni Intrafarm, sampai ke warung ronde di lorong menuju gedung bioskop yang bangku-bangkunya pun barangkali masih yang dulu. Gunung di latar belakang kota juga tidak ke mana-mana, selain hembusan hawa dingin dan kabutnya yang kini menghilang dikarenakan pemanasan bumi dan barangkali juga makin banyaknya manusia.

“Mereka tidak tahu, kamu tetap di sini, bersamaku….”

Tengah bermimpi di siang bolongkah wanita ini?

***

SEMUA perempatan dari Charring Cross, Time Square, Scotts Road sampai Ciawi memendam sihir yang bisa memenjarakan jiwa. Dulu di Charring Cross mereka saling tunggu, sebelum kemudian berjalan bersama-sama menyusuri Oxford Road yang gemerlapan.

“Yang kusukai dari musim gugur adalah angin yang hembusannya tak tentu arah, membawa suara datang dan pergi,” kata lelaki itu kepada wanita lawan bicaranya. Mereka duduk-duduk di bangku taman persimpangan Leicester Square setelah kaki agak pegal karena jalan kaki yang cukup jauh. Daun-daun yang melayang kelihatan bertambah warna kuningnya dikarenakan cahaya lampu mercury.

“Ya, seperti suara musik pengamen itu,” si wanita menyetujui.

Di trotoar di depan toko khusus yang menjual barang-barang dari Swiss memang terlihat ada pengamen, lelaki berambut panjang, berjaket blue jeans, menyanyikan lagu-lagu Don McLean. Dari penampilannya bisa dipastikan ia sisa laskar tahun 1970-an.

“Tahukah kamu lagu yang bertiup sayup-sayup itu?” tanya si lelaki.

“Starry starry night…,” jawab si wanita.

“Ha-ha, banyak orang menyebutnya demikian, judul sebenarnya Vincent. Itu adalah penghormatan untuk pelukis Vincent Van Gough untuk karyanya Starry Night. Malam yang berbintang seperti ini.”

Keduanya menatap langit, melihat bintang-bintang. Langit cerah di musim gugur.

“Melihat langit biru berbintang ini pun akan susah kalau kita pulang nanti,” kata wanita itu.

“Nanti kita cari tempat yang masih memungkinkan kita untuk melihat langit yang masih membiru, bukan yang tersaput kabut polusi,” kata lelaki itu setengah berkhayal.

“Kamu berpikir untuk kembali ke kota kecilmu?”

Lelaki itu tersenyum. “Tidak,” katanya. “Adakah sebuah tempat, di mana kita akan bisa menghirup udara gunung, namun tidak menjauhkan kita dari mesin espresso….”

Keduanya tertawa. Petang yang penuh khayal. Angin berhembus kian dingin.

“Kita menyeberang ke kafe itu…,” ajak si wanita.

Mereka bangkit, dan berjalan berpelukan.

***

BANYAK orang hidup dalam kenangan–atau, adakah seseorang yang hidup tanpa kenangan? Sementara seorang wanita tanpa sadar setia menghidupi dan menunggui kenangannya di perempatan kota seperti saya ceritakan di atas, pasangan lelaki-perempuan di Charring Cross itu pada masa sesudahnya dengan sadar dan sengaja menghidupkan segala sesuatu di masa lalu di sekelilingnya.

Sama-sama lulus dari Architectural Association Graduate School, London–sekolah arsitektur terkemuka di Inggris–dengan segala modal yang ada mereka membangun tempat tinggal di atas bukit berlembah di dekat perempatan kota kecil yang mereka perhitungkan tetap berada dalam jangkauan kehidupan kota metropolitan. “Karena kami tidak bisa jauh-jauh dari mesin espresso…,” ucapan itu sering mereka lontarkan.

Batas ruang mereka bukanlah tembok ataupun kaca dari arsitektur tempat tinggal mereka, melainkan keluasan pandangan berikut kawasan imajinasi yang tertangkap indera. “Ladang bukit lembah gunung itu milik kami….”

Tentu itu hanya canda mereka, menanggapi saudara teman kenalan yang berkunjung ke situ dan mendapati bagaimana sebuah bangunan betul-betul dirancang semata-mata untuk mengonfigurasi pemandangan alam sekelilingnya.

Dari lingkungan desa mereka mendapat pelajaran baru akan tanaman yang katanya mengundang kupu-kupu seperti lamtana, soka, alamanda, bauhemia, dan lain-lain. Mereka integrasikan tanaman bunga-bungaan sampai ke hibiscus dan bunga sepatu dengan berbagai variasinya, yang ternyata memunculkan sesuatu tak terduga. Bukan hanya kupu-kupu yang singgah tetapi juga berbagai jenis belalang, burung, dan entah makhluk apa lagi terutama serangga yang modelnya begitu bermacam-macam. Mereka kebanyakan masuk rumah karena tersesat–termanipulasi oleh dinding-dinding kaca. Sambil menyelamatkan makhluk-makhluk yang tersesat ke dalam rumah itulah mereka makin mengenali berbagai jenis makhluk hidup tadi.

Di antara berbagai hal, yang menjadi favorit lelaki ini adalah perempatan di sekitar situ. “Yang kusukai dan kusukuri, semua yang hidup dalam kenanganku seperti berpindah ke sini?,” katanya. “Kabut, hawa dingin….”

“Dan Charring Cross…,” timpa si wanita, teman hidupnya.

“Perempatan itu bisa Charring Cross, bisa Tuxedo Junction…,” kata lelaki itu menyebut suatu tempat yang dulu mereka suka berkencan. “Tetapi juga bisa berarti perempatan di kota kecilku dulu, dengan penanda kota berupa gedung bioskop bergaya art deco, yang seluruh anak muda kota pernah berpacaran di dalamnya,” lanjutnya.

“Termasuk kamu?”

“Ya, cinta monyet remaja, dengan anak pemilik toko di dekat situ. Namanya Li Hwa, wajahnya ketika dewasa sekarang pastilah seperti Lin Ching-hsia…,” dia berseloroh menyebut nama bintang film Taiwan kesukaannya, yang film kekanak-kanakannya, Semi-Gods and Semi-Devils ia tonton berkali-kali. Ya, Li Hwa boleh jadi sekarang secantik Lin Ching-hsia….

***

HANYA saja, ah, banyak wanita yang sebenarnya cuma cantik dalam kenangan kita. Kadang kita kecewa belaka, mendapati teman lama telah berubah tidak seperti dalam bayangan kita.

Selain itu, ada yang kurang diketahui lelaki ini, yakni mengenai makna kenangan bagi orang per orang. Hidupnya bergulir dari satu tempat ke tempat lain, baik dikarenakan sekolah maupun pekerjaan serta beberapa hal di luar itu. Ia membangun mimpinya sendiri, menjadikan gunung-gunung dan lembah di sekelilingnya sebagai fiksi yang seolah sesuatu yang otentik, nyata, atau dalam istilah intelektual yang menjadi bagian kehidupannya disebut sebagai “hiper-realitas”. Perempatan di dekat situ yang dalam pandangan orang lain boleh jadi menjengkelkan karena banyaknya angkutan kota alias angkot yang ngetem menyebabkan kemacetan lalu lintas, berikut pedagang yang menggelar dagangannya menjorok ke jalan, dia percantik dalam narasinya seolah itu Charring Cross atau Tuxedo Junction. Dengan kenangan dan gagasan itulah dia membangun kehidupan sehari-hari dengan wanita teman hidupnya.

Ia tak tahu keadaan sebenarnya dari beberapa hal yang telah ia tambal-sulam menjadi suatu narasi, menjadi sebuah kesadaran: state of mind. Misalnya perempatan kota di masa kecilnya dulu. Tahukah dia, bahwa seorang wanita, yang ia selorohkan sebagai Lin Ching-hsia, masih mengenang dan merindukannya? Atau baiklah, Li Hwa, sungguh tidak seperti Lin Ching-hsia alias Brigitte Lin seperti dibayangkannya. Sehari-hari, Li Hwa menunggui toko peninggalan keluarga, yang keadaannya tak berubah sejak dari dulu kala.

Kini, Li Hwa dan sejumlah pedagang lain di sekitar perempatan itu tengah cemas karena usaha mereka akan digusur. Seluruh kawasan itu akan dibangun menjadi kawasan baru, yang katanya akan lebih modern termasuk dengan pembangunan mal segala.

Kalau pembangunan itu benar-benar dilaksanakan, mereka bakal kehilangan bukan hanya tempat usaha, tetapi juga tonggak kenangan yang menjadi penanda perjalanan hidup kota mereka: gedung bioskop di perempatan kota.

Gedung bioskop mereka bakal dirobohkan. Tanda-tandanya sudah kelihatan. Film sudah tidak diputar lagi. Poster-poster sudah tidak dipasang, meninggalkan papan besar tempat pemasangan poster melompong dan kelihatanlah usang serta lapuknya kayu-kayu tempat memasang poster itu.

Tanpa gedung bioskop itu, apa artinya kota ini? Kehidupan sudah berakhir di perempatan tersebut, sementara di perempatan yang lain lagi, narasi demi narasi terus dilahirkan berdasar fakta yang tak lagi ada.

*** Banjarsari, November 2005

April 6, 2011 at 11:57 am Leave a comment

Kota yang Menyenangkan (Rahasia Putri Kukis)


BOLEHLAH aku menceritakan seorang wanita yang suka bercelana jins dan berkemeja putih, yang kepada beberapa orang, dengan agak berbisik-bisik, barangkali aku pernah menuturkannya secara lisan. Sebelum aku memulai, harap diingat, meski aku menyebut “jins”, aku tak hendak menegaskan bahwa dia suka berpakaian sembarangan. Justru sebaliknya: di mataku dia adalah wanita yang rapi. Hem putih lengan panjangnya terlihat apik sampai ke gulungan lengannya. Sementara celana jins membungkus pinggul dan pahanya yang berisi, yang berikut selop atau sepatu bertumit tingginya mampu menegaskan kesempurnaan anatomi perempuan dalam perspektif masa kini.

Setiap kali pergi keluar rumah, tentulah dia melintasi rumahku. Ia berjalan di gang yang tak terlalu besar ini, menuju jalan besar tempat ia, seperti kami semua penghuni lingkungan ini, akan mencari angkutan. Pagi menjelang siang saat matahari mulai memanas, melihatnya melintas seperti ada desiran angin sejuk, sesuatu yang masih kunikmati di kota ini. Demikian pula kalau dia melintas pada sore hari. Suasana yang ditimbulkan lain lagi, yakni kesegaran senja.

Ah…

Tentu saja, setiap kali berpapasan kami akan bertukar senyum, anggukan kepala, atau istilah ke-Belanda-belanda-annya groeten. Tak lebih dari itu. Entah bagaimana, bertetangga lagi di kota dengan lingkungan yang telah banyak berubah ini (termasuk perubahanku sendiri, ketika kini aku telah berkeluarga), tanpa pernah berucap kami masing-masing tiba-tiba mampu membatasi diri untuk berkomunikasi seminimal mungkin. Sebatas anggukan atau senyum tadi kalau kebetulan kami berpapasan, meski di kepalaku, dan tentulah di kepalanya pula, sebetulnya tersimpan pengalaman, yang kami berdua rupanya sama-sama tahu untuk menyimpannya bagi diri sendiri saja.

Oleh karenanya, pertama-tama aku harus meminta maaf padanya, kalau aku tak bisa menahan diri untuk menulis cerita ini, yang kuproyeksikan untuk dimuat di suatu koran. Susah sekali bagiku sebagai seorang penulis untuk menahan diri dari dorongan untuk menuliskan sesuatu yang hidup dalam diriku. Betapapun, aku berusaha membuat rambu-rambu sebegitu rupa, baik menyangkut gambaran lingkungan dalam cerita ini sampai ke nama tokoh, yang semua kusamarkan, agar tidak terlalu berasosiasi padanya dan merugikannya.

***

AKU ingin mengembalikan dia pada masa remaja dulu. Ingatanku tentang dia jauh pada masa lalu itu berpilin-pilin dengan hiruk-pikuk kehidupan remaja di kota ini, terutama untuk diriku pribadi dengan kelompok bandku: Armagedon. (Menggelikan juga kalau kucoba mengingat-ingatnya kembali. Cara bermusik kami sangat sembarangan. Meniru-niru band-band dari kota besar ataupun luar negeri yang kami dapati informasinya dari majalah, dan pokoknya bermain asal keras. Kadang gitarku pada nada dasar C, tetapi Bambang, temanku yang menjadi vokalis, berteriak pada nada G. Itu pun sudah membuat penonton bertepuk tangan…).

Tempat berkumpul dan latihan band kami, rumah Bambang, si vokalis yang kusinggung tadi, tak pernah sepi dari cewek-cewek terpopuler di kota. Menyangkut kenangan tentang wanita yang kuceritakan ini, aku masih ingat kejadian suatu malam, ketika aku datang ke tempat berkumpul anak-anak itu, sedianya untuk latihan band.

Bambang kulihat duduk sambil merokok. Begitu pula Titot dan Ris. Dua nama terakhir itu adalah pemain bas dan keyboard.

“Di mana Yongki?” tanyaku menanyakan satu teman kami lagi, penabuh drum.

“Settt…” Bambang memberi isyarat agar aku tidak ribut.

“Ada apa?” tanyaku pelan.

Ia menunjuk pintu kamar di pavilion tempat kami biasa latihan. Titot dan Ris senyum-senyum.

“Kenapa dia?” bisikku mencoba meyakinkan, meski sudah menebak apa yang tengah berlangsung.

“Kami bawa cewek…”

“Ooh…siapa?” aku penasaran.

“Kukis…,” jawabnya.

“Ooh…”

Dia rupanya yang dimaksud. Kami semua menjuluki cewek itu sebagai “Kukis”, karena keluarganya pembuat atau penjual kukis (kukis adalah kue yang terbuat dari gandum. Di daerah lain kue ini biasanya disebut pukis, tetapi di kota kami orang menyebutnya kukis).

“Kalau kamu mau, nanti setelah Yongki keluar,” ucap Bambang mengatur giliran.

Di otakku segera terbayang apa yang tengah terjadi di dalam kamar. Termasuk bayangan Si Kukis, cewek dengan tubuh padat dan warna kulit terang. Bagaimana keadaan cewek yang suka bercelana jins dan berbaju putih itu saat ini, di balik pintu tertutup itu? Aku menelan ludah.

Dari berbagai mozaik kenangan pada masa remaja, pengalaman itu salah satu yang masih bisa kuingat dengan jelas. Aku bisa mengingat, bagaimana ketika aku masuk kamar, kudapati dia yang telah ditinggalkan Yongki, tengkurap di ranjang tanpa selembar kain pun menutupi. Dia acuh saja ada orang lain lagi masuk kamar.

Aku duduk di kursi di samping tempat tidur. Dari balik rambutnya yang acak-acakan ia melirikku. Ia tersenyum. Tangannya bergerak, diletakkan di atas pahaku.

Kuakui ceritera ini agak dekaden. Namun memang begitulah kenyataannya. Aku saat itu agak gemetaran, ragu, dan canggung. Hanya, keraguan dan kecanggungan itu perlahan-lahan menghilang oleh reaksi dia yang luar biasa berani dan menantang. Ia sangat berpengalaman. Aku dibuatnya “KO” dalam sekejap…

***

BEGITULAH, seperti mungkin Anda alami, banyak hal tak terduga terjadi dalam hidup kita. Babak berikut ini, yang kelihatannya aku cuma mengarang-ngarang, sungguh-sungguh terjadi. Selepas masa remaja, aku bekerja di Jakarta. Dari bujangan sampai kemudian punya istri dan dua anak, aku pindah pekerjaan beberapa kali, sampai akhirnya aku bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di usaha perkebunan. Secara tak terduga aku bertemu lagi dengannya. Sungguh di luar bayanganku, di sebuah kota kecil di Kalimantan Timur yang kurasakan sebagai daerah “antah berantah”, aku bertemu dia.

Di hotel terbagus di kota itu, yang dari kondisinya sebetulnya lebih tepat disebut losmen, aku saat itu tengah di depan petugas penerimaan tamu. Sementara aku mendaftarkan diri di resepsionis itu, tiba-tiba ada wanita masuk. Dia tak bisa disebut muda lagi. Tubuhnya sintal, dengan jins dan baju putih.

Rasanya aku mengenalnya…

“Hah, diakah?” aku terhenyak.

Ia terus melangkah.

“Siapa dia?” tanyaku pada resepsionis.

Resepsionis, seorang lelaki muda, senyum-senyum.

“Namanya Linda…,” ucapnya sembari menahan senyum.

“Tak salah lagi, pasti dia…,” pikirku.

Aku mengejarnya.

“Shio Lin…” teriakku.

Dia berhenti.

“Siapa?” dia mendekatiku dengan tatapan penuh ingin tahu.

“Ooh maaf, maaf, saya salah. Saya kira tadi teman saya…,” aku berkilah.

“Ah tidak, kamu benar-benar memanggilku…,” ia menyelidikiku.

“Tidak, saya salah. Maaf. Nama Anda Linda kan ternyata…”

Dia tahu kalau aku tengah mempermainkannya.

“Ayo, kamu ini siapa?” desaknya sembari memukul lenganku.

Aku tertawa. Tak tega mempermainkannya lebih lama.

“Dwi, Armagedon,” ucapku sembari tak lupa menyebut nama kota kecil kami dulu.

“Hah…” dia terpekik. Ia menubrukku. “Ya ampun, kamu jadi kayak gini…” ucapnya sambil melihatku dari atas ke bawah. “Jadi gemuk begini….”

Jelas banyak yang berubah pada diriku. Aku memang menjadi gemuk, tidak seperti masa lalu, kurus, rambut panjang melebihi bahu.

“Ada apa kamu di sini?” tanyanya.

“Kerja. Nanti kuceritakan kalau ada waktu,” jawabku.

Dengan setengah mengancam dia menyatakan, kami berdua harus bertemu. Ia hendak ada “urusan” dulu, tetapi dia benar-benar pengin ketemu aku.

Mengharukan juga pertemuan tak terduga ini. Setelah itu, tiga hari di daerah perbatasan tersebut aku benar-benar bersamanya. Selain melakukan tugasku sebagai ahli bagian akuisisi bagi perusahaanku, aku ke situ untuk mengakuisisi sebuah perkebunan kelapa sawit, bersama Shio Lin, Putri Kukis, yang di situ bernama Linda, aku juga mengakuisisi masa laluku…

***

TAHUN 2005. Karena pertimbangan menyangkut pekerjaan dan terutama kesehatanku, aku dan istri memutuskan untuk mengakhiri tinggal di Jakarta. Ia tak berkeberatan, atau bahkan setengahnya mendorong, agar kami kembali ke kota kelahiranku saja, hidup seadanya, yang penting tenang dan bahagia. Kenyataannya memang demikian, setelah dijalani, hidup ini menggelinding begitu saja, seperti tak ada yang kurang.

Dua anakku sudah besar-besar, keduanya kuliah di kota lain. Praktis, hanya aku dan istriku yang kini tinggal di rumah orang tuaku dulu, di kampung di tengah kota ini. Yang tidak kuduga, ternyata sekarang Putri Kukis juga tinggal di kampung ini, tidak di rumahnya yang dulu tempat keluarganya berjualan kukis di Jalan Ksatrian. Ia menikah dengan tetangga lamaku yang rumahnya agak masuk lagi ke dalam itu, yang sekarang menjadi pegawai Pemda.

Kotaku sudah tentu banyak berubah. Hanya saja, kenyataan sebetulnya adalah apa yang terekam dalam memori kita, bukannya yang tertangkap oleh mata atau indra kita lainnya. Bagiku, pasar lama itu masih sama menyenangkannya seperti dulu. Alun-alun juga kurasakan tetap seperti dulu. Setiap pagi, aku suka berjalan-jalan mengelilinginya. Satu-satunya yang paling konyol menurut anggapan istriku, aku kadang-kadang masih datang ke bioskop Rex, satu-satunya gedung bioskop di kota ini yang sudah ada sejak aku kecil. Dalam pandangan orang lain, gedung bioskop ini pasti butut luar biasa, begitu pula film yang diputarnya, film-film lawas, belakangan bahkan melulu film-film seks. Toh bagiku, bioskop ini seperti tetap menyimpan pesona seperti pada masa lalu…

Yang juga kupandang tidak berubah adalah Putri Kukis, Shio Lin, Linda… Di mataku ia tetap seperti dulu, apalagi pakaian favoritnya tampaknya juga tak berubah: jins dan kemeja putih yang rapi. Dari balik tirai rumah, kadang aku tersenyum sendiri melihat dia melintas.

Jangan salah mengerti, jelas tak terpikir sama sekali di otakku untuk mengulangi permainan masa lalu. Gila apa! Begitu pun menurutku dia. Semuanya telah menjadi sejarah, yang memperindah kehidupan kami di kota yang menyenangkan ini. ***

Ciawi Junction, 2006

April 6, 2011 at 11:53 am Leave a comment

Doa Natal


Natal akan segera tiba. Dada kami berbuncah-buncah dipenuhi kegembiraan. Pada Natal nanti, kakakku yang tinggal di Jakarta beserta istri, anak-anak, bahkan Mama yang tinggal di Bogor akan datang mengunjungi kami. Mereka akan natalan di sini.

“Mereka akan tinggal di sini?” tanya Pur, istriku.

“Ya pasti tidak, mereka akan tinggal di Indraprasta,” kataku menyebut nama hotel berbintang di ibu kota kabupaten.

“Ooo?,” sambut Pur. Ia agak kecewa, tetapi kekecewaan itu sangat kecil, tak ada artinya dibanding kegembiraan, karena kesempatan bisa berkumpul bersama seluruh keluarga untuk bernatalan. Lebih istimewa lagi, itu akan berlangsung di sini, di rumah kami di pelosok.

Sangat jarang kakakku?kami hanya dua bersaudara, laki-laki semua?mengunjungi kami. Ia memang sibuk. Dulu ia kemari, ketika mampir karena ada tugas. Istri dan anak-anaknya belum pernah diajak kemari. Kami maklum, tempat tinggal kami terlalu di pelosok, daerah yang dulu dirintis transmigran.

“Tapi nanti mereka akan tetap ke gereja sini, kan?” Pur bertanya penuh harap.

“Tentu, rencananya begitu. Idenya memang dia sekaligus ingin mengenalkan istri dan anak-anaknya pada kehidupan di desa seperti kita. Ia ingin membawa mereka pada pengalaman, natalan di gereja kecil di daerah pelosok seperti sering aku ceritakan padanya. Mungkin nanti setelah dari gereja, kita siapkan makan pagi di rumah kita. Kita masak ala kampung, pasti mereka senang.”

Begitulah memang kehidupan kami. Yang masih sering datang mengunjungi kami adalah teman-teman berteater di kota tempat aku kuliah dulu. Terdamparnya aku di daerah pedalaman ini juga karena berteater itu. Pada waktu itu, ketika situasi politik makin sulit, oleh “suhu” diputuskan, kegiatan kesenian tidak harus di panggung. Berkesenian adalah mengolah kehidupan. Para anggota pun kemudian berpencar. Aku bersama sejumlah teman menuju pulau ini, masuk ke pedalaman yang sebelumnya pernah dirintis oleh para transmigran dari Jawa, dan mulai belajar ikut bertani di situ.

Pada perkembangannya, tak semua dari kami terus tinggal di sini. Dengan alasan masing-masing, teman-teman satu per satu mulai cabut, pulang kembali ke Jawa. Beberapa di antaranya tetap berkesenian, bahkan ada yang kulihat sering muncul di sinetron televisi.

Itulah perjalanan anak-anak teater ini. Aku sendiri tetap bertahan di sini. Mungkin karena alasan, bahwa kemudian aku mengawini wanita setempat, ya si Pur ini. Kalau kurefleksikan hidupku, aku mendapatkan apa yang kumau di sini. Apa yang kumau itu? Otoritas individu! Aku hidup sebagai manusia merdeka, punya otonomi atas diri sendiri. Pur, meski hanya lulusan SD, bisa mengimbangi hidupku. Aku ajak dia mengolah kehidupan. Ia bisa berjualan apa saja, termasuk membikin jajanan yang dijual di sekolah tak jauh dari rumah kami. Aku sendiri membuka taman bacaan di rumah. Selain sesekali melatih teater atau bahkan silat di rumah yang setengahnya kujadikan sanggar, aku juga mengajar ekstrakurikuler kesenian di beberapa sekolah di kabupaten.

Setiap kali ke daerah ini, teman-teman pasti mampir. Mereka itu, selain yang sudah jadi pemain sinetron seperti kuceritakan di atas, ada yang jadi wartawan dari koran terkemuka, jadi dosen, bekerja di perusahaan periklanan asing menjadi creative director, menjadi pengusaha kafe, dan lain-lain. Akan kelihatan kegembiraan dan kebanggaan Pur, kalau teman-teman yang kusebut itu datang. Tak jarang mereka menginap di tempat kami.

Sekarang, kami menantikan sebuah hari yang benar-benar besar: Natal, kakak sekeluarga, dan Mama.

***

Dua hari sebelum Natal, mereka benar-benar tiba. Sebelum mereka sampai rumah, beberapa tetangga sudah ada yang berlari-lari ke rumah kami, memberi tahu ada mobil bagus datang. Aku tertawa. Beginilah kampung kami.

Aku dan Pur keluar rumah. Mobil kakakku datang, berjalan pelan, diikuti anak-anak kecil yang berlari-lari kecil dengan tawa gembira. Kaca mobil dibuka. Kelihatan kepala anak-anak kakakku menyembul keluar, barangkali keheranan melihat anak-anak yang berlari-lari mengejar mobil.

Kakakku yang pertama turun. Kami berpelukan hangat. Kemudian Mama. Dia menciumiku, sebelum memeluk dan menciumi Pur. Aku tahu, dia sangat mencintai Pur. Pipi Pur dicubitnya.

“Aduh, cantiknya?,” ucap Mama. “Kulit kamu juga bagus, sampai seperti pualam,” lanjut Mama sambil mengamati Pur dari atas sampai bawah, mengomentari kulit Pur yang putih (terus terang, kulit Pur yang bersih, berikut perawakannya yang bahenol itulah yang memikatku, yang juga terus-terusan membangkitkan birahiku?).

Pur tertawa senang. Senyumnya mengembang, menampakkan lesung di kedua sudut bibirnya.

“Lihat, cantiknya dia?,” kata Mama kepada Liza, istri kakakku. “Udara bersih membikin kalian sehat,” lanjutnya.

Liza mendekat, menyalami dan mencium Pur.

Beberapa tetangga yang ikut merubung aku kenalkan satu per satu, sebelum kami masuk rumah.

“Dulu rencananya kami akan natalan di Singapura?,” kata Liza ketika kami sudah duduk-duduk di dalam rumah.

Aku tertawa. “Kalau ke Singapura kan sudah sering, yang begini kan jarang ya Tya?,” sambutku sembari mendekap keponakanku, anak mereka yang paling kecil, Natya. “Tya sekarang kelas berapa? Nol besar ya?”

“Dia juara lomba piano,” iparku Liza memotong. “Harusnya dia mempersiapkan diri untuk lomba tingkat nasional, tapi apa boleh buat, harus ikut kemari?.”

“Waduh hebat. Kalau saja Paklik punya piano bisa latihan di sini?,” kataku melucu, membuat Mama, kakakku, Pur, semua tertawa. Mana mungkin ada piano di pelosok Bandarjo ini?. Mereka juga suka, dengan panggilan Paklik-Bulik untuk diriku dan Pur ini, yang dulu dimulai untuk lucu- lucuan?sebelumnya mereka hendak memanggil Oom dan Tante?dan kemudian menjadi sebutan tetap untuk kami berdua. “Lain kali mainkan untuk Bulik Pur, Bach, biar Bulik tidak hanya mengenal Didi Kempot?,” lanjutku disambut tawa makin ramai.

Kehangatan sore itu tak berlangsung lama.

“Pa, kita harus segera kembali ke hotel. Bukankah nanti Mathias teman Papa itu dan istrinya akan datang?,” Liza mengingatkan kakakku.

“Ya, tapi masih nanti malam?,” jawab kakakku.

“Tapi anak-anak kan harus mandi segala dulu. Kita akan makan malam bersama mereka kan?,” kata Liza.

Mama sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama, tapi aku tidak punya kendaraan untuk bisa menyusulkan Mama ke hotel nanti malam. Akhirnya mereka semua kembali ke hotel. Aku, Pur, beberapa tetangga, mengiringkan sampai mobil bergerak meninggalkan kami.

***

Di malam Natal Pur sibuk di dapur. Ia menyiapkan menu andalannya: ayam bumbu rujak. Ayamnya ayam kampung, dengan kelapa yang sangat tua yang sudah disiapkan berhari-hari. Sebelum ini, dia telah menyiapkan rempeyek kacang?andalannya yang lain. Aku gembira menemaninya di dapur sembari menyetel lagu-lagu Natal yang dibawakan dengan orkestra gamelan.

“Cocok kan, habis dari gereja, makan dengan ayam bumbu rujak dan rempeyek,” celoteh Pur. “Sengaja kubuat tidak terlalu pedas, biar cocok dengan perut Jakarta.”

“Kita pakai beras merah kalau masih ada,” usulku.

“Ooh masih, dan memang sudah kusiapkan.”

Kami juga menyiapkan piring-piring dan cangkir-cangkir keramik yang tidak pernah kami pakai sehari-hari. Piring dan cangkir itu pemberian Adi, seniman keramik sahabat kami dulu.

Pagi hari di gereja usai kebaktian kami bersalam-salaman dengan pendeta, anggota-anggota majelis, serta para jemaat. Kami sekeluarga?maksudku kakakku sekeluarga?menjadi perhatian para jemaat. Penampilan orang Jakarta rupanya lain, dibanding dengan kami di pelosok.

“Kita segera kembali ke hotel?,” Liza tiba-tiba menyelak. “Lama-lama panas nih?,” ucapnya.

Kulihat Mama menoleh seketika.

“Loh, kita ke rumah Pur dulu. Pur sudah menyiapkan makan,” kata Mama.

Kami segera meninggalkan halaman gereja menuju rumah. Para jemaat berjalan berendeng-rendeng gembira. Aku dan Pur biasanya seperti mereka. Kali ini, aku dan Pur ikut menumpang mobil kakakku?model minibus yang kuakui nyaman dan mewah.

Tiba di rumah segera Pur menyiapkan makan pagi yang sudah dia persiapkan sejak tadi malam. Aku membantunya biar cepat, karena iparku Liza kelihatannya sudah tidak betah. Siapa tahu dia ingin segera kembali ke hotel.

Ternyata hampir semuanya tampak menikmati makan pagi ala Pur, ala Bandarjo ini. “Kalau di Jakarta kamu buka restoran seperti ini bisa laris Pur,” komentar Mama. Kakakku sibuk dengan ayam bumbu rujak, dengan setiap saat berucap “hemmm?” untuk menyatakan betapa enak masakannya. Hanya Liza yang kulihat tak terlalu menikmati. Aku berpikir, dia mungkin diet untuk menjaga kelangsingan. Anak-anak tak henti-henti makan rempeyek.

“Habiskan saja, Bulik memang bikin untuk kalian?,” kata Pur tertawa senang.

Liza melirik anak-anaknya.

“Tya, jangan banyak-banyak, nanti kamu batuk!” kata Liza memperingatkan anaknya.

“Ah ya biar, sekali-sekali,” Mama memotong.

“Tapi kan ada acara brunch di hotel nanti?,” kata Liza entah ditujukan kepada siapa.

“Ya, itu nanti, kita makan lagi,” potong kakakku.

“Nanti gantian, Paklik dan Bulik yang kalian traktir di sana,” kataku, karena rencananya kami akan diajak ke hotel siang itu.

Habis makan, kami segera berangkat ke kota, ke hotel tempat kakakku sekeluarga menginap.

***

BRUNCH maksudnya breakfast dan lunch alias makan pagi dan siang digabung jadi satu. Aku menerangkan itu pada Pur. “Atau lebih tepat lagi, makan pagi yang kesiangan?,” tambahku sambil tertawa.

Duduk mengitari meja yang tertata rapi, keponakan-keponakanku semua enggan memesan makanan. Mereka sudah kenyang. Begitu pula kakakku, dia sibuk mencari-cari yang disebutnya light meal.

“Apa saya makan pasta saja ya? Paklik Bulik saja yang makan, kami menemani,” kata kakakku menyebut kami “Paklik-Bulik” untuk membahasakan anak-anaknya. “Kalian makan steak ya? Oke, saya pesankan steak untuk kalian. Tenderloin enak? Mama apa?” tanyanya pada istrinya.

“Apa saja, terserah?,” jawab Liza.

“Tenderloin sekalian ya,” kakakku memutuskan.

Mama memimpin doa lagi seperti di rumah tadi sebelum makan dimulai.

Aku dan Pur gembira menikmati menu pesanan kakakku ini. Kadang aku membantu Pur, bagaimana mengiris daging secara tepat. Kupegang dua tangan Pur baik yang memegangi garpu maupun pisau.

“Garpu dipegang lebih stabil. Yang pegang pisau yang bergerak, lembut saja geraknya, dan yang bergerak pergelangan tangan, nah?,” kataku seperti memberi kursus.

Pur tertawa-tawa gembira. Begitu pula Mama.

“Dagingnya keras, seperti sandal japit,” tiba-tiba Liza berujar.

Mama terdiam seketika. Aku sangat mengenal bahasa tubuh Mama. Dia marah.

“Maklumlah, sapi sini kebanyakan olahraga jalan-jalan, jadi ototnya kuat, beda dengan sapi Australia yang malas-malasan?,” aku melucu untuk mencairkan suasana.

Semua tertawa lagi?kecuali Mama (dan Liza). Pur tetap gembira.

***

Acara Natal bersama keluarga itu kukenang, terutama pesan Mama untuk kami, anak-anak dan cucunya (cucu di sini maksudnya anak-anak kakakku. Aku dan Pur belum dikaruniai anak). “Pesan Mama cuma satu, supaya kalian semua rukun?,” kata Mama di depan kami semua waktu itu.

Saat itu, ketika mereka semua akan meninggalkan daerah kami, sambil menciumku Mama masih membisikkan sesuatu lagi di telingaku. “Kamu dan Pur jangan tersinggung dengan sikap Liza ya. Sejatinya dia itu ajaib, kita harus sabar mendidik, dan jangan lupa pula mendoakannya?,” bisik Mama.

Hampir aku tertawa mendengar bisikan Mama, yang memang kadang memberi cap pada orang seenaknya. Kutahan tawaku, takut ketahuan apa yang diucapkan Mama, dengan sebutan yang tak kalah “ajaib”-nya itu.

Dengan atau tanpa pesan Mama, doa memang dikhususkan untuk kebaikan semesta. Untuk keluarga, aku dan Pur selalu mendoakan, yang terbaik bagi mereka semua. Semoga kakakku, Liza, anak-anaknya, semua kerabat dan handai taulan, mendapat yang serba terbaik di Jakarta.***

Banjarsari, Ciawi, 2006

April 6, 2011 at 11:51 am Leave a comment

Palmerah Underground


TERSERAH mau percaya pada cerita ini atau tidak: seiring mulai dioperasikannya kereta bawah tanah yang baru saja selesai pembangunannya, muncullah hantu di salah satu stasiunnya, yakni stasiun Palmerah. Korban telah jatuh. Korban ini perempuan, wartawati koran sore dari surat kabar yang berkantor di dekat stasiun tersebut. Perempuan yang kesambet hantu kereta bawah tanah itu menjadi ‘pemimpi berjalan’ (sleep walker).

Keluarganyalah yang pertama-tama repot. Anak perempuan yang baru setahun lulus kuliah dan kini tengah semangat-semangatnya bekerja itu menunjukkan tingkah laku yang rasa-rasanya tidak tampak sebelumnya. Sang anak ini menjadi sering bangkit tengah malam, dan berjalan-jalan dalam keadaan tidur.

Pertama-tama yang mendapati tingkahnya itu kakak perempuannya, yang tidur sekamar dengannya. Sang kakak mendengar kursi di ruang keluarga seperti berderak. Ia melirik jam di atas meja, pukul 02.45 dini hari. Ditolehnya ranjang di samping yang biasa ditiduri adiknya. Kosong. Sang adik tidak di tempat. Ia lihat kamar mandi yang menjadi bagian dari kamar mereka, tidak ada tanda-tanda ada orang di kamar mandi.

Sang kakak bangkit, menuju ruang keluarga. Dia melihat si adik, berjalan-jalan di ruangan itu dengan mata terpejam. Suara berderak tadi memang dari situ, dari kursi yang agak tergeser posisinya karena barangkali tersandung oleh langkah kaki.

“Kartika…,” panggilnya ragu-ragu.

Yang dipanggil tak bereaksi. Malah terus berjalan, menuju ruang lain lagi.

Sang kakak mengikuti. Mereka tak terbiasa main-main seperti ini, dan apa yang tengah terjadi dini hari itu juga sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda main-main.

“Kartika,” panggilnya lagi dengan nada lebih mantap sembari menggoyang pundak adiknya.

Si adik menghentikan langkah. Matanya pelan-pelan terbuka, sebelum benar-benar tampak pulih kesadarannya. Kepalanya menengok kiri kanan.

“Kamu mimpi Kartika…,” kata sang kakak sambil menatap adiknya dengan terheran-heran. “Kamu ngelindur…,”

Kartika termangu-mangu. Napasnya turun naik dengan kuat, seperti baru selesai melakukan pekerjaan berat, atau seperti baru pulang dari perjalanan entah ke dunia mana.

Kakaknya mengambilkan air putih dan meminumkannya. Di luar, malam terang oleh bulan tanggal ke-14.

***

MENYELUSUP dari manakah pengaruh bawah sadar yang menggerakkan Kartika menjadi pemimpi berjalan? Dari cahaya bulan? Karena kejadian kemudian selalu berulang saat bulan menuju dan mencapai purnama penuh? Ah, seperti dongeng novel saja…

Keluarga Kartika menjadi selalu bersiaga setiap malam, terutama saat bulan mulai terang cahayanya. Mereka mengunci baik-baik semua pintu rumah. Ibunda Kartika bahkan kemudian mengikatkan anak kunci di pergelangan tangan, agar tidak bisa dipakai sembarang orang. Ini belajar dari pengalaman, karena apa yang terjadi berikutnya setelah kejadian malam pertama seperti diceritakan di atas, mereka pandang lebih serius lagi.

Ceritanya, malam itu lagi-lagi sang kakak terbangun dan tidak menemukan Kartika di tempat tidur. Yang ada cuma baju tidur yang telah terlepas dan teronggok di atas dipan. Di mana Kartika? Berjalan-jalan lagi di dalam rumah? Ia bangun mengikuti pintu kamar yang terbuka. Tak ada Kartika di ruang keluarga, atau ruang-ruang lain di dalam rumah. Sementara pintu utama kelihatan terbuka. Begitu pula pintu pagar. Gegerlah seisi rumah.

Ayah, ibu, sampai pembantu dan sopir bangun. Mereka menyebar ke mana kira-kira Kartika berjalan. Entah kebetulan atau bagaimana, sang kakak disertai ayahnya yang menemukan Kartika. Mereka berdua mencoba menelusuri Kartika sampai ke stasiun yang baru di sekitar situ, yakni stasiun SDMR.

Stasiun sangat sepi. Ini sebutannya hanya halte. Beberapa lampu halte dimatikan, karena kereta bawah tanah hanya beroperasi sampai pukul 22.00, sementara saat itu waktu mendekati pukul 03.00 dini hari.

Di antara terang cahaya bulan, mereka berdua jelas melihat satu sosok duduk di bangku di peron terbuka stasiun. Dilihat dari sosoknya yang terbilang mungil, rambutnya yang sebahu, itu jelas Kartika. Mereka mendekatinya. Kartika tampak mengenakan pakaian seperti kalau dia hendak berangkat kerja. Hanya saja tanpa rias wajah sama sekali, bahkan rambut tak tersisir. Jelas dia cuma bangkit dari tempat tidur, mengganti gaun tidur dengan pakaian ini. Matanya terpejam. Dia tidur sambil duduk di bangku stasiun, seolah tengah menanti kereta.

“Kartika…,” sang ayah membelainya dengan penuh keprihatinan.

***

BAGAIMANAKAH pengakuan Kartika atas apa yang dialaminya?

“Selalu seperti ada yang memanggilku dari stasiun…,”

Pesona modernitas stasiun bawah tanah yang tengah menjadi barang baru di kota? Dengan stasiunnya yang bersih, dari lantai sampai dinding bernuansa abu-abu, antara bagian bawah dan atas dihubungkan dengan eskalator panjang, tempat duduknya bangku warna-warni biru, kuning, oranye mengingatkan gaya seni rupa Mondrian? Kartika sudah lama menanti-nanti, dan termasuk salah satu penumpang pertama dari banyak orang yang ingin mencobanya, begitu kereta bawah tanah ini beroperasi pertama kali. Sejak itu, dia menjadi penumpang tetap, memiliki kartu langganan, yang tinggal menggesekkan kartu di panel kontrol pagar masuk ruangan stasiun, maka pintu pagar setinggi sekitar satu meter akan membuka sendiri.

“Justru keadaan stasiun yang memanggil-manggilku tidak seperti stasiun bawah tanah yang modern itu,” katanya. “Stasiun itu tua, bergaya gothic dengan tiang-tiang besi berukir, di atas ada lengkungan-lengkungan yang juga berukir, lalu pojok langit-langit yang gelap, di mana kelelawar sering tampak keluar masuk mengepakkan sayap…”

Benar-benar seperti imajinasi yang direkayasa novel berbau misteri. Apakah kelelawar itu kiranya yang memanggil-manggilmu?

Kartika termangu-mangu. “Mungkin…,” ucapnya lirih. “Kelelawar itu hendak menggondolku.”

Mimpi kamu menakutkan……..

“Tidak juga…,” tukas Kartika.

Stasiun tua, lalu kelelawar yang hendak menggondolmu?

“Kan dibawa terbang…,” katanya. Ia memaksudkan, terbang merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Gila, Kartika memang kesambet hantu stasiun. Hantu itu datang sebagai pesona, sebagai vanity, yang menyelinap dalam mimpi seorang perempuan melalui cahaya bulan.

Yang kami sangat khawatirkan, kamu berjalan dalam keadaan tidur. Kami sangat takut sesuatu terjadi, misalnya kamu terperosok ke got, ketabrak bajaj atau sepeda motor….

“Tidak,” kata Kartika. “Dalam keadaan tidur berjalan itu, entah mengapa aku masih bisa melihat sekelilingku. Aku bisa melihat kerikil-kerikil di halaman rumah, pintu pagar, bunga alamanda kita yang warnanya sangat khusus, warna marun itu, pucuk-pucuk pohon bambu yang menari-nari, bougenvil merah ungu di teras tetangga, dan lain-lain…”

Gawat….

“Ya, tapi aku tidak tahu, harus takut ataukah menikmati sensasi semesta yang menakjubkan itu….”

***

TAK banyak yang berubah pada Kartika, selain parasnya yang tampak pucat, terutama pada hari-hari ketika tanggalan pada kalender sistem bulan (lunar system) berada pada sekitar pertengahan. Karena kewaspadaan seluruh penghuni rumah, tak memungkinkan lagi bagi Kartika untuk bangkit dan berjalan-jalan dalam keadaan tidur. Hanya saja, dalam keadaan berbaring di tempat tidur pun tampaknya ada sesuatu yang luar biasa menyusup pada alam bawah sadarnya. Ini bisa dilihat oleh ibu, ayah, kakak, yang pada saat-saat seperti itu dengan rajin menjagai Kartika. Dalam tidurnya yang lelap, sering terlihat Kartika tersenyum, atau kadang seperti berada dalam suatu pengalaman tertentu sampai butiran keringat muncul di jidat. Pagi hari setelah keadaan seperti itu, Kartika biasanya kelihatan lebih pucat dari biasanya.

“Mimpi telah membohongiku,” kata Kartika. “Sedemikian meyakinkan ilusi dalam mimpi-mimpiku, sampai aku merasa itu sebagai sesuatu yang nyata. Persoalannya kemudian, terhadap yang nyata pun aku ragu. Aku meragukan semuanya, baik nyata ataupun mimpi.”

Di kantor ia melakukan pekerjaan dan menyelesaikan tugas seperti biasa. Perbedaannya, dia lebih pendiam. Sebelumnya, teman-teman mengenalnya sebagai sosok yang ceria, banyak bercanda. Menulis berita di depan komputer pun, sering dia lakukan sembari kepalanya mengepit gagang telepon. Ia ngobrol di telepon sambil tertawa-tawa entah dengan siapa, mungkin dengan pacar-?maklum masih single.

Kini ia bekerja dengan diam. Kesannya, dia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan dan segera meninggalkan kantor. Begitu pekerjaan selesai, dia akan langsung kabur menuju stasiun. Di stasiun, dia duduk-duduk di bangku peron, sementara kereta datang dan pergi.

Beberapa teman yang sama-sama pengguna alat transportasi ini, sering melihat Kartika di bangku stasiun itu. Ada juga yang dalam hati bertanya-tanya, mengapa Kartika terlihat hanya duduk-duduk, tidak segera masuk kereta entah ke jurusan mana, yang datang dan pergi setiap kurun waktu maksimal sepuluh menit.

“Mau ke mana Kartika?” seorang teman menegur.

Kartika diam saja, seolah tak mendengar. Matanya menatap lurus ke depan.

Ada juga sedikit gunjingan pada beberapa teman, mengenai sikap Kartika yang dinilai aneh belakangan. Kartika yang makin pendiam, suka duduk-duduk di stasiun, diam dan tak menjawab tegur sapa orang yang mengenalnya….

Apa yang terjadi padanya?

***

TIBA-tiba perbincangan mengenai Kartika berkobar. Kartika hilang. Keluarga Kartika panik, ketika malam itu Kartika lenyap dari rumah. Menurut versi keluarga, sudah tak kurang kewaspadaan mereka, terutama di malam-malam terang bulan seperti malam itu. Semua pintu dikunci, dan anak kunci?masih seperti biasanya?diikat di pergelangan tangan sang ibu.

Tadinya Kartika masih tidur di kamarnya, seperti biasa pula, bersama kakak perempuannya. Akan tetapi, saat terjaga tengah malam menjelang dini hari, sang kakak tidak menjumpai adiknya di tempat tidur.

Ke mana dia? Seisi rumah bangun. Diperiksa setiap sudut rumah, tak ada Kartika. Dicari di lingkungan rumah, termasuk di stasiun SDMR tempat dulu dia ditemukan, tak kelihatan pula jejaknya. Pencarian terus dilakukan, sampai pagi matahari terbit, sampai laporan ke polisi dibuat, untuk menemukan di mana kiranya Kartika.

Kegegeran atas hilangnya Kartika segera menjalar ke mana-mana. Bagaimana seorang perempuan, yang beberapa jam sebelumnya masuk kamar tidur, bisa tiba-tiba hilang? Tanpa apa pun dibawa, selain gaun tidur yang dikenakannya? Sementara semua pintu rumah terkunci? Meskipun?ini sedikit tambahan keterangan?jendela kamar tidur sedikit terkuak, dan semribit angin dini hari yang masuk lewat jendela itu pula yang katanya membikin sang kakak yang tidur bersama Kartika terbangun pada dini hari itu…

Berita hilangnya Kartika segera menghiasi halaman-halaman surat kabar. Beberapa di antaranya menjadi kepala berita, dengan ditambah bumbu-bumbu cerita misteri, mengenai perempuan yang digondol hantu stasiun bawah tanah.

Yang agak kerepotan menempatkan diri dalam kasus hilangnya Kartika justru koran sore tempat Kartika bekerja. Mau ditulis berdasar seluruh informasi yang bisa dihimpun?-di mana hilangnya Kartika memang terasa misterius?-rasanya tidak pas untuk koran berkualitas alias quality paper yang menjadi sifat koran ini. Mau menceritakan panjang lebar mengenai diri Kartika–yang pasti bisa ditulis dengan sangat bagus dan bakal menjadi bacaan menarik, mengingat koran sore ini punya penulis-penulis fitur andal–rasanya juga kurang pas.

Kartika, Kartikasari, di mana sebenarnya kamu…..***

Banjarsari, Ciawi, Februari 2007

****

April 6, 2011 at 11:50 am Leave a comment

High Makaroni


Cerpen Bre Redana Silakan Simak!
Dimuat di Suara Merdeka Silakan Kunjungi Situsnya!

HARI masih sangat pagi. Kota belum bangun. Di seluruh kota hanya ada aku dengan dia -yang dari jarak sangat jauh sudah kulihat, itu pasti dia: menunggu di perempatan itu. Dari kejauhan pula, sudah terasa energi magnetik perempatan tersebut, suatu tempat yang mengandung pusat kekuatan bumi. Di planet Bumi, hanya beberapa tempat mengandung kekuatan seperti ini, di antaranya konon Machu Picchu, Everest, dan Stonehenge.

Baiklah kugambarkan keadaannya ketika aku sampai di perempatan itu. Dia berdiri bertelekan tiang besi kuno penunjuk jalan yang tersisa dari zaman sejak sebelum aku lahir, mungkin juga sebelum dia lahir. Di atas tiang besi terekat lempengan petunjuk arah yang posisinya bersilang. Menunjuk arah barat -semua yang pernah tinggal di kota ini paham benar mana timur-barat-utara-selatan- tertulis Makaroni (dengan panah kecil di atasnya, tertulis 500). Di atasnya ada lempengan lain menunjuk arah selatan. Tulisannya High. Karena petunjuk di tiang besi itu, maka penduduk kota menyebut perempatan ini sebagai High Makaroni.

Sejenak aku terkesima. Aku melihat lingkaran cahaya di kepalanya, yang seketika lenyap ketika aku mencoba mengerdip untuk menegaskan pandangan. Halusinasi dari kebanyakan minum bir sepagi inikah?

Ia tersenyum, menunjukkan deretan gigi yang sebagian menghitam. Matanya merah. Tangannya menenteng botol minuman keras. Kulitnya yang putih sampai ke telapak kaki memperlihatkan hidup yang tidak terurus. Kakinya yang beralas sandal japit kelihatan kotor oleh tanah mengering di sana-sini. Dia mengenakan jaket hijau tentara, sama seperti aku.

Kami bersalaman. Pagi beku. Tak ada apa-apa dan siapa-siapa. Yang menyaksikan pertemuan ini hanya cewek cantik telanjang berselimutkan sprei di gambar poster film dari bioskop kuno yang makin butut persis di perempatan ini.
***
BERDUA kami mulai berjalan beriringan menuju arah barat, ke arah Makaroni. Bangunan-bangunan kuno pecinan di sepanjang jalan masih tertutup jendelanya. Begitu pula bangunan yang masih tersisa seperti sebagaimana adanya dulu, berikut catnya yang berwarna hijau. Di lantai dua bangunan itu dulu terdapat pemancar radio amatir YDA7C2.

“Musik yang terdengar di sepanjang jalan ini dulu yang mendorong aku bermusik…,” katanya. “Setiap kali melewati jalan ini, aku mendengar musik keluar dari jendela-jendela yang terbuka. Rolling Stones, Bob Dylan, Dara Puspita… Di pojok sana suara musik keluar dari pintu rumah yang terbuka, dari ruang tamu dengan speaker ditaruh di atas genthong. Disetel keras-keras, The Beatles…,” lanjutnya. “Di rumah peninggalan Belanda yang ditempati pejabat pindahan dari Jakarta, yang anaknya cantik-cantik, lain lagi. Bach atau Mozart…,”

Angin berdesir. Masih dingin seperti dulu. Apa karena ini bulan Agustus, musim kemarau? Sangat dingin pada malam dan pagi hari, sebaliknya menjadi sangat panas pada siang hari? Beberapa bangunan di sepanjang jalan ini telah berubah. Ada yang menjadi toko handphone, warnet, tempat foto copy, dan lain-lain. Dulu, di sepanjang jalan ini hanya ada beberapa toko. Yang paling terkenal toko penjual oleh-oleh, Cap Kelenteng.

Kami melangkah, tanpa siapa menentukan apa atau ke mana. Mungkin masa lalu yang semata-mata membimbing kami, sehingga langkah selalu beriring. Lalu kami sampai ke lapangan, yang di seberangnya terdapat rumah bekas asisten residen.

“Kita ke pohon beringin itu,” katanya.

Bersama-sama kami berada di bawah pohon. Dia memberi isyarat agar aku ikut duduk bersila di bawahnya.

“Mari kita tangkap energi kota di sini…,” ucapnya.

“Tapi ini bukan beringin yang dulu,” ucapku, dengan mulai ikut mengambil posisi bersila. “Beringin yang dulu sangat besar, berdiri di setiap sudut. Ditebang karena gagasan agar kota kelihatan terang, tidak angker. Kesadaran kita akan lingkungan datang terlambat…,” kataku sembari tertawa.

“Sama seperti stanplat yang menurun di bawah jalan, dengan atap stanplat diluruskan sejajar jalan di atasnya, menjadi ruang publik yang cerdas. Ketika stanplat digusur dipindahkan ke pinggir kota, juga tak ada orang protes. Kita bisa memprotes tindakan itu sekarang, tetapi kita hanya menjadi orang yang berpikir benar pada saat yang salah…,” ucapnya tanpa tersenyum -yang makin membuatku ingin tertawa.

“Mari…,” ucapnya. “Meski bukan pohon yang dulu, kalau kita yakini bahwa ini pohon yang dulu, dia akan menjadi pohon yang dulu. Sama seperti sesuatu yang palsu, kalau kita yakini itu asli, maka aslilah dia.”

Gendengnya kelihatannya mulai muncul. Dia mengajakku untuk menangkupkan kedua telapak tangan lurus di atas kepala ke arah langit, pelan-pelan sembari menarik udara melalui lubang hidung membawa telapak tangan yang tertangkup ke depan dada. Masih dengan menarik udara melalui lubang hidung, tangan diluruskan ke depan, ditarik ke samping dada, baru kemudian dilepaskan dalam posisi seperti menolak ke depan, sembari melepaskan napas dari udara yang kita hirup lewat hidung tadi melalui mulut.

Hanya pagi yang sunyi, dari kota yang tak berpenduduk -semua penduduknya sedang tidur- menyaksikan dua orang duduk di bawah pohon di lapangan tengah kota, mengolah napas dengan regulasi lewat gerakan tangan serbapelan.

“Bukankah tanpa gerak seperti ini, mekanisme bernapas kita sudah seperti ini?” tanyaku, untuk memancing dia berbicara dan berbicara. “Maksudku, kita memang menarik udara lewat hidung, untuk memenuhi rongga-rongga tubuh….”

“Benar,” katanya. “Yang kita lakukan sekarang hanya melatih kesadaran kita, bahkan terhadap mekanisme yang sifatnya sehari-hari seperti bernapas. Inti kehidupan adalah kesadaran….”
***
AGAKNYA tidak terlalu meleset mencari tokoh seperti dia. Agak gila, tapi tidak gila-gila amat. Ini semua berhubungan dengan proyek yang diselenggarakan oleh para bekas pemukim kota ini, yang sekarang tinggal di kota besar. Ribuan warga kota yang telah pindah di kota besar dan jarang atau tidak pernah bertemu lagi satu sama lain itu merencanakan pertemuan besar beberapa bulan mendatang. Mereka akan menerbitkan buku kenangan mengenai kota ini, berikut beberapa sosoknya yang dikenal masyarakat seluruh kota di zamannya. Semua tokoh yang dikenal di seluruh kota ketika kami inventarisasi, apa boleh buat, ternyata umumnya orang gila, orang kurang waras. Baiklah, bukankah orang-orang gila itu nyatanya telah menjadi bagian hidup kita semua?

“Carilah Jerry, dia yang paling bisa diajak bicara…,” kata lingkungan kecil teman-temanku yang memprakarsai rencana pertemuan besar itu. “Kalian sama-sama pemabuk.”
Jerry yang kami bicarakan adalah gitaris grup band di kota kami dulu -dia berganti-ganti membentuk band dengan nama berbeda-beda- yang meski usianya jauh di atasku, tapi kami saling kenal sejak aku kecil (orangtuaku waktu itu selalu risih kalau aku bertukar sapa dengan Jerry).

“Di mana dia?” tanyaku.

“Ia tinggal di kota S, di lereng gunung L,” kata seorang teman menjelaskan. “Kami bisa membantu mencarikan kontak.”

Kontak didapat, dan Jerry menghendaki ketemu aku di kota yang dari namanya saja sudah jelas semata-mata sebuah kota yang terbentuk dari kesadaran teks: Alaska. Kota ini dulu berada di tengah-tengah hutan atau alas karet. Dari situ didapat nama Alaska -singkatan “alas karet” (belakangan, beberapa orang menyebutnya cukup dengan “Alas”).

Berangkatlah aku naik bus malam menuju Alas. Dini hari, bus sempat berhenti di satu pemberhentian di pinggir kawasan hutan yang kini telah terang terbuka karena pohon-pohon ditebangi untuk dijadikan rumah dan warung-warung. Seperti pada pemberhentian sebelumnya, ketika semua orang turun makan, aku turun untuk minum bir.

Jelas semata-mata pusat kekuatan bumi yang menarik kami, bertemu di perempatan High Makaroni -satu tempat, satu nama, yang tak akan Anda bisa temui di manapun kecuali di sini, di kota kami.
***
KAMI berdiri, dengan rongga tubuh terisi oleh seluruh energi bumi kota kami. Lalu melangkah lagi, menuju High -tempat di ketinggian kota, arah selatan. Anda tak usah tanya, mengapa tempat itu namanya High, yang lain Makaroni. Mungkin High maksudnya memang tinggi, di ketinggian, sementara Makaroni mungkin karena di situ dulu ada pabrik makaroni, atau orang-orangnya suka makan makaroni.

Yang kami tuju adalah tempat dulu Jerry dan teman-teman mudanya bermarkas. Tempat itu dulu rumah pemilik toko alat-alat musik, yang kemudian menjadi bapak angkat dari kelompok band Jerry dan teman-temannya. Di situ pula dulu mereka biasa latihan band.

“Kami tak pernah bercita-cita jadi pemusik terkenal atau apa pun, katakanlah model “idol-idol”-an sekarang. Kami bermusik semata-mata bermusik…,” katanya.

Tentu saja, adakah kesadaran dan cita-cita, ketika bermusik dengan sehari-hari dikelilingi aroma asap ganja…

“Ketika kami punya kesempatan main rutin, dikontrak beberapa klub di kota besar, sering kami dihentikan ketika main. Kami dianggap tak tahu kapan berhenti, dan hanya membawakan musik yang itu-itu saja berulang-ulang setiap malam…,” ucapnya, kali ini dengan sedikit senyum, mungkin teringat ketika dia bermusik sambil fly high dulu.

Tempat mereka biasa latihan itu sudah berubah total. Sama sekali tak tersisa kenangan lama. Bangunan rumah lama dulu telah diruntuhkan, diganti menjadi bangunan besar, kantor sebuah bank.

Tak ada tanda-tanda kehidupan di situ. Kami berdiri di depan pintu pagar yang masih tergembok. Tempat berilusi mengenai cinta, perdamaian, counter culture, telah menjadi kantor tempat perputaran uang… Ah…

Lama kami berdiri di depan situ, sambil membaca berulang-ulang huruf-huruf besar di atas bangunan. Sampai matahari diam-diam merekah. Lalu kami melangkah ke arah selatan, ke tempat yang lebih tinggi lagi, menuju bangunan kuno (dulu di tembok bangunan bagian atas tertulis tarikh tahun pembangunan, 1886, sementara di kiri-kanan pintu tertulis nama yang mungkin nama pasangan penghuni rumah itu, yakni: McKernan di kiri dan Cynthia di kanan) yang terletak di atas bukit kecil. Dulu, rumah itu kelihatan begitu anggun. Di depannya terdapat pohon kelengkeng, sementara di bawah bukit mengalir sungai berair jernih.

Kini, bangunan itu benar-benar luruh dalam keruntuhan. Hanya tembok-tembok utama masih berdiri. Pohon kelengkengnya sudah berongga batangnya saking tua dan tidak terurus. Sungai di bawah bukit menyempit, airnya tidak lagi bening, bahkan kelihatan hampir mengering.

Barulah kelelahan terasa, setelah perjalanan dengan bus semalaman dan jalan kaki kesana ke mari pagi ini -dalam pengaruh berbotol-botol bir yang membikin kepala agak berat. Kami memasuki bangunan yang tinggal puing-puing, yang ditumbuhi rumput-rumput dan ilalang liar. Di satu sudut tempat masih tersisa lantai tegel, kami berhenti, membersihkan sekenanya tempat itu dari debu, sebelum kemudian sama-sama merebahkan diri.

Pagi masih tetap sunyi. Berpendudukkah kota ini? Kesadaranku mulai hilang, disergap kantuk. Dalam alam yang melayang-layang, pada pagi yang hening ini, di kepalaku tiba-tiba seperti muncul suara musik, dari Bob Dylan, Rolling Stones, sampai Grateful Dead.***
Ciawi, 2007

April 6, 2011 at 11:48 am Leave a comment

Older Posts


Categories


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.