Pujangga Baru

April 5, 2011 at 8:39 pm Leave a comment



 

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.

 

Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 – 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.

 

Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :

 

Kelompok “Seni untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah

Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

 

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru

 

Sutan Takdir Alisjahbana

Dian Tak Kunjung Padam (1932)

Tebaran Mega – kumpulan sajak (1935)

Layar Terkembang (1936)

Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)

 

Hamka

Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)

Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)

Tuan Direktur (1950)

Didalam Lembah Kehidoepan (1940)

 

Armijn Pane

Belenggu (1940)

Jiwa Berjiwa

Gamelan Djiwa – kumpulan sajak (1960)

Djinak-djinak Merpati – sandiwara (1950)

Kisah Antara Manusia – kumpulan cerpen (1953)

 

Sanusi Pane

Pancaran Cinta (1926)

Puspa Mega (1927)

Madah Kelana (1931)

Sandhyakala Ning Majapahit (1933)

Kertajaya (1932)

 

Tengku Amir Hamzah

Nyanyi Sunyi (1937)

Begawat Gita (1933)

Setanggi Timur (1939)

 

 

 

Roestam Effendi

Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan

Pertjikan Permenungan

 

Sariamin Ismail

Kalau Tak Untung (1933)

Pengaruh Keadaan (1937)

 

Anak Agung Pandji Tisna

Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)

Sukreni Gadis Bali (1936)

I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)

 

J.E.Tatengkeng

Rindoe Dendam (1934)

 

Fatimah Hasan Delais

Kehilangan Mestika (1935)

 

Said Daeng Muntu

Pembalasan

Karena Kerendahan Boedi (1941)

 

Karim Halim

Palawija (1944)

Entry filed under: Drama Turgi. Tags: .

angkatan balai pustaka Angkatan 1945

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: