High Makaroni

April 6, 2011 at 11:48 am Leave a comment


Cerpen Bre Redana Silakan Simak!
Dimuat di Suara Merdeka Silakan Kunjungi Situsnya!

HARI masih sangat pagi. Kota belum bangun. Di seluruh kota hanya ada aku dengan dia -yang dari jarak sangat jauh sudah kulihat, itu pasti dia: menunggu di perempatan itu. Dari kejauhan pula, sudah terasa energi magnetik perempatan tersebut, suatu tempat yang mengandung pusat kekuatan bumi. Di planet Bumi, hanya beberapa tempat mengandung kekuatan seperti ini, di antaranya konon Machu Picchu, Everest, dan Stonehenge.

Baiklah kugambarkan keadaannya ketika aku sampai di perempatan itu. Dia berdiri bertelekan tiang besi kuno penunjuk jalan yang tersisa dari zaman sejak sebelum aku lahir, mungkin juga sebelum dia lahir. Di atas tiang besi terekat lempengan petunjuk arah yang posisinya bersilang. Menunjuk arah barat -semua yang pernah tinggal di kota ini paham benar mana timur-barat-utara-selatan- tertulis Makaroni (dengan panah kecil di atasnya, tertulis 500). Di atasnya ada lempengan lain menunjuk arah selatan. Tulisannya High. Karena petunjuk di tiang besi itu, maka penduduk kota menyebut perempatan ini sebagai High Makaroni.

Sejenak aku terkesima. Aku melihat lingkaran cahaya di kepalanya, yang seketika lenyap ketika aku mencoba mengerdip untuk menegaskan pandangan. Halusinasi dari kebanyakan minum bir sepagi inikah?

Ia tersenyum, menunjukkan deretan gigi yang sebagian menghitam. Matanya merah. Tangannya menenteng botol minuman keras. Kulitnya yang putih sampai ke telapak kaki memperlihatkan hidup yang tidak terurus. Kakinya yang beralas sandal japit kelihatan kotor oleh tanah mengering di sana-sini. Dia mengenakan jaket hijau tentara, sama seperti aku.

Kami bersalaman. Pagi beku. Tak ada apa-apa dan siapa-siapa. Yang menyaksikan pertemuan ini hanya cewek cantik telanjang berselimutkan sprei di gambar poster film dari bioskop kuno yang makin butut persis di perempatan ini.
***
BERDUA kami mulai berjalan beriringan menuju arah barat, ke arah Makaroni. Bangunan-bangunan kuno pecinan di sepanjang jalan masih tertutup jendelanya. Begitu pula bangunan yang masih tersisa seperti sebagaimana adanya dulu, berikut catnya yang berwarna hijau. Di lantai dua bangunan itu dulu terdapat pemancar radio amatir YDA7C2.

“Musik yang terdengar di sepanjang jalan ini dulu yang mendorong aku bermusik…,” katanya. “Setiap kali melewati jalan ini, aku mendengar musik keluar dari jendela-jendela yang terbuka. Rolling Stones, Bob Dylan, Dara Puspita… Di pojok sana suara musik keluar dari pintu rumah yang terbuka, dari ruang tamu dengan speaker ditaruh di atas genthong. Disetel keras-keras, The Beatles…,” lanjutnya. “Di rumah peninggalan Belanda yang ditempati pejabat pindahan dari Jakarta, yang anaknya cantik-cantik, lain lagi. Bach atau Mozart…,”

Angin berdesir. Masih dingin seperti dulu. Apa karena ini bulan Agustus, musim kemarau? Sangat dingin pada malam dan pagi hari, sebaliknya menjadi sangat panas pada siang hari? Beberapa bangunan di sepanjang jalan ini telah berubah. Ada yang menjadi toko handphone, warnet, tempat foto copy, dan lain-lain. Dulu, di sepanjang jalan ini hanya ada beberapa toko. Yang paling terkenal toko penjual oleh-oleh, Cap Kelenteng.

Kami melangkah, tanpa siapa menentukan apa atau ke mana. Mungkin masa lalu yang semata-mata membimbing kami, sehingga langkah selalu beriring. Lalu kami sampai ke lapangan, yang di seberangnya terdapat rumah bekas asisten residen.

“Kita ke pohon beringin itu,” katanya.

Bersama-sama kami berada di bawah pohon. Dia memberi isyarat agar aku ikut duduk bersila di bawahnya.

“Mari kita tangkap energi kota di sini…,” ucapnya.

“Tapi ini bukan beringin yang dulu,” ucapku, dengan mulai ikut mengambil posisi bersila. “Beringin yang dulu sangat besar, berdiri di setiap sudut. Ditebang karena gagasan agar kota kelihatan terang, tidak angker. Kesadaran kita akan lingkungan datang terlambat…,” kataku sembari tertawa.

“Sama seperti stanplat yang menurun di bawah jalan, dengan atap stanplat diluruskan sejajar jalan di atasnya, menjadi ruang publik yang cerdas. Ketika stanplat digusur dipindahkan ke pinggir kota, juga tak ada orang protes. Kita bisa memprotes tindakan itu sekarang, tetapi kita hanya menjadi orang yang berpikir benar pada saat yang salah…,” ucapnya tanpa tersenyum -yang makin membuatku ingin tertawa.

“Mari…,” ucapnya. “Meski bukan pohon yang dulu, kalau kita yakini bahwa ini pohon yang dulu, dia akan menjadi pohon yang dulu. Sama seperti sesuatu yang palsu, kalau kita yakini itu asli, maka aslilah dia.”

Gendengnya kelihatannya mulai muncul. Dia mengajakku untuk menangkupkan kedua telapak tangan lurus di atas kepala ke arah langit, pelan-pelan sembari menarik udara melalui lubang hidung membawa telapak tangan yang tertangkup ke depan dada. Masih dengan menarik udara melalui lubang hidung, tangan diluruskan ke depan, ditarik ke samping dada, baru kemudian dilepaskan dalam posisi seperti menolak ke depan, sembari melepaskan napas dari udara yang kita hirup lewat hidung tadi melalui mulut.

Hanya pagi yang sunyi, dari kota yang tak berpenduduk -semua penduduknya sedang tidur- menyaksikan dua orang duduk di bawah pohon di lapangan tengah kota, mengolah napas dengan regulasi lewat gerakan tangan serbapelan.

“Bukankah tanpa gerak seperti ini, mekanisme bernapas kita sudah seperti ini?” tanyaku, untuk memancing dia berbicara dan berbicara. “Maksudku, kita memang menarik udara lewat hidung, untuk memenuhi rongga-rongga tubuh….”

“Benar,” katanya. “Yang kita lakukan sekarang hanya melatih kesadaran kita, bahkan terhadap mekanisme yang sifatnya sehari-hari seperti bernapas. Inti kehidupan adalah kesadaran….”
***
AGAKNYA tidak terlalu meleset mencari tokoh seperti dia. Agak gila, tapi tidak gila-gila amat. Ini semua berhubungan dengan proyek yang diselenggarakan oleh para bekas pemukim kota ini, yang sekarang tinggal di kota besar. Ribuan warga kota yang telah pindah di kota besar dan jarang atau tidak pernah bertemu lagi satu sama lain itu merencanakan pertemuan besar beberapa bulan mendatang. Mereka akan menerbitkan buku kenangan mengenai kota ini, berikut beberapa sosoknya yang dikenal masyarakat seluruh kota di zamannya. Semua tokoh yang dikenal di seluruh kota ketika kami inventarisasi, apa boleh buat, ternyata umumnya orang gila, orang kurang waras. Baiklah, bukankah orang-orang gila itu nyatanya telah menjadi bagian hidup kita semua?

“Carilah Jerry, dia yang paling bisa diajak bicara…,” kata lingkungan kecil teman-temanku yang memprakarsai rencana pertemuan besar itu. “Kalian sama-sama pemabuk.”
Jerry yang kami bicarakan adalah gitaris grup band di kota kami dulu -dia berganti-ganti membentuk band dengan nama berbeda-beda- yang meski usianya jauh di atasku, tapi kami saling kenal sejak aku kecil (orangtuaku waktu itu selalu risih kalau aku bertukar sapa dengan Jerry).

“Di mana dia?” tanyaku.

“Ia tinggal di kota S, di lereng gunung L,” kata seorang teman menjelaskan. “Kami bisa membantu mencarikan kontak.”

Kontak didapat, dan Jerry menghendaki ketemu aku di kota yang dari namanya saja sudah jelas semata-mata sebuah kota yang terbentuk dari kesadaran teks: Alaska. Kota ini dulu berada di tengah-tengah hutan atau alas karet. Dari situ didapat nama Alaska -singkatan “alas karet” (belakangan, beberapa orang menyebutnya cukup dengan “Alas”).

Berangkatlah aku naik bus malam menuju Alas. Dini hari, bus sempat berhenti di satu pemberhentian di pinggir kawasan hutan yang kini telah terang terbuka karena pohon-pohon ditebangi untuk dijadikan rumah dan warung-warung. Seperti pada pemberhentian sebelumnya, ketika semua orang turun makan, aku turun untuk minum bir.

Jelas semata-mata pusat kekuatan bumi yang menarik kami, bertemu di perempatan High Makaroni -satu tempat, satu nama, yang tak akan Anda bisa temui di manapun kecuali di sini, di kota kami.
***
KAMI berdiri, dengan rongga tubuh terisi oleh seluruh energi bumi kota kami. Lalu melangkah lagi, menuju High -tempat di ketinggian kota, arah selatan. Anda tak usah tanya, mengapa tempat itu namanya High, yang lain Makaroni. Mungkin High maksudnya memang tinggi, di ketinggian, sementara Makaroni mungkin karena di situ dulu ada pabrik makaroni, atau orang-orangnya suka makan makaroni.

Yang kami tuju adalah tempat dulu Jerry dan teman-teman mudanya bermarkas. Tempat itu dulu rumah pemilik toko alat-alat musik, yang kemudian menjadi bapak angkat dari kelompok band Jerry dan teman-temannya. Di situ pula dulu mereka biasa latihan band.

“Kami tak pernah bercita-cita jadi pemusik terkenal atau apa pun, katakanlah model “idol-idol”-an sekarang. Kami bermusik semata-mata bermusik…,” katanya.

Tentu saja, adakah kesadaran dan cita-cita, ketika bermusik dengan sehari-hari dikelilingi aroma asap ganja…

“Ketika kami punya kesempatan main rutin, dikontrak beberapa klub di kota besar, sering kami dihentikan ketika main. Kami dianggap tak tahu kapan berhenti, dan hanya membawakan musik yang itu-itu saja berulang-ulang setiap malam…,” ucapnya, kali ini dengan sedikit senyum, mungkin teringat ketika dia bermusik sambil fly high dulu.

Tempat mereka biasa latihan itu sudah berubah total. Sama sekali tak tersisa kenangan lama. Bangunan rumah lama dulu telah diruntuhkan, diganti menjadi bangunan besar, kantor sebuah bank.

Tak ada tanda-tanda kehidupan di situ. Kami berdiri di depan pintu pagar yang masih tergembok. Tempat berilusi mengenai cinta, perdamaian, counter culture, telah menjadi kantor tempat perputaran uang… Ah…

Lama kami berdiri di depan situ, sambil membaca berulang-ulang huruf-huruf besar di atas bangunan. Sampai matahari diam-diam merekah. Lalu kami melangkah ke arah selatan, ke tempat yang lebih tinggi lagi, menuju bangunan kuno (dulu di tembok bangunan bagian atas tertulis tarikh tahun pembangunan, 1886, sementara di kiri-kanan pintu tertulis nama yang mungkin nama pasangan penghuni rumah itu, yakni: McKernan di kiri dan Cynthia di kanan) yang terletak di atas bukit kecil. Dulu, rumah itu kelihatan begitu anggun. Di depannya terdapat pohon kelengkeng, sementara di bawah bukit mengalir sungai berair jernih.

Kini, bangunan itu benar-benar luruh dalam keruntuhan. Hanya tembok-tembok utama masih berdiri. Pohon kelengkengnya sudah berongga batangnya saking tua dan tidak terurus. Sungai di bawah bukit menyempit, airnya tidak lagi bening, bahkan kelihatan hampir mengering.

Barulah kelelahan terasa, setelah perjalanan dengan bus semalaman dan jalan kaki kesana ke mari pagi ini -dalam pengaruh berbotol-botol bir yang membikin kepala agak berat. Kami memasuki bangunan yang tinggal puing-puing, yang ditumbuhi rumput-rumput dan ilalang liar. Di satu sudut tempat masih tersisa lantai tegel, kami berhenti, membersihkan sekenanya tempat itu dari debu, sebelum kemudian sama-sama merebahkan diri.

Pagi masih tetap sunyi. Berpendudukkah kota ini? Kesadaranku mulai hilang, disergap kantuk. Dalam alam yang melayang-layang, pada pagi yang hening ini, di kepalaku tiba-tiba seperti muncul suara musik, dari Bob Dylan, Rolling Stones, sampai Grateful Dead.***
Ciawi, 2007

Entry filed under: Bre Redana. Tags: .

Ketapang Kencana Palmerah Underground

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: