Bapak Meninggal

April 6, 2011 at 12:10 pm Leave a comment


Di ruangan berukuran tiga kali empat meter ini, duduk melingkar beberapa lelaki yang menghadapi mayat Bapak. Maaf, sebenarnya dia belum berstatus mayat.

Hanya saja dia sekarang sekarat dengan napas satu-satu. Sudah hampir empat hari dia demikian. Tapi nyawanya tetap tak terlepas dari jasad. Kasihan juga. Orang-orang menjadi kebingungan.

Dia sebenarnya bukan bapak kandungku. Dia adalah adik Ibu. Berhubung sejak berumur satu tahun bapak kandungku meninggal dunia karena malaria, akhirnya aku memanggilnya Bapak. Dia sudah lama tinggal di rumah kami, dan menurut Ibu dia tak akan pergi ke mana-mana. Masih tetap di rumah kami, meski dia kelak menikah. Nyatanya, sampai dia sekarat, Bapak belum menikah-menikah juga.

Lelaki yang bersorban dan baju gamis putih itu –biasa dipanggil orang desa, Haji Mahmud– sudah beberapa kali mencoba mendoakan agar Allah sudi membebaskan ruh dari jasad Bapak, sehingga Bapak lepas dari siksaan. Tapi kekuatan doanya tak mempan. Irul, lelaki di sebelah Haji Mahmud, pun telah merapalkan jampi-jampi yang dia dapat ketika berguru di Tanah Jawa, kemudian memukul-mukulkan pelan daun kelor ke jasad Bapak. “Siapa tahu dia memiliki ilmu yang tak benar!” katanya. Namun tetap saja Bapak bernapas pendek-pendek. Sekali-dua berhenti, sehingga seluruh orang di ruangan ini menganggap nyawanya sudah “lewat”. Tapi, tak lama dadanya tetap turung-naik lagi dengan gerakan yang amat memilukan.

Apa kejahatan Bapak sehingga di ujung hayatnya harus menanggung beban sedemikian berat? Menurut Haji Mahmud, dan diamini Sutan Ali, mungkin Bapak pernah melakukan dosa yang amat besar, sehingga Allah menyiksanya sedemikian rupa sebelum meninggal.

“Tapi, aku meminta, apa yang terjadi di sini hanya beredar di benak kita masing-masing. Jangan sampai membocorkannya ke khalayak ramai. Malu! Lagi pula kita berdosa mengata-ngatai orang, apalagi sedang sekarat begini,” kata Haji Mahmud tadi pagi setelah semua selesai mengopi dan sarapan ubi rebus.

“Tapi, orang-orang sudah ramai membicarakan kondisi Harmaen.” Lauddin menimpali. Dia tetangga sebelah rumahku. Aku mengamini apa yang dibicarakan lelaki yang kerap kupanggil “Mang” itu. Orang-orang kampung sudah sibuk membicarakan masalah yang menimpa Bapak. Banyak sudah berspekulasi, mungkin akibat Bapak belum menikah hingga usianya kepala lima, maka Allah berang dan menghukumnya. Ada pula yang mengatakan karena Bapak suka mengintip perempuan mandi sejak dia akil-baliq sampai sakit-sakitan belakangan ini. Persangkaan yang satu ini kurang kusetujui. Bagaimana pun, Bapak tak mungkin melakukan pekerjaan hina seperti itu. Mengintip perempuan mandi? Untuk apa? Kalau memang berhasrat pada keelokan tubuh perempuan, kenapa Bapak tak menikah-menikah sejak dulu?

“Bagaimana, Haji? Aku bingung kalau sampai beberapa hari ke depan, kondisi Harmaen tetap begini. Sudah beberapa hari ini aku absen ke ladang. Mungkin rumput lalang sekarang sudah lebih tinggi dari batang cabe. Lagi pula, sawah yang kami garap anak-beranak, sekarang hanya dikerjakan istri dan dua anakku. Ah, aku bingung!” ucap Rastapi. Meskipun dia mengatakan bingung, tapi dapat kuhitung selama hampir tiga hari berselang, ketika Rastapi ikut menjagai Bapak, tiga puluh batang sigaret di pinggan diembatnya. Belum lagi kalau sarapan, dia selalu menambahkan susu di kopinya. Kemudian menghabiskan begitu banyak potongan ubi rebus. Manakala tiba makan siang dan malam, orang-orang yang menunggui Bapak segera pulang ke rumah masing-masing. Tapi Rastapi mengatakan tanggung. Itulah yang membuat Ibu terpaksa menyuruh Bedah, kakakku, agar memasak nasi lebih banyak, kemudian membeli ikan kaleng untuk tambahan lauk.

“Apakah bapakmu tak pernah shalat, Bir?” Latief, teman sebayaku, yang kebetulan ikut bersamaku senja ini menunggui jasad Bapak, mencoba mengemukakan prasangkanya.

“Bapak paling taat melaksanakan shalat,” bantahku. “Bahkan, dia sangat berang kalau suatu kali mengetahui aku belum shalat.” Teringat aku saat Bapak menghantam pantatku dengan rotan, ketika aku lupa shalat isya. Untung saja Ibu melerai. Namun hampir seminggu aku mendendam kepadanya. Berulang-ulang dia mencoba meminta maaf kepadaku lewat Ibu.

Berulang-ulang aku tak menanggapinya. Sehingga Ustadz Naen yang mengetahui aku bermusuhan dengan Bapak, mengingatkanku. Apa yang telah Bapak lakukan memang benar. Aku yang kala itu sudah berusia sepuluh tahun, memang harus dipukul atau dicambuk apabila lupa shalat. Kata ustadz, shalat adalah tiang agama. “Coba, kalau rumahmu tak memiliki tiang, apakah dia dapat berdiri kokoh hingga sekarang? Begitu pula kalau kamu tak melaksanakan shalat, maka ibadahmu yang lainnya akan sia-sia. Tak bisa kau bangun rumahmu di sorga.” Utstadz menceramahiku.

Sebetulnya aku tak faham apa yang dia ucapkan. Namun, aku memutuskan menerima maaf Bapak.

“Apa ada yang kurang dari perlengkapan Harmaen, Bi?” tanya seorang perempuan sebaya Bapak kepada Ibu yang telah membengkak matanya sebab terlalu lama menangis.

Ibu menatap perempuan itu. “Sudah cukup, Is! Bahkan saat dia mulai sakit-sakitan, aku sudah membelikan semuanya. Bukannya ingin dia cepat-cepat meninggal. Melainkan persiapan agar tak tergopoh-gopoh saat Allah memanggilnya.”

“Lalu, apa penyebab sehingga Harmaen susah meninggal? Lihatlah, sekali-sekali wajahnya seperti menahan sakit yang amat sangat. Apa Bibi tak kasihan?”

“Siapa yang tak kasihan, Is. Aku selalu menyayanginya dari dulu hingga sekarang. Akan tetapi, aku tak tahu apa penyebab dia susah meninggal.”

“Dia tak pernah menceritakan apa-apa kepada Bibi? Misalnya, tentang ilmu-ilmu hitam yang pernah dipelajarinya?” Perempuan itu menyelidik. Seperti intel saja dia. Ibu menanggapi dengan gelengan pelan. “Apa dia memiliki hutang yang cukup banyak kepada seseorang atau beberapa orang?” Ibu menoleh.

Dia menggeleng lebih kencang dan tegas. Perempuan itu tertunduk. Dia membisu. Pikirnya, Ibu mulai kesal diberondong pertanyaan yang seolah menyudutkan itu.

Azan Maghrib tiba-tiba mengoyak tingkap yang memantul-mantul dihempas angin. Aku berdiri, menutupkan tingkap itu. Di luar masih ada seorang-dua warga yang duduk-duduk di bawah tarup. Sementara sebagian besar telah berangkat menuju masjid. Haji Mahmud telah meminta kesediaan warga tadi pagi. Bahwa apabila selepas maghrib Bapak belum meninggal, maka semua diminta mengaji Yasin. Siapa tahu itu makbul, meskipun akhirnya semakin memperlebar pengetahuan warga tentang susahnya Bapak meninggal.

Aku tahu dalam batas sebulan –setelah Bapak meninggal (bila dia benar-benar meninggal)– warga masih membincangkannya sambil menanam padi di sawah. Atau saat menderes karet. Atau bersenda-gurau di lepau-lepau yang menyuguhkan kopi yang ramah.

Aku yakin pula, seluruh keluarga di rumah ini akan menjadi keluarga pingitan. Kami pasti tak ingin mendengar cerita-cerita warga tentang prosesi meninggalnya Bapak, yang seolah langsung mengoyak-ngoyak telinga.

“Shalat Maghrib dulu, Bu!” kataku kepada Ibu yang masih duduk memperhatikan wajah Bapak. Para lelaki yang tadi sama-sama berkumpul di situ, telah berangkat ke masjid.

“Sebentar lagi, Her!” tolak Ibu halus.

“Kalau Ibu tak shalat dan mendoakan Bapak, bagaimana Allah berbaik hati melepaskan siksaan sakaratul Bapak?” tegasku. Ibu mengelus kepala Bapak. Dia beranjak, dan pergi ke dapur. Sementara aku menunggu Ibu selesai mengambil air wudhuk, dan kami shalat Maghrib berjamaah di sebelah Bapak.

Suara ribut kemudian mengakhiri Maghrib yang temaram. Aku dan Ibu sudah duduk di posisi semula. Ruangan yang sempit, kemudian disesaki warga. Ruangan di bawah tarup, pun demikian. Semakin tak terbendung lagi berita tentang masalah yang menimpa Bapak. Aib tak mungkin ditutup-tutupi lagi. Dan aku menebak bahwa sebagian besar warga yang berniat yasinan hanya ingin melihat kondisi Bapak lebih dekat. Sekaligus sekadar berbisik-bisik atau lebih tepatnya berghibah.

Nyatanya, setelah yasinan, kondisi Bapak tetap seperti itu. Bahkan dia seakan menahan sakit yang lebih dan lebih lagi saat yasinan berlangsung. Mendadak dengan mata berkaca-kaca, Ibu mengajak Haji Mahmud berbicara empat mata di bilik Ibu.

Aku bingung. Sebenarnya apa yang hendak mereka perbincangkan? Saat keduanya keluar dari bilik, air mata Ibu semakin deras mengalir. Sementara warna wajah Haji Mahmud berubah-ubah. Sekali pucat, sekali merah, sekali ke kondisi asal. Namun yang pasti, berselang seperempat jam, seketika Bapak menghembuskan napas terakhirnya. Membesarlah tangis Ibu. Bersesunggukan para warga. Sementara aku hanya sedikit meneteskan air mata. Aku hanya merasa sedikit kehilangan Bapak. Sebab dia bukan Bapak kandungku. Hanya sekadar panggilan.

Tapi apa yang diperbincangkan Ibu di bilik berdua Haji Mahmud, membuatku penasaran. Bagaimanapun, meninggalnya Bapak, tak bisa terlepas dari hasil perbincangan di antara mereka.

Besok siangnya setelah jasad Bapak dikubur di pemakaman umum, aku menemui Haji Mahmud yang sedang duduk di pinggir luar pemakaman, di atas tunggul kayu. “Pak Haji, bolehkah saya menanyakan sesuatu kepada Bapak?” tanyaku. Aku duduk di sebelahnya sambil menatap lalu-lalang para peziarah.

“Bapak turut berdukacita atas meninggalnya bapakmu, Nak. Sekarang apa yang hendak Anak tanyakan?”

“Saya ingin tahu apa yang Pak Haji dan Ibu bicarakan tadi malam di bilik Ibu. Anehnya, setelah itu, Bapak saya langsung meninggal dunia.”

Haji Mahmud tersenyum. “Sebenarnya ini kisah lucu, tapi bisa dipetik hikmahnya. Ibumu bercerita bahwa saat mengandung dirimu, dia mengidam makan mangga muda. Anehnya, mangga muda itu harus mangga curian. Jadilah Harmaen mencuri mangga dari kebunku. Kau tahu aku sangat kesal. Bahkan sempat aku mendoakan agar maling itu mendapat balasan atas perbuatannya. Tapi semuanya sudah kulupakan, hingga ibumu bercerita tadi malam, bahwa mungkin itulah penyebab Harmaen susah meninggal. Saya tak tahu apakah karena saya memaafkan si maling mangga itu, atau memang ajalnya tiba, hingga Harmaen bisa dikubur hari ini.” ***

Entry filed under: Rifan Nazhip. Tags: .

Amangkurat Pujono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: