Ciawi Junction

April 6, 2011 at 11:57 am Leave a comment


WAKTU seperti berhenti di perempatan kota kawedanan ini. Oh ya, bagi yang kurang paham, kawedanan adalah daerah administratif di bawah pimpinan seorang asisten residen, yang padanannya kini meski kurang tepat kira-kira seperti kecamatan. Seorang wanita menunggu pemenuhan janji cinta di perempatan yang membeku serupa potret tua hitam putih, potret yang dalam keusangannya selalu menampilkan masa lalu yang tak pernah mati sampai kini dan bahkan sampai selamanya nanti.

“Aku tahu, kau selalu mengingat tempat ini dan akan kembali ke sini nanti,” kata wanita itu di depan gedung bioskop yang bangunannya tak kalah tua dibanding impiannya. Waktu boleh membuat semua hal melepuh, namun tidak untuk bayang-bayang mimpi. Seperti misteri citra yang terpantul di layar bioskop, dunia bayang-bayang memiliki roh kehidupan sendiri yang mengatasi keadaan sekelilingnya yang melapuk oleh waktu. Kegairahan adegan ranjang layar bioskop tak pernah surut meski kenyataannya pemainnya telah jompo dan loyo.

Bagi wanita ini dunia tidak berubah. Lagu Portrait of My Love berikut tiruannya dalam bahasa Indonesia Potretmu tetap berdengung dalam kesenduan yang sama. “Orang bilang aku bermimpi. Tidakkah mereka tahu, bahwa kita terus berhubungan, membangun simpul kehidupan yang berpusat di perempatan ini, dengan gedung bioskop yang sangat kita cintai ini….”

Perempatan yang mencoba bertahan. Dalam beberapa hal sebenarnya memang tak banyak yang berubah dari perempatan milik wanita tersebut. Seperti saya singgung tadi: semuanya hanya dalam proses pelapukan dan menjadi usang. Di situ tetap ada toko kue yang menjual kue kelapa, apotek dengan nama tetap sama, yakni Intrafarm, sampai ke warung ronde di lorong menuju gedung bioskop yang bangku-bangkunya pun barangkali masih yang dulu. Gunung di latar belakang kota juga tidak ke mana-mana, selain hembusan hawa dingin dan kabutnya yang kini menghilang dikarenakan pemanasan bumi dan barangkali juga makin banyaknya manusia.

“Mereka tidak tahu, kamu tetap di sini, bersamaku….”

Tengah bermimpi di siang bolongkah wanita ini?

***

SEMUA perempatan dari Charring Cross, Time Square, Scotts Road sampai Ciawi memendam sihir yang bisa memenjarakan jiwa. Dulu di Charring Cross mereka saling tunggu, sebelum kemudian berjalan bersama-sama menyusuri Oxford Road yang gemerlapan.

“Yang kusukai dari musim gugur adalah angin yang hembusannya tak tentu arah, membawa suara datang dan pergi,” kata lelaki itu kepada wanita lawan bicaranya. Mereka duduk-duduk di bangku taman persimpangan Leicester Square setelah kaki agak pegal karena jalan kaki yang cukup jauh. Daun-daun yang melayang kelihatan bertambah warna kuningnya dikarenakan cahaya lampu mercury.

“Ya, seperti suara musik pengamen itu,” si wanita menyetujui.

Di trotoar di depan toko khusus yang menjual barang-barang dari Swiss memang terlihat ada pengamen, lelaki berambut panjang, berjaket blue jeans, menyanyikan lagu-lagu Don McLean. Dari penampilannya bisa dipastikan ia sisa laskar tahun 1970-an.

“Tahukah kamu lagu yang bertiup sayup-sayup itu?” tanya si lelaki.

“Starry starry night…,” jawab si wanita.

“Ha-ha, banyak orang menyebutnya demikian, judul sebenarnya Vincent. Itu adalah penghormatan untuk pelukis Vincent Van Gough untuk karyanya Starry Night. Malam yang berbintang seperti ini.”

Keduanya menatap langit, melihat bintang-bintang. Langit cerah di musim gugur.

“Melihat langit biru berbintang ini pun akan susah kalau kita pulang nanti,” kata wanita itu.

“Nanti kita cari tempat yang masih memungkinkan kita untuk melihat langit yang masih membiru, bukan yang tersaput kabut polusi,” kata lelaki itu setengah berkhayal.

“Kamu berpikir untuk kembali ke kota kecilmu?”

Lelaki itu tersenyum. “Tidak,” katanya. “Adakah sebuah tempat, di mana kita akan bisa menghirup udara gunung, namun tidak menjauhkan kita dari mesin espresso….”

Keduanya tertawa. Petang yang penuh khayal. Angin berhembus kian dingin.

“Kita menyeberang ke kafe itu…,” ajak si wanita.

Mereka bangkit, dan berjalan berpelukan.

***

BANYAK orang hidup dalam kenangan–atau, adakah seseorang yang hidup tanpa kenangan? Sementara seorang wanita tanpa sadar setia menghidupi dan menunggui kenangannya di perempatan kota seperti saya ceritakan di atas, pasangan lelaki-perempuan di Charring Cross itu pada masa sesudahnya dengan sadar dan sengaja menghidupkan segala sesuatu di masa lalu di sekelilingnya.

Sama-sama lulus dari Architectural Association Graduate School, London–sekolah arsitektur terkemuka di Inggris–dengan segala modal yang ada mereka membangun tempat tinggal di atas bukit berlembah di dekat perempatan kota kecil yang mereka perhitungkan tetap berada dalam jangkauan kehidupan kota metropolitan. “Karena kami tidak bisa jauh-jauh dari mesin espresso…,” ucapan itu sering mereka lontarkan.

Batas ruang mereka bukanlah tembok ataupun kaca dari arsitektur tempat tinggal mereka, melainkan keluasan pandangan berikut kawasan imajinasi yang tertangkap indera. “Ladang bukit lembah gunung itu milik kami….”

Tentu itu hanya canda mereka, menanggapi saudara teman kenalan yang berkunjung ke situ dan mendapati bagaimana sebuah bangunan betul-betul dirancang semata-mata untuk mengonfigurasi pemandangan alam sekelilingnya.

Dari lingkungan desa mereka mendapat pelajaran baru akan tanaman yang katanya mengundang kupu-kupu seperti lamtana, soka, alamanda, bauhemia, dan lain-lain. Mereka integrasikan tanaman bunga-bungaan sampai ke hibiscus dan bunga sepatu dengan berbagai variasinya, yang ternyata memunculkan sesuatu tak terduga. Bukan hanya kupu-kupu yang singgah tetapi juga berbagai jenis belalang, burung, dan entah makhluk apa lagi terutama serangga yang modelnya begitu bermacam-macam. Mereka kebanyakan masuk rumah karena tersesat–termanipulasi oleh dinding-dinding kaca. Sambil menyelamatkan makhluk-makhluk yang tersesat ke dalam rumah itulah mereka makin mengenali berbagai jenis makhluk hidup tadi.

Di antara berbagai hal, yang menjadi favorit lelaki ini adalah perempatan di sekitar situ. “Yang kusukai dan kusukuri, semua yang hidup dalam kenanganku seperti berpindah ke sini?,” katanya. “Kabut, hawa dingin….”

“Dan Charring Cross…,” timpa si wanita, teman hidupnya.

“Perempatan itu bisa Charring Cross, bisa Tuxedo Junction…,” kata lelaki itu menyebut suatu tempat yang dulu mereka suka berkencan. “Tetapi juga bisa berarti perempatan di kota kecilku dulu, dengan penanda kota berupa gedung bioskop bergaya art deco, yang seluruh anak muda kota pernah berpacaran di dalamnya,” lanjutnya.

“Termasuk kamu?”

“Ya, cinta monyet remaja, dengan anak pemilik toko di dekat situ. Namanya Li Hwa, wajahnya ketika dewasa sekarang pastilah seperti Lin Ching-hsia…,” dia berseloroh menyebut nama bintang film Taiwan kesukaannya, yang film kekanak-kanakannya, Semi-Gods and Semi-Devils ia tonton berkali-kali. Ya, Li Hwa boleh jadi sekarang secantik Lin Ching-hsia….

***

HANYA saja, ah, banyak wanita yang sebenarnya cuma cantik dalam kenangan kita. Kadang kita kecewa belaka, mendapati teman lama telah berubah tidak seperti dalam bayangan kita.

Selain itu, ada yang kurang diketahui lelaki ini, yakni mengenai makna kenangan bagi orang per orang. Hidupnya bergulir dari satu tempat ke tempat lain, baik dikarenakan sekolah maupun pekerjaan serta beberapa hal di luar itu. Ia membangun mimpinya sendiri, menjadikan gunung-gunung dan lembah di sekelilingnya sebagai fiksi yang seolah sesuatu yang otentik, nyata, atau dalam istilah intelektual yang menjadi bagian kehidupannya disebut sebagai “hiper-realitas”. Perempatan di dekat situ yang dalam pandangan orang lain boleh jadi menjengkelkan karena banyaknya angkutan kota alias angkot yang ngetem menyebabkan kemacetan lalu lintas, berikut pedagang yang menggelar dagangannya menjorok ke jalan, dia percantik dalam narasinya seolah itu Charring Cross atau Tuxedo Junction. Dengan kenangan dan gagasan itulah dia membangun kehidupan sehari-hari dengan wanita teman hidupnya.

Ia tak tahu keadaan sebenarnya dari beberapa hal yang telah ia tambal-sulam menjadi suatu narasi, menjadi sebuah kesadaran: state of mind. Misalnya perempatan kota di masa kecilnya dulu. Tahukah dia, bahwa seorang wanita, yang ia selorohkan sebagai Lin Ching-hsia, masih mengenang dan merindukannya? Atau baiklah, Li Hwa, sungguh tidak seperti Lin Ching-hsia alias Brigitte Lin seperti dibayangkannya. Sehari-hari, Li Hwa menunggui toko peninggalan keluarga, yang keadaannya tak berubah sejak dari dulu kala.

Kini, Li Hwa dan sejumlah pedagang lain di sekitar perempatan itu tengah cemas karena usaha mereka akan digusur. Seluruh kawasan itu akan dibangun menjadi kawasan baru, yang katanya akan lebih modern termasuk dengan pembangunan mal segala.

Kalau pembangunan itu benar-benar dilaksanakan, mereka bakal kehilangan bukan hanya tempat usaha, tetapi juga tonggak kenangan yang menjadi penanda perjalanan hidup kota mereka: gedung bioskop di perempatan kota.

Gedung bioskop mereka bakal dirobohkan. Tanda-tandanya sudah kelihatan. Film sudah tidak diputar lagi. Poster-poster sudah tidak dipasang, meninggalkan papan besar tempat pemasangan poster melompong dan kelihatanlah usang serta lapuknya kayu-kayu tempat memasang poster itu.

Tanpa gedung bioskop itu, apa artinya kota ini? Kehidupan sudah berakhir di perempatan tersebut, sementara di perempatan yang lain lagi, narasi demi narasi terus dilahirkan berdasar fakta yang tak lagi ada.

*** Banjarsari, November 2005

Entry filed under: Bre Redana. Tags: .

Kota yang Menyenangkan (Rahasia Putri Kukis) Indrakila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: