Mbak

April 6, 2011 at 12:04 pm Leave a comment


“JANGAN percaya pada novelis,” katanya. “Jangan pernah yakin, bahwa kita tidak bakal dibawanya ke tempat tidur pada suatu hari, telanjang, di antara halaman-halaman buku….”

 

DENGAN gembira dan tertawa-tawa ia mengucapkan kata-kata dari buku yang dia pamer-pamerkan padaku. Buku itu berbahasa Inggris, dan kutipan tadi terjemahan bebas saya atas apa yang diucapkannya. Dalam beberapa hal, aku kadang menilai tingkah dia “yang usianya dua tahun lebih tua dariku, oleh karenanya aku memanggilnya mbak”, agak kekanak-kanakan. Untuk soal terakhir itu, ia tampaknya menangkap persepsiku terhadapnya, menerimanya secara suka rela, dan kemudian tingkah yang sering berbau kekanak-kanakan itulah yang memang sengaja dimunculkannya di depanku.

 

Atau ia lebih merasa aman dengan pola hubungan seperti ini “Karena dalam dirinya, sebenarnya berkecamuk dorongan lain, bahwa sangat mungkin di antara kami berdua bisa terlibat hubungan” lebih daripada ini “Persoalannya Saudara-saudara, sering ada situasi tertentu dalam hubungan perempuan-lelaki, yang membatasi mereka untuk bisa begitu saja saling mengekspresikan ketertarikannya, mewujudkan dorongan itu menjadi “taruhlah” bahasa “eksistensialnya”: berhubungan seks.

 

Mana mungkin itu aku lakukan bersamanya. Entah apa kata sekeliling kami “atau bahkan kata dunia” kalau hal itu terjadi. Meskipun, sebenarnya dalam diriku terus terang selalu menggelegak gairah setiap kali melihatnya, atau bahkan sekadar mengingatnya. Seluruh penampilan kewanitaannya selalu mengundang berahiku. Betisnya, pinggangnya yang terpelihara bentuknya, sampai payudaranya “yang tidak terlalu besar” yang sangat mungkin terjaga “kesopanannya”, dalam arti tidak terjamah sembarang tangan, sering tak terhindarkan melintas di benakku.

 

Apakah dia sebenarnya menangkap juga apa yang berkecamuk di benakku. Jangan percaya pada novelis…. Oleh orang-orang tertentu, aku memang dianggap sebagai “novelis”. Anggapan atau sebutan itu selalu membuatku gamang. Meski pernah menghasilkan dua buku novel yang diterbitkan penerbit kurang dikenal, aku tidak pernah punya nyali untuk menyebut diri sebagai novelis. Dua buku itu pun kuanggap gagal. Aku sendiri malu kalau membacanya. Kulihat-lihat, terlalu banyak cerita dan adegan seks yang tak berjuntrungan.

 

“Jangan percaya pada novelis….”

 

Kupegang tangannya untuk mencoba merebut buku yang dipamer-pamerkannya. Ia makin tertawa kegirangan. Aku menangkap kulit tangannya yang halus….

 

Ah Mbak….

 

DIA adalah putri bude alias ayah kakak. Dulu kami dibesarkan sama-sama di Semarang, karena begitu lulus sekolah dasar, aku dikirim ke Semarang oleh ayahku, dititipkan kepada bude. Pertimbangannya, di Bandungan, ayah adalah petani bunga (mawar) di daerah pegunungan bernama Bandungan di Jawa Tengah itu, belum terdapat sekolah lanjutan.

 

Mbak adalah figur kebanyakan siswa di sekolah. Artinya, jejak hidupnya adalah jejak hidup yang juga dijalani sebagian besar orang. Ia bukan “bintang sekolah”, “primadona” yang menjadi rebutan para cowok, mayorete drumband yang membikin semua orang berdecap, tukang pesta yang beredar di mana-mana, dan semacamnya. Bukan. Ia bukan itu semua. Dia hanya sekolah, belajar dengan tekun seusai sekolah atau pada petang hari. Kegiatan lain yang dia ikuti seingat saya sebatas pada rombongan kur gereja.

 

Lalu dia lulus SMA (waktu pesta perpisahan sekolah pun, bahkan barangkali tidak mendapati sesuatu yang istimewa, misalnya dicium cowok yang lantas dikenangnya sebagai kenangan manis). Dia melanjutkan kuliah di perguruan tinggi dengan ketekunan dan rutinitas hidup yang sama, lulus pada waktunya, kemudian melamar kerja di sebuah bank di Jakarta, dan diterima. Sejak itu ia pindah ke Jakarta.

 

“Di bagian apa, Mbak” tanyaku mengenai pekerjaan yang dijalaninya di Jakarta.

 

“Aku menjadi teler,” jawabnya.

 

***

 

ENTAH mengapa, ketika aku mulai terpengaruh pada berbagai kredo kepengarangan “termasuk di antaranya kalau mau mengeksplorasi kehidupan manusia carilah pada pengalaman sehari-hari yang sederhana, bukannya pengalaman spektakuler dan spesial yang barangkali tak dialami semua manusia” aku suka tergoda untuk menokohkan dirinya. Segi apa darinya” Ya tentang kesederhanaan dan semua hal yang bersifat biasa dari hidupnya itu, Saudara-saudara.

 

Aku membayangkan, pekerjaannya sebagai teler, bagian yang langsung menghadapi para nasabah bank, untuk urusan menyetor uang, mengambil uang, mentransfer dana, memindahkan dana antar rekening, dan seterusnya. Ia hanya menjadi perantara dari instrumen hidup yang rasanya lebih fungsional, yakni uang. Siapakah akan memerhatikannya, apalagi dalam urusan penampilan, dia tergolong biasa-biasa saja, bukan “katakanlah” seorang Sophia Latjuba?

 

Lalu aku mereka-reka cerita, bahwa pada suatu saat ada seorang pangeran yang cukup sering mendatangi banknya. Sang pangeran diam-diam suka memperhatikan dirinya, sambil mencari-cari cara, bagaimana bisa berkomunikasi lebih lanjut dengan pegawai bank di garis depan pelayanan nasabah ini, yang umumnya sifatnya menjadi seperti uang? berharga tapi hambar.

 

Tiba-tiba sang pangeran menemukan cara. Pada kertas bank yang isinya selalu cuma kolom-kolom kosong untuk diisi angka-angka, ia berpura-pura salah menulis isian. Dia minta kertas yang lain lagi. Sementara pada kertas yang ia akui sebagai telah salah mengisi tadi, ia tulis kata-kata untuk si Mbak, deformasi sembarangan dari sajak penyair terkenal Chairil Anwar: “Hidup terlalu berharga untuk dibekukan dalam cakrawala angka-angka/Makin jauh dari cinta sekolah rendah/Dan tak ada yang tak terucapkan/Sebelum kita menyerah…. Salam dari saya.”

 

“Ini untuk Anda,” kata sang pangeran mencuri-curi.

 

Jantung Mbak terasa copot menerima pesan tak terduga, yang disampaikan dengan cara yang tak biasa itu.

 

Siapakah pangeran yang telah memutus rutinitas hidupku ini?

 

***

 

ORANG kadang bertanya, mana hal yang sungguh-sungguh terjadi dan mana yang tidak padaku. Ada juga yang langsung menyimpulkan, bahwa yang ditulis seorang pengarang sebenarnya adalah pengalaman pribadi.

 

Tidak gampang aku menjawab pertanyaan itu. Bukankah semua orang punya pengalaman pribadi, dan kalau itu dituliskannya dengan demikian semua orang adalah pengarang? Sebaliknya, ketika seorang pengarang menulis, dia memang menulis sesuatu dari facet-facet pribadinya, mengungkapkan pribadinya?

 

Kembali kepada soal Mbak itu misalnya. Apakah dia benar-benar ada dan punya kaitan hubungan pribadi seperti kuceritakan tadi? Sungguh pertanyaan yang sukar kujawab. Termasuk, ketika seorang wanita benar-benar bertanya padaku: “Apakah yang kamu maksud dalam tulisan itu diriku”?

 

Aku tergeragap. Yang mengajukan pertanyaan tersebut teman dekat, yang karena soal kedekatan dan lain-lain, selalu membuat aku segan terhadapnya.

 

“Bukankah kamu bukan teller sebuah bank”? ucapku. “Dan aku tidak memanggilmu Mbak”?

 

Dia menyungging senyum tipis, yang sulit kutangkap maknanya. Apakah dia tersinggung? Ia berbalik, berlalu dari hadapanku.

 

Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku mengejarnya. “Apakah aku menyinggungmu”?

 

“Kuharap, jangan ceritakan bagian lainnya. Never, never, never…” katanya memutus perbincangan.

 

***

 

SEBENARNYA, tulisan mengenai wanita di bank yang bertugas di bagian pelayanan nasabah atau disebut teler tadi, ada lanjutannya. Wanita itu tidak berdaya belaka, ketika dalam kerutinan bahkan kedunguan pekerjaan sehari-hari, pangeran yang entah datang dari mana itu menjemputnya, memberinya mawar dari kebun keluarganya di Bandungan, Jawa Tengah, memberinya minum anggur merah yang tak pernah dirasakannya sebelumnya, dan membawanya ke tempat tidur…. (Bagian ini kuhapus).

 

Jika Anda bertanya, aku bakal tidak bisa menjawab secara pasti, wanita (atau wanita-wanita) yang kuceritakan itu benar-benar ada atau tidak. Soal Mbak, putri bude, sebagaimana orang yang biasa hidup dalam keluarga besar, aku pasti punya. Teman, dalam suatu relasi yang aku segani, aku juga punya. Teler bank, yang kadang memikat perhatian kita, pasti juga ada, bahkan banyak di kota besar ini.

 

Terus terang, sebutan sebagai novelis (novelis gagal sekalipun) sering membuatku gamang. Benarkah novelis suka membawa wanita ke tempat tidur, telanjang, di halaman-halaman bukunya?

 

Kupegang tangan wanita itu.

 

“Tidak, aku tidak akan pernah menceritakannya…,” janjiku padanya.

 

Dia tersenyum, tampak lega.

 

Banjarsari, Ciawi, Oktober 2004

Entry filed under: Bre Redana. Tags: .

Pelayanan Kudus Amangkurat Pujono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: