tata kata

April 5, 2011 at 8:08 pm Leave a comment


TATA KATA

A. Kata

Kata berdasarkan bentuknya dapat dibagi atas:

a.       Kata dasar yang biasanya terdiri dari morfem dasar. Seperti: kebun, lihat, anak.

b.       Kata berimbuhan dapat dibagi atas:

–    Awalan                               : berjalan, menulis

–    Bersisipan                        : gemetar, gerigi

–    Berakhiran                        : timbangan, langganan

–    awalan dan akhiran        : persatuan, kebenaran

c.        Kata ulang: main-main, berjalan-jalan

d.       Kata majemuk: matahari, sapu tangan

Catatan: Kata adalah satuan bahasa terkecil yang diperoleh sesudah kalimat dibagi atas bagian-bagiannya dan mengandung sebuah ide.

Jenis Kata:

1. Kata Benda

Kata yang menyatakan nama-nama benda atau segala sesuatu yang dibendakan. Misalnya: Pohon itu roboh diterjang badai.

Kata benda berimbuhan

pe-          : petani, pedagang, penyanyi

peng-     : pengawas, pengirim, pemilih

-an          : anjuran, bacaan, kiriman

peng—an: pemberontakan, pendaftaran, pengakuan,

per—an: pertanian, perjuangan (hal), perkelahian, percakapan (perbuatan), perikanan,

persuratkabaran (yang berkaitan), perapian, perkotaan (tempat)

ke—an   : kepergian, kedatangan (hal yang berhubungan), kekosongan, keberanian (keadaan),

kebangsaan, kemanusiaan (hal mengenai), kedutaan, kelurahan (kantor/wilayah)

-el-, -er-, -em-, -in-: telunjuk (tunjuk), gerigi (gigi), gemetar (getar), kemuning (kuning)

-wan/-wati : ilmuwan, karyawati

-at/-in, -a/-i: muslimin/muslimat, dewa/dewi

-isme, -(is)asi, -logi, -tas : komunisme, kolonialisasi, biologi, kualitas

2. Kata Kerja

Kata yang menyatakan perbuatan atau pekerjaan. Misalnya kakak belajar di kamar.

Kata kerja berimbuhan:

meng-    : mengambil , mengikat,  mengolah

per-         : peringan, perlebar, perluas

ber-         : berunding, berantai, bekerja, berkarya

ter-          : terasa, terpercaya, tepercik

di-           : dibeli, diambil, didalami

-kan        : letakkan, buatkan, kumpulkan

-i              : pukuli, tangisi

3. Kata Sifat

Kata yang menyatakan sifat khusus, watak, keadaan benda, atau yang dibendakan. Misalnya: Kami kedinginan malam ini.

Kata sifat berimbuhan:

-i, -iah, -wi             : abadi, ilmiah, duniawi,

-if, -er, -al, -is        : aktif (aksi), komplementer (komplemen), normal (norma), teknis (teknik)

4. Kata Keterangan

Kata yang memberi keterangan pada kata kerja atau pada kata sifat. Misalnya: Karena malu, ia segera berlari pulang.

Kata keterangan berimbuhan:

se—nya : sebaiknya, sebenarnya, secepatnya

-nya        : rasanya, agaknya, rupanya, biasanya

5. Kata Ganti

Kata ganti adalah kata yang menggantikan kata benda atau sesuatu yang dibendakan. Kata ganti, antara lain terdiri atas:

a)       Kata ganti orang, yang meliputi:

1.       Kata ganti orang pertama tunggal. Misalnya: Saya sedang belajar Bahasa Indonesia.

2.       Kata ganti orang pertama jamak. Misalnya: Kami tidak akan membuat keributan lagi.

3.       Kata ganti orang kedua tunggal. Misalnya: Silakan Anda temui anak itu.

4.       Kata ganti orang kedua jamak. Misalnya: Kalian harus memperbaiki diri sebaik-baiknya.

5.       Kata ganti orang ketiga tunggal. Misalnya: Sejak sakit, ia menjadi anak pendiam.

6.       Kata ganti orang ketiga jamak. Misalnya: Apakah mereka menyadari kesalahannya?

7.       Kata ganti orang pertama dan kedua. Misalnya: Jika demikian, ya kita tinggal berdo’a.

b)       Kata ganti empunya

Misalnya: ku, mu, nya.

c)       Kata ganti penunjuk

Misalnya: ini, itu, sana, sini.

d)       Kata ganti penghubung

Misalnya: yang

e)       Kata ganti penanya

Misalnya: bagaimana, siapa

6. Kata bilangan

Kata yang menunjukkan bilangan atau jumlah suatu benda. Misalnya: delapan, seekor, sepucuk.

7. Kata depan

Kata yang menghubungkan benda dengan katakata yang lain. Kata depan biasanya terletak di depan kata benda. Misalnya: di, dari, untuk.

8. Kata sambung

Kata yang menghubungkan dua kalimat menjadi satu yang utuh. Misalnya: dan, meskipun, melainkan.

9. Kata sandang

Kata yang menentukan atau membatasi kata benda. Kata sandang biasanya terletak di depan kata benda. Misalnya: si, sang, para, hang.

10. Kata seru

Kata yang menyatakan luapan emosi atau perasaan. Misalnya: ah, amboi, astaga.

Pembagian Jenis Kata Baru

1.       Kata benda adalah segala macam kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan yang+kata sifat.

Misalnya: perumahan yang baru, pohon yang besar.

2.       Kata kerja atau verba. Kata kerja adalah segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata
dengan+kata sifat.

Misalnya: Adik tidur dengan nyenyak, Andi berlari dengan kencang.

3.       Kata sifat. Segala kata yang mengambil bentuk se+reduplikasi+nya, serta dapat diperluas dengan paling,
lebih, sekali.

Misalnya: se-tingi-tinggi-nya, paling sakit, sakit sekali.

4.       Kata tugas.

a.       Bentuk

Dari segi bentuk umumnya katakata tugas sukar sekali mengalami perubahan bentuk, seperti: dengan, telah, dan tetapi tidak bisa mengalami perubahan. Tetapi di samping itu ada segolongan kata yang jumlahnya sangat terbatas, walaupun termasuk kata tugas yang dapat mengalami perubahan bentuk, misalnya: tidak, sudah, dapat berubah menjadi: meniadakan, menyudahkan.

b.       Kelompok kata

Dari segi kelompok kata, katakata tugas hanya memiliki tugas untuk memperluas atau mengadakan transformasi kalimat. Kata tugas dapat dibagi atas dua macam, yaitu:

1.       Kata tugas yang monovalen (bernilai satu), yaitu semata-mata bertugas memperluas kalimat. Misalnya: dan, tetapi, sesudah, di, ke, dari.

2.       Katakata tugas yang ambivalen (bernilai dua), yaitu di samping berfungsi sebagai kata tugas yang monovalen dapat juga bertindak sebagai jenis kata lain, baik dalam membentuk kalimat minim maupun dalam merubah bentuknya. Misalnya: sudah, tidak.

c.        Partikel kah, tah, lah, pun.

Partikel adalah semacam kata tugas yang mempunyai bentuk yang khusus yaitu sangat ringkas atau kecil, dengan mempunyai fungsi tertentu. Bentuk-bentuk kah, tah, lah, pun, adalah partikel penentu atau pengeras.

Fungsi dan makna partikel-partikel tersebut di atas dapat dirinci sebagai berikut:

1.       Partikel kah

Fungsi partikel kah.

a.       Memberikan tekanan pada pertanyaan, kata yang dihubungkan dengan kah itu dipentingkan. Misalnya: Belajar atau tidurkah dia?

b.       Dapat dipakai pula untuk menyatakan hal yang tidak tentu. Misalnya: Datanglah atau tidakah saya tidak tahu.

2.       Partikel tah

Fungsi partikel tah.

Fungsi partikel tah ini sama dengan kah, tetapi lebih terbatas pemakaiannya hanya pada kata tanya saja. Misalnya: apatah, manatah, siapatah. Bentuk-bentuk ini lebih sering dijumpai dalam bahasa Melayu lama. Maka pertanyaan dengan memepergunakan partikel tah adalah meragukan atau kurang tentu.

3.       Partikel lah

Fungsi partikel lah adalah:

a.       Menegaskan sastra perbuatan baik dalam kalimat berita, kalimat perintah, maupun dalam permintaan atau harapan. Misalnya: Bukalah dengan rapi!

b.       Mengeraskan satu satra keterangan. Misalnya: Tiadalah aku mau diperlakukan seperti itu.

c.        Menekankan satra pangkal. Dalam hal ini biasanya ditambah dengan partikel yang. Misalnya: Engkaulah yang bertanggung jawab atas kejadian ini.

4.       Partikel pun

Fungsi dari partikel pun adalah:

a.       Mengeraskan atau memberi tekanan pada kata yang bersangkutan. Misalnya: Tak seorang pun keluarganya menghadiri pesta itu.

b.       Dalam penguatan atau pengerasan dapat terkandung arti atau pengertian berlawanan. Misalnya: mengorbankan nyawa sekalipun aku rela.

c.        Gabungan antara pun+lah dapat mengandung aspek inkoaktif. Misalnya: Setelah mereka pergi, ayah pun tibalah.

B. Kata Ulang

Katakata ulang disebut juga reduplikasi. Pada dasarnya kupu-kupu bukanlah termasuk kata ulang, tetapi ada sebagian ahli bahasa tetap kokoh dengan pendapatnya dengan mengatakan kupu-kupu, kura-kura, termasuk ke dalam kata ulang.

Pada prinsipnya pengulangan mempunyai syarat di antaranya:

1.       Selalu mempunyai dasar yang diulang

2.       Proses pengulangan tidak mengubah jenis (kelas) kata.

3.       Bentuk dasarnya adalah kata yang lazim (umum) dipakai dalam tindak berbahasa.

Macam-macam kata ulang:

1.       Kata ulang dwipurwa. Ulangan atas suku kata awal. Contoh: leluasa, tetangga.

2.       Kata ulang utuh/ asli. Yaitu ulang atas bentuk dasar yang berupa kata dasar. Seperti: pencuri-pencuri, anak-
anak.

3.       Kata ulang dwilingga salin suara atau berubah bunyi. Kata ulang yang terjadi perubahan bunyi pada bagian
berulangnya. Seperti: bolak-balik, gerak-garik.

4.       Kata ulang berimbuhan. Kata ulang yang pengulangannya mendapat imbuhan, baik pada lingga pertama
maupun pada lingga kedua. Seperti: pukul-memukul, berpukul-pukulan.

Fungsi kata ulang

Menentukan fungsi kata ulang di sini sangat sulit, sebab fungsi dan arti terjalin erat. Bila hanya dilihat dari proses terjadinya kata ulang tersebut maka akan ditemukan adanya fungsi morfologis. Hal tersebut disebabkan oleh konsep bahwa prinsip perulangan tidak mengubah jenis kata. Artinya, bila kata dasar dari jenis kata benda maka tetap akan kita dapatkan kata benda dari kata ulangannya, demikian pula untuk jenis kata yang lain.

Adapun arti yang didukung oleh perulangan adalah:

1.       Banyak yang tidak tentu

–          Buku-buku itu telah kusimpan dalam lemari

–          Kuda-kuda itu berkejar-kejaran.

2.       Bermacam-macam

–          Pohon-pohonan: banyak dan bermacam-macam pohon

–          buah-buahan: banyak dan bermacam-macam buah.

3.       Menyerupai

–          kuda-kuda

–          langit-langit

4.       Agak

–          Kemalu-maluan

–          kebarat-baratan

5.       Menyatakan intensitas

a.    Intensitas kualitatif. Contoh: belajar segiat-giatnya. Gunung itu yang setinggi-tingginya di Pulau
Jawa.

b.       Intensitas kuantitatif. Contoh: kuda-kuda, buah-buah.

c.        Intensitas frekuentatif. Contoh: Bapak menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mondar-mandir saja sejak tadi.

d.       Menyatakan saling/ berbalas-balasan/ resiprok

–          Mereka bersalam-salaman.

–          Kedua saudara itu hidup tolong menolong.

6.       Menyatakan kolektif/ kumpulan

–          Anak itu berbasis dua-dua.

–          Pertandingan itu diikuti tiga-tiga regu.

C. KATA SERAPAN

Contoh

Benar Asal Benar Asal Benar Asal
aktif active indeks index praktik practice
aktivitas activity karier carier rasional rational
analisis analysis karisma charisma sistem system
atlet athlete kolera cholera teknik technique
ekspor export konkret concret teknologi technology
hierarki hierarchy kualitas quality varietas

Entry filed under: tata kata. Tags: .

TATA KALIMAT tata tulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: