Palmerah Underground

April 6, 2011 at 11:50 am Leave a comment


TERSERAH mau percaya pada cerita ini atau tidak: seiring mulai dioperasikannya kereta bawah tanah yang baru saja selesai pembangunannya, muncullah hantu di salah satu stasiunnya, yakni stasiun Palmerah. Korban telah jatuh. Korban ini perempuan, wartawati koran sore dari surat kabar yang berkantor di dekat stasiun tersebut. Perempuan yang kesambet hantu kereta bawah tanah itu menjadi ‘pemimpi berjalan’ (sleep walker).

Keluarganyalah yang pertama-tama repot. Anak perempuan yang baru setahun lulus kuliah dan kini tengah semangat-semangatnya bekerja itu menunjukkan tingkah laku yang rasa-rasanya tidak tampak sebelumnya. Sang anak ini menjadi sering bangkit tengah malam, dan berjalan-jalan dalam keadaan tidur.

Pertama-tama yang mendapati tingkahnya itu kakak perempuannya, yang tidur sekamar dengannya. Sang kakak mendengar kursi di ruang keluarga seperti berderak. Ia melirik jam di atas meja, pukul 02.45 dini hari. Ditolehnya ranjang di samping yang biasa ditiduri adiknya. Kosong. Sang adik tidak di tempat. Ia lihat kamar mandi yang menjadi bagian dari kamar mereka, tidak ada tanda-tanda ada orang di kamar mandi.

Sang kakak bangkit, menuju ruang keluarga. Dia melihat si adik, berjalan-jalan di ruangan itu dengan mata terpejam. Suara berderak tadi memang dari situ, dari kursi yang agak tergeser posisinya karena barangkali tersandung oleh langkah kaki.

“Kartika…,” panggilnya ragu-ragu.

Yang dipanggil tak bereaksi. Malah terus berjalan, menuju ruang lain lagi.

Sang kakak mengikuti. Mereka tak terbiasa main-main seperti ini, dan apa yang tengah terjadi dini hari itu juga sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda main-main.

“Kartika,” panggilnya lagi dengan nada lebih mantap sembari menggoyang pundak adiknya.

Si adik menghentikan langkah. Matanya pelan-pelan terbuka, sebelum benar-benar tampak pulih kesadarannya. Kepalanya menengok kiri kanan.

“Kamu mimpi Kartika…,” kata sang kakak sambil menatap adiknya dengan terheran-heran. “Kamu ngelindur…,”

Kartika termangu-mangu. Napasnya turun naik dengan kuat, seperti baru selesai melakukan pekerjaan berat, atau seperti baru pulang dari perjalanan entah ke dunia mana.

Kakaknya mengambilkan air putih dan meminumkannya. Di luar, malam terang oleh bulan tanggal ke-14.

***

MENYELUSUP dari manakah pengaruh bawah sadar yang menggerakkan Kartika menjadi pemimpi berjalan? Dari cahaya bulan? Karena kejadian kemudian selalu berulang saat bulan menuju dan mencapai purnama penuh? Ah, seperti dongeng novel saja…

Keluarga Kartika menjadi selalu bersiaga setiap malam, terutama saat bulan mulai terang cahayanya. Mereka mengunci baik-baik semua pintu rumah. Ibunda Kartika bahkan kemudian mengikatkan anak kunci di pergelangan tangan, agar tidak bisa dipakai sembarang orang. Ini belajar dari pengalaman, karena apa yang terjadi berikutnya setelah kejadian malam pertama seperti diceritakan di atas, mereka pandang lebih serius lagi.

Ceritanya, malam itu lagi-lagi sang kakak terbangun dan tidak menemukan Kartika di tempat tidur. Yang ada cuma baju tidur yang telah terlepas dan teronggok di atas dipan. Di mana Kartika? Berjalan-jalan lagi di dalam rumah? Ia bangun mengikuti pintu kamar yang terbuka. Tak ada Kartika di ruang keluarga, atau ruang-ruang lain di dalam rumah. Sementara pintu utama kelihatan terbuka. Begitu pula pintu pagar. Gegerlah seisi rumah.

Ayah, ibu, sampai pembantu dan sopir bangun. Mereka menyebar ke mana kira-kira Kartika berjalan. Entah kebetulan atau bagaimana, sang kakak disertai ayahnya yang menemukan Kartika. Mereka berdua mencoba menelusuri Kartika sampai ke stasiun yang baru di sekitar situ, yakni stasiun SDMR.

Stasiun sangat sepi. Ini sebutannya hanya halte. Beberapa lampu halte dimatikan, karena kereta bawah tanah hanya beroperasi sampai pukul 22.00, sementara saat itu waktu mendekati pukul 03.00 dini hari.

Di antara terang cahaya bulan, mereka berdua jelas melihat satu sosok duduk di bangku di peron terbuka stasiun. Dilihat dari sosoknya yang terbilang mungil, rambutnya yang sebahu, itu jelas Kartika. Mereka mendekatinya. Kartika tampak mengenakan pakaian seperti kalau dia hendak berangkat kerja. Hanya saja tanpa rias wajah sama sekali, bahkan rambut tak tersisir. Jelas dia cuma bangkit dari tempat tidur, mengganti gaun tidur dengan pakaian ini. Matanya terpejam. Dia tidur sambil duduk di bangku stasiun, seolah tengah menanti kereta.

“Kartika…,” sang ayah membelainya dengan penuh keprihatinan.

***

BAGAIMANAKAH pengakuan Kartika atas apa yang dialaminya?

“Selalu seperti ada yang memanggilku dari stasiun…,”

Pesona modernitas stasiun bawah tanah yang tengah menjadi barang baru di kota? Dengan stasiunnya yang bersih, dari lantai sampai dinding bernuansa abu-abu, antara bagian bawah dan atas dihubungkan dengan eskalator panjang, tempat duduknya bangku warna-warni biru, kuning, oranye mengingatkan gaya seni rupa Mondrian? Kartika sudah lama menanti-nanti, dan termasuk salah satu penumpang pertama dari banyak orang yang ingin mencobanya, begitu kereta bawah tanah ini beroperasi pertama kali. Sejak itu, dia menjadi penumpang tetap, memiliki kartu langganan, yang tinggal menggesekkan kartu di panel kontrol pagar masuk ruangan stasiun, maka pintu pagar setinggi sekitar satu meter akan membuka sendiri.

“Justru keadaan stasiun yang memanggil-manggilku tidak seperti stasiun bawah tanah yang modern itu,” katanya. “Stasiun itu tua, bergaya gothic dengan tiang-tiang besi berukir, di atas ada lengkungan-lengkungan yang juga berukir, lalu pojok langit-langit yang gelap, di mana kelelawar sering tampak keluar masuk mengepakkan sayap…”

Benar-benar seperti imajinasi yang direkayasa novel berbau misteri. Apakah kelelawar itu kiranya yang memanggil-manggilmu?

Kartika termangu-mangu. “Mungkin…,” ucapnya lirih. “Kelelawar itu hendak menggondolku.”

Mimpi kamu menakutkan……..

“Tidak juga…,” tukas Kartika.

Stasiun tua, lalu kelelawar yang hendak menggondolmu?

“Kan dibawa terbang…,” katanya. Ia memaksudkan, terbang merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Gila, Kartika memang kesambet hantu stasiun. Hantu itu datang sebagai pesona, sebagai vanity, yang menyelinap dalam mimpi seorang perempuan melalui cahaya bulan.

Yang kami sangat khawatirkan, kamu berjalan dalam keadaan tidur. Kami sangat takut sesuatu terjadi, misalnya kamu terperosok ke got, ketabrak bajaj atau sepeda motor….

“Tidak,” kata Kartika. “Dalam keadaan tidur berjalan itu, entah mengapa aku masih bisa melihat sekelilingku. Aku bisa melihat kerikil-kerikil di halaman rumah, pintu pagar, bunga alamanda kita yang warnanya sangat khusus, warna marun itu, pucuk-pucuk pohon bambu yang menari-nari, bougenvil merah ungu di teras tetangga, dan lain-lain…”

Gawat….

“Ya, tapi aku tidak tahu, harus takut ataukah menikmati sensasi semesta yang menakjubkan itu….”

***

TAK banyak yang berubah pada Kartika, selain parasnya yang tampak pucat, terutama pada hari-hari ketika tanggalan pada kalender sistem bulan (lunar system) berada pada sekitar pertengahan. Karena kewaspadaan seluruh penghuni rumah, tak memungkinkan lagi bagi Kartika untuk bangkit dan berjalan-jalan dalam keadaan tidur. Hanya saja, dalam keadaan berbaring di tempat tidur pun tampaknya ada sesuatu yang luar biasa menyusup pada alam bawah sadarnya. Ini bisa dilihat oleh ibu, ayah, kakak, yang pada saat-saat seperti itu dengan rajin menjagai Kartika. Dalam tidurnya yang lelap, sering terlihat Kartika tersenyum, atau kadang seperti berada dalam suatu pengalaman tertentu sampai butiran keringat muncul di jidat. Pagi hari setelah keadaan seperti itu, Kartika biasanya kelihatan lebih pucat dari biasanya.

“Mimpi telah membohongiku,” kata Kartika. “Sedemikian meyakinkan ilusi dalam mimpi-mimpiku, sampai aku merasa itu sebagai sesuatu yang nyata. Persoalannya kemudian, terhadap yang nyata pun aku ragu. Aku meragukan semuanya, baik nyata ataupun mimpi.”

Di kantor ia melakukan pekerjaan dan menyelesaikan tugas seperti biasa. Perbedaannya, dia lebih pendiam. Sebelumnya, teman-teman mengenalnya sebagai sosok yang ceria, banyak bercanda. Menulis berita di depan komputer pun, sering dia lakukan sembari kepalanya mengepit gagang telepon. Ia ngobrol di telepon sambil tertawa-tawa entah dengan siapa, mungkin dengan pacar-?maklum masih single.

Kini ia bekerja dengan diam. Kesannya, dia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan dan segera meninggalkan kantor. Begitu pekerjaan selesai, dia akan langsung kabur menuju stasiun. Di stasiun, dia duduk-duduk di bangku peron, sementara kereta datang dan pergi.

Beberapa teman yang sama-sama pengguna alat transportasi ini, sering melihat Kartika di bangku stasiun itu. Ada juga yang dalam hati bertanya-tanya, mengapa Kartika terlihat hanya duduk-duduk, tidak segera masuk kereta entah ke jurusan mana, yang datang dan pergi setiap kurun waktu maksimal sepuluh menit.

“Mau ke mana Kartika?” seorang teman menegur.

Kartika diam saja, seolah tak mendengar. Matanya menatap lurus ke depan.

Ada juga sedikit gunjingan pada beberapa teman, mengenai sikap Kartika yang dinilai aneh belakangan. Kartika yang makin pendiam, suka duduk-duduk di stasiun, diam dan tak menjawab tegur sapa orang yang mengenalnya….

Apa yang terjadi padanya?

***

TIBA-tiba perbincangan mengenai Kartika berkobar. Kartika hilang. Keluarga Kartika panik, ketika malam itu Kartika lenyap dari rumah. Menurut versi keluarga, sudah tak kurang kewaspadaan mereka, terutama di malam-malam terang bulan seperti malam itu. Semua pintu dikunci, dan anak kunci?masih seperti biasanya?diikat di pergelangan tangan sang ibu.

Tadinya Kartika masih tidur di kamarnya, seperti biasa pula, bersama kakak perempuannya. Akan tetapi, saat terjaga tengah malam menjelang dini hari, sang kakak tidak menjumpai adiknya di tempat tidur.

Ke mana dia? Seisi rumah bangun. Diperiksa setiap sudut rumah, tak ada Kartika. Dicari di lingkungan rumah, termasuk di stasiun SDMR tempat dulu dia ditemukan, tak kelihatan pula jejaknya. Pencarian terus dilakukan, sampai pagi matahari terbit, sampai laporan ke polisi dibuat, untuk menemukan di mana kiranya Kartika.

Kegegeran atas hilangnya Kartika segera menjalar ke mana-mana. Bagaimana seorang perempuan, yang beberapa jam sebelumnya masuk kamar tidur, bisa tiba-tiba hilang? Tanpa apa pun dibawa, selain gaun tidur yang dikenakannya? Sementara semua pintu rumah terkunci? Meskipun?ini sedikit tambahan keterangan?jendela kamar tidur sedikit terkuak, dan semribit angin dini hari yang masuk lewat jendela itu pula yang katanya membikin sang kakak yang tidur bersama Kartika terbangun pada dini hari itu…

Berita hilangnya Kartika segera menghiasi halaman-halaman surat kabar. Beberapa di antaranya menjadi kepala berita, dengan ditambah bumbu-bumbu cerita misteri, mengenai perempuan yang digondol hantu stasiun bawah tanah.

Yang agak kerepotan menempatkan diri dalam kasus hilangnya Kartika justru koran sore tempat Kartika bekerja. Mau ditulis berdasar seluruh informasi yang bisa dihimpun?-di mana hilangnya Kartika memang terasa misterius?-rasanya tidak pas untuk koran berkualitas alias quality paper yang menjadi sifat koran ini. Mau menceritakan panjang lebar mengenai diri Kartika–yang pasti bisa ditulis dengan sangat bagus dan bakal menjadi bacaan menarik, mengingat koran sore ini punya penulis-penulis fitur andal–rasanya juga kurang pas.

Kartika, Kartikasari, di mana sebenarnya kamu…..***

Banjarsari, Ciawi, Februari 2007

****

Entry filed under: Bre Redana. Tags: .

High Makaroni Doa Natal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: