Bapak Meninggal


Di ruangan berukuran tiga kali empat meter ini, duduk melingkar beberapa lelaki yang menghadapi mayat Bapak. Maaf, sebenarnya dia belum berstatus mayat.

Hanya saja dia sekarang sekarat dengan napas satu-satu. Sudah hampir empat hari dia demikian. Tapi nyawanya tetap tak terlepas dari jasad. Kasihan juga. Orang-orang menjadi kebingungan.

Dia sebenarnya bukan bapak kandungku. Dia adalah adik Ibu. Berhubung sejak berumur satu tahun bapak kandungku meninggal dunia karena malaria, akhirnya aku memanggilnya Bapak. Dia sudah lama tinggal di rumah kami, dan menurut Ibu dia tak akan pergi ke mana-mana. Masih tetap di rumah kami, meski dia kelak menikah. Nyatanya, sampai dia sekarat, Bapak belum menikah-menikah juga.

Lelaki yang bersorban dan baju gamis putih itu –biasa dipanggil orang desa, Haji Mahmud– sudah beberapa kali mencoba mendoakan agar Allah sudi membebaskan ruh dari jasad Bapak, sehingga Bapak lepas dari siksaan. Tapi kekuatan doanya tak mempan. Irul, lelaki di sebelah Haji Mahmud, pun telah merapalkan jampi-jampi yang dia dapat ketika berguru di Tanah Jawa, kemudian memukul-mukulkan pelan daun kelor ke jasad Bapak. “Siapa tahu dia memiliki ilmu yang tak benar!” katanya. Namun tetap saja Bapak bernapas pendek-pendek. Sekali-dua berhenti, sehingga seluruh orang di ruangan ini menganggap nyawanya sudah “lewat”. Tapi, tak lama dadanya tetap turung-naik lagi dengan gerakan yang amat memilukan.

Apa kejahatan Bapak sehingga di ujung hayatnya harus menanggung beban sedemikian berat? Menurut Haji Mahmud, dan diamini Sutan Ali, mungkin Bapak pernah melakukan dosa yang amat besar, sehingga Allah menyiksanya sedemikian rupa sebelum meninggal.

“Tapi, aku meminta, apa yang terjadi di sini hanya beredar di benak kita masing-masing. Jangan sampai membocorkannya ke khalayak ramai. Malu! Lagi pula kita berdosa mengata-ngatai orang, apalagi sedang sekarat begini,” kata Haji Mahmud tadi pagi setelah semua selesai mengopi dan sarapan ubi rebus.

“Tapi, orang-orang sudah ramai membicarakan kondisi Harmaen.” Lauddin menimpali. Dia tetangga sebelah rumahku. Aku mengamini apa yang dibicarakan lelaki yang kerap kupanggil “Mang” itu. Orang-orang kampung sudah sibuk membicarakan masalah yang menimpa Bapak. Banyak sudah berspekulasi, mungkin akibat Bapak belum menikah hingga usianya kepala lima, maka Allah berang dan menghukumnya. Ada pula yang mengatakan karena Bapak suka mengintip perempuan mandi sejak dia akil-baliq sampai sakit-sakitan belakangan ini. Persangkaan yang satu ini kurang kusetujui. Bagaimana pun, Bapak tak mungkin melakukan pekerjaan hina seperti itu. Mengintip perempuan mandi? Untuk apa? Kalau memang berhasrat pada keelokan tubuh perempuan, kenapa Bapak tak menikah-menikah sejak dulu?

“Bagaimana, Haji? Aku bingung kalau sampai beberapa hari ke depan, kondisi Harmaen tetap begini. Sudah beberapa hari ini aku absen ke ladang. Mungkin rumput lalang sekarang sudah lebih tinggi dari batang cabe. Lagi pula, sawah yang kami garap anak-beranak, sekarang hanya dikerjakan istri dan dua anakku. Ah, aku bingung!” ucap Rastapi. Meskipun dia mengatakan bingung, tapi dapat kuhitung selama hampir tiga hari berselang, ketika Rastapi ikut menjagai Bapak, tiga puluh batang sigaret di pinggan diembatnya. Belum lagi kalau sarapan, dia selalu menambahkan susu di kopinya. Kemudian menghabiskan begitu banyak potongan ubi rebus. Manakala tiba makan siang dan malam, orang-orang yang menunggui Bapak segera pulang ke rumah masing-masing. Tapi Rastapi mengatakan tanggung. Itulah yang membuat Ibu terpaksa menyuruh Bedah, kakakku, agar memasak nasi lebih banyak, kemudian membeli ikan kaleng untuk tambahan lauk.

“Apakah bapakmu tak pernah shalat, Bir?” Latief, teman sebayaku, yang kebetulan ikut bersamaku senja ini menunggui jasad Bapak, mencoba mengemukakan prasangkanya.

“Bapak paling taat melaksanakan shalat,” bantahku. “Bahkan, dia sangat berang kalau suatu kali mengetahui aku belum shalat.” Teringat aku saat Bapak menghantam pantatku dengan rotan, ketika aku lupa shalat isya. Untung saja Ibu melerai. Namun hampir seminggu aku mendendam kepadanya. Berulang-ulang dia mencoba meminta maaf kepadaku lewat Ibu.

Berulang-ulang aku tak menanggapinya. Sehingga Ustadz Naen yang mengetahui aku bermusuhan dengan Bapak, mengingatkanku. Apa yang telah Bapak lakukan memang benar. Aku yang kala itu sudah berusia sepuluh tahun, memang harus dipukul atau dicambuk apabila lupa shalat. Kata ustadz, shalat adalah tiang agama. “Coba, kalau rumahmu tak memiliki tiang, apakah dia dapat berdiri kokoh hingga sekarang? Begitu pula kalau kamu tak melaksanakan shalat, maka ibadahmu yang lainnya akan sia-sia. Tak bisa kau bangun rumahmu di sorga.” Utstadz menceramahiku.

Sebetulnya aku tak faham apa yang dia ucapkan. Namun, aku memutuskan menerima maaf Bapak.

“Apa ada yang kurang dari perlengkapan Harmaen, Bi?” tanya seorang perempuan sebaya Bapak kepada Ibu yang telah membengkak matanya sebab terlalu lama menangis.

Ibu menatap perempuan itu. “Sudah cukup, Is! Bahkan saat dia mulai sakit-sakitan, aku sudah membelikan semuanya. Bukannya ingin dia cepat-cepat meninggal. Melainkan persiapan agar tak tergopoh-gopoh saat Allah memanggilnya.”

“Lalu, apa penyebab sehingga Harmaen susah meninggal? Lihatlah, sekali-sekali wajahnya seperti menahan sakit yang amat sangat. Apa Bibi tak kasihan?”

“Siapa yang tak kasihan, Is. Aku selalu menyayanginya dari dulu hingga sekarang. Akan tetapi, aku tak tahu apa penyebab dia susah meninggal.”

“Dia tak pernah menceritakan apa-apa kepada Bibi? Misalnya, tentang ilmu-ilmu hitam yang pernah dipelajarinya?” Perempuan itu menyelidik. Seperti intel saja dia. Ibu menanggapi dengan gelengan pelan. “Apa dia memiliki hutang yang cukup banyak kepada seseorang atau beberapa orang?” Ibu menoleh.

Dia menggeleng lebih kencang dan tegas. Perempuan itu tertunduk. Dia membisu. Pikirnya, Ibu mulai kesal diberondong pertanyaan yang seolah menyudutkan itu.

Azan Maghrib tiba-tiba mengoyak tingkap yang memantul-mantul dihempas angin. Aku berdiri, menutupkan tingkap itu. Di luar masih ada seorang-dua warga yang duduk-duduk di bawah tarup. Sementara sebagian besar telah berangkat menuju masjid. Haji Mahmud telah meminta kesediaan warga tadi pagi. Bahwa apabila selepas maghrib Bapak belum meninggal, maka semua diminta mengaji Yasin. Siapa tahu itu makbul, meskipun akhirnya semakin memperlebar pengetahuan warga tentang susahnya Bapak meninggal.

Aku tahu dalam batas sebulan –setelah Bapak meninggal (bila dia benar-benar meninggal)– warga masih membincangkannya sambil menanam padi di sawah. Atau saat menderes karet. Atau bersenda-gurau di lepau-lepau yang menyuguhkan kopi yang ramah.

Aku yakin pula, seluruh keluarga di rumah ini akan menjadi keluarga pingitan. Kami pasti tak ingin mendengar cerita-cerita warga tentang prosesi meninggalnya Bapak, yang seolah langsung mengoyak-ngoyak telinga.

“Shalat Maghrib dulu, Bu!” kataku kepada Ibu yang masih duduk memperhatikan wajah Bapak. Para lelaki yang tadi sama-sama berkumpul di situ, telah berangkat ke masjid.

“Sebentar lagi, Her!” tolak Ibu halus.

“Kalau Ibu tak shalat dan mendoakan Bapak, bagaimana Allah berbaik hati melepaskan siksaan sakaratul Bapak?” tegasku. Ibu mengelus kepala Bapak. Dia beranjak, dan pergi ke dapur. Sementara aku menunggu Ibu selesai mengambil air wudhuk, dan kami shalat Maghrib berjamaah di sebelah Bapak.

Suara ribut kemudian mengakhiri Maghrib yang temaram. Aku dan Ibu sudah duduk di posisi semula. Ruangan yang sempit, kemudian disesaki warga. Ruangan di bawah tarup, pun demikian. Semakin tak terbendung lagi berita tentang masalah yang menimpa Bapak. Aib tak mungkin ditutup-tutupi lagi. Dan aku menebak bahwa sebagian besar warga yang berniat yasinan hanya ingin melihat kondisi Bapak lebih dekat. Sekaligus sekadar berbisik-bisik atau lebih tepatnya berghibah.

Nyatanya, setelah yasinan, kondisi Bapak tetap seperti itu. Bahkan dia seakan menahan sakit yang lebih dan lebih lagi saat yasinan berlangsung. Mendadak dengan mata berkaca-kaca, Ibu mengajak Haji Mahmud berbicara empat mata di bilik Ibu.

Aku bingung. Sebenarnya apa yang hendak mereka perbincangkan? Saat keduanya keluar dari bilik, air mata Ibu semakin deras mengalir. Sementara warna wajah Haji Mahmud berubah-ubah. Sekali pucat, sekali merah, sekali ke kondisi asal. Namun yang pasti, berselang seperempat jam, seketika Bapak menghembuskan napas terakhirnya. Membesarlah tangis Ibu. Bersesunggukan para warga. Sementara aku hanya sedikit meneteskan air mata. Aku hanya merasa sedikit kehilangan Bapak. Sebab dia bukan Bapak kandungku. Hanya sekadar panggilan.

Tapi apa yang diperbincangkan Ibu di bilik berdua Haji Mahmud, membuatku penasaran. Bagaimanapun, meninggalnya Bapak, tak bisa terlepas dari hasil perbincangan di antara mereka.

Besok siangnya setelah jasad Bapak dikubur di pemakaman umum, aku menemui Haji Mahmud yang sedang duduk di pinggir luar pemakaman, di atas tunggul kayu. “Pak Haji, bolehkah saya menanyakan sesuatu kepada Bapak?” tanyaku. Aku duduk di sebelahnya sambil menatap lalu-lalang para peziarah.

“Bapak turut berdukacita atas meninggalnya bapakmu, Nak. Sekarang apa yang hendak Anak tanyakan?”

“Saya ingin tahu apa yang Pak Haji dan Ibu bicarakan tadi malam di bilik Ibu. Anehnya, setelah itu, Bapak saya langsung meninggal dunia.”

Haji Mahmud tersenyum. “Sebenarnya ini kisah lucu, tapi bisa dipetik hikmahnya. Ibumu bercerita bahwa saat mengandung dirimu, dia mengidam makan mangga muda. Anehnya, mangga muda itu harus mangga curian. Jadilah Harmaen mencuri mangga dari kebunku. Kau tahu aku sangat kesal. Bahkan sempat aku mendoakan agar maling itu mendapat balasan atas perbuatannya. Tapi semuanya sudah kulupakan, hingga ibumu bercerita tadi malam, bahwa mungkin itulah penyebab Harmaen susah meninggal. Saya tak tahu apakah karena saya memaafkan si maling mangga itu, atau memang ajalnya tiba, hingga Harmaen bisa dikubur hari ini.” ***

April 6, 2011 at 12:10 pm Leave a comment

Amangkurat Pujono


PUJONO atau Mas Pujo dikenal sebagai pemain ketoprak lumayan tersohor. Kami mencarinya di dusun kediamannya di daerah Ngablak di lereng Gunung Merbabu ketika bos atau juragan kami yang mengelola pekan raya di ibu kota provinsi, berkeinginan menghadirkan pertunjukan ketoprak di pekan raya yang bakal berlangsung sebulan penuh, bulan depan. Sudah tak banyak rombongan kesenian rakyat masih tersisa, bahkan sepengetahuan kami berikut orang-orang yang kami tanyai, hanya rombongan ketoprak pimpinan Mas Pujo-lah yang masih aktif. Menurut beberapa orang, rombongan ketoprak itu, Langen Redi Budoyo, masih sering terlihat membuka tobong atau tempat pertunjukan di kota-kota kecil. Ada yang bilang, terakhir Langen Redi Budoyo terlihat di Bawang, sebuah kota kecamatan di dekat Weleri. Namun, ketika kami cari ke situ, sudah tak terlihat jejak rombongan kesenian rakyat itu. Orang-orang setempat mengatakan mereka telah cabut sekitar seminggu lalu. Itulah yang menyebabkan kami kemudian mencari Mas Pujo dan Langen Redi Budoyo-nya di Ngablak–daerah yang menurut informasi yang kami terima merupakan desa tempat asal rombongan kesenian rakyat tersebut.

Tak sulit mencari Mas Pujo di daerah asalnya. Sejak daerah wisata Kopeng, pedagang bunga dan sayur-sayuran sudah bisa menunjukkan di mana Mas Pujo tinggal. “Oh, Pujo ketoprak. Rumahnya di Ngablak…,” kata pedagang bunga yang kami tanyai tempat tinggal Mas Pujo. Seorang tukang parkir mendekat. “Nggoleki sopo?” tanyanya. “Ooo Pujono. Ya, di sana, Ngablak. Naik lagi, sekitar setengah jam dari sini,” sambung tukang parkir itu dengan bahasa Indonesia medok Jawa, menunjuk jalan raya yang menanjak menuju daerah yang disebutnya Ngablak tadi.

Kabut datang bergulung-gulung. Bau asap tembakau yang dicampur remukan kemenyan tercium di mana-mana. Orang-orang di desa di kaki gunung ini memang terbiasa mengisap tembakau yang selain dicampur cengkih biasanya juga dicampur dengan kemenyan.

***

SISA-SISA kejayaan hidup seniman panggung masih terlihat di kediamannya. Ada jalan menurun yang dikeraskan dengan semen sebelum sampai ke tempat tinggalnya. Tempat ini seperti sanggar, dengan pekarangan amat luas. Selain rumah berdinding papan yang merupakan rumah utama, terdapat pendopo desa, di mana tampaknya para anggota Langen Redi Budoyo biasa berkumpul dan latihan. Di pendopo itu terlihat banyak perlengkapan panggung, dari gamelan, dekorasi, sampai properti semacam senjata berupa tombak, pedang, yang semua terbuat dari kayu.

“Monggo, monggo…,” suara Mas Pujo menggema mempersilakan kami masuk rumahnya.

Kami berdua, utusan bos pekan raya, memilih bisa diterima di pendopo saja, yang suasananya lebih terbuka. Dari situ terlihat lingkungan daerah gunung yang asri. Lembah dengan pohon-pohon cemara terlihat di kejauhan. Sementara di sekeliling sanggar Mas Pujo, tampak bunga-bunga seperti kenaka, kembang sepatu, yang meski tidak terlalu terawat tetap berbunga besar-besar.

Tak ada kursi di pendopo. Kami duduk di tikar. Mas Pujo segera bersila dengan sikap sempurna–punggung tegak, pundak rata–ketika menemui kami setelah sebelumnya sempat masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian. Dia berucap, memang sudah sekitar seminggu rombongan ketopraknya prei atau libur.

Seketika matanya berbinar-binar ketika mendengar bahwa maksud kedatangan kami adalah untuk mengundang dia dan rombongan ketopraknya untuk bermain di pekan raya selama sebulan penuh bulan depan.

“Hanya saja, pertunjukan ini sifatnya lain dari biasanya Mas. Pekan raya hanya berlangsung sampai pukul sepuluh malam. Pertunjukan paling bisa berlangsung selama dua jam, sehingga Mas Pujo harus memilih lakon-lakon sederhana. Dekorasi panggung pun harus bersahaja, karena panggungnya kecil. Sifat pertunjukan ini hanya untuk mengenalkan kepada para pengunjung pekan raya akan kesenian rakyat kita yang masih tersisa,” kataku menerangkan, agar dia tak terlalu bersemangat membawa semua perangkat panggungnya yang kubayangkan akan sulit bisa diterapkan di panggung pekan raya. “Dekor juga cukup sederhana saja, tidak bisa memakai layar-layar panggung seperti yang biasa Mas Pujo lakukan,” tambahku.

“Bisa, bisa…,” katanya penuh semangat. “Nanti akan saya bawakan lakon Amangkurat Wuyung. Kanjeng Sunan Amangkurat waktu itu mencari garwo, dan beliau mendengar dari Pangeran Purboyo, bahwa dalang dari Blitar, Ki Wayah, punya putri cantik jelita bernama Ni Sekar.”

“Soal lakon kami serahkan penuh kepada Mas Pujo. Yang penting Mas Pujo bisa memperhitungkan bagaimana pertunjukan yang bakal berlangsung selama tiga puluh hari itu bisa terus-menerus menarik setiap malam. Kami juga ingin tahu berapa orang yang akan Mas Pujo bawa, dan bagaimana kami harus menanggung mereka semua,” aku menyela.

“Amangkurat ini adalah pengganti Sultan Agung. Cerita Amangkurat yang juga disebut sebagai Sunan Tegalwangi ini adalah cerita paling menarik dalam sejarah Mataram,” ucap Mas Pujo. Dia sepertinya tidak mendengar kata-kataku.

Aku mengingatkannya lagi, tentang sifat pertunjukan yang berlangsung di tengah berbagai acara lain ini, yang sebagian besar merupakan pameran barang-barang kerajinan. Dengan demikian, pengunjung yang datang bukanlah melulu penonton ketoprak. Kataku, “Karena itu, Mas Pujo membawakan lakon-lakon yang sederhana saja setiap malam. Kalau bisa yang banyak dagelannya. Penonton yang sifatnya melihat sambil lalu akan lebih suka kalau banyak dagelannya, banyak humornya.”

“Nanti saya sendiri yang akan menjadi Amangkurat atau Sunan Tegalwangi. Beliau itu penguasa yang bengis. Kalau tertawa suaranya mengguntur: hua-ha-ha…,” Mas Pujo berucap sambil menirukan tawa Sunan Amangkurat. Suaranya menggema memecah keheningan senja.

“Siapa yang akan jadi Sunan Amangkurat kami tak peduli. Yang kami kehendaki Mas Pujo menghitung biaya operasional sehari-hari, sehingga kami bisa melaporkan kepada atasan kami dan memperhitungkan anggaran,” ucapku mulai kurang sabar.

“Nanti panjenengan akan lihat sendiri kalau saya jadi Amangkurat. Gigi Amangkurat hitam-hitam, karena selalu mengunyah kinang. Kalau tertawa seperti tadi: hua-ha-ha…,” Mas Pujo memperdengarkan tawanya lagi. “Duduknya begini,” kata dia, sembari memperbaiki posisi duduk bersilanya, seolah sedang duduk di singgasana.

“Mas Pujo…” aku berusaha mengingatkannya.

“Ya…” jawabnya. Nada bicaranya seperti seorang raja menerima laporan bawahan. “Sunan Amangkurat menitahkan Pangeran Purboyo untuk memboyong putri Ki Wayah untuk dibawa ke Mataram, untuk dihaturkan di hadapannya.”

Aku menengok temanku. Dia cuma mengangkat bahu. Kami sama-sama tak tahu, bagaimana meluruskan Mas Pujo, bahwa yang hendak kami bicarakan ini adalah soal bisnis, bukan soal Amangkurat mencari istri.

“Tahi kucing dengan urusan Amangkurat mencari istri,” secara sambil lalu aku mengucapkan kata-kata kurang ajar.

“Hua-ha-ha…,” Mas Pujo lagi-lagi tertawa. “Cerita ini benar-benar terjadi di zaman Mataram,” katanya sambil menuding-nudingkan jarinya. “Seperti tersebut dalam Serat Babad Tanah Djawi, di situ disebutkan, Kacariyos, Ki Wayah agadah anak estri satunggil, sakalangkung ayu, namun sampun gadah bojo. Anunten bojonipun tiyang istri wau, andikakaken mejahi….Jadi wanita ayu itu punya suami. Amangkurat menitahkan, supaya suaminya dibunuh saja. Ngek…. Nah, ramai kan? Karena Sunan Amangkurat menghendaki, tidak peduli si perempuan sudah bersuami, ya tetap diambil begitu saja. Cocok kan dengan keadaan sekarang?” ucapnya kepadaku.

“Peduli setan!” ucapku dalam hati. Tak kujawab pertanyaannya. Aku melirik temanku. “Kami permisi, mohon pamit Mas Pujo….” kataku.

“Lhoh, tunggu dulu. Panjenengan harus tahu, bagaimana nantinya Sunan Amangkurat benar-benar jatuh cinta pada wanita itu. Setelah diperistri, wanita itu diberinya nama Ratu Wetan. Ratu Wetan menjadi istri yang paling dicintai Sunan di antara istri-istrinya yang lain. Sebaliknya, karena duka lara ditinggal mati suaminya yang dibunuh Sunan, Ratu Wetan terus-menerus menangis setiap malam, sampai akhirnya jatuh sakit….”

Kami berdua berdiri, bersiap meninggalkan pendopo. Tak ada gunanya menanggapi orang ini.

Sedangkan Mas Pujo makin menjadi-jadi. Dia tampaknya makin terbayang-bayang akan kecantikan Ratu Wetan-nya. “Ratu Wetan jatuh sakit, dan akhirnya meninggal. Sunan Amangkurat tidak membiarkan liang lahat kuburan Ratu Wetan ditutup. Bahkan di liang lahat itu mayat Ratu Wetan disetubuhinya. Edan, ini benar-benar cerita edan,” Mas Pujo berucap, entah ditujukan kepada siapa.

“Edan, memang edan…” kataku, di ambang meninggalkan kediamannya.

“Edan kan? Nah, bagaimana kalau itu kami bawakan nanti?” tanya Mas Pujo.

“Silakan saja. Kalau Mas Pujo sudah menghitung biaya untuk tampil dan lain-lainnya, silakan hubungi kami di Hotel Sriti. Kami menginap di situ sampai besok pagi,” kataku sembari minta diri.

“Ooh, menginap di Hotel Sriti? Baik, nanti saya akan temui panjenengan…” katanya.

***

SAUDARA-SAUDARA, ada satu hal yang sempat aku pertimbangkan beberapa kali, sebelum berkeputusan menceritakan kelanjutan pengalaman bertemu Mas Pujo tadi. Baiklah. Begini ceritanya. Tak berapa lama setelah kami tiba di hotel petang itu, telepon di kamarku berdering. Waktu itu aku baru saja habis mandi dan berganti pakaian. Petugas hotel memberi tahuku, seorang tamu, namanya Pujono, menunggu di depan.

“Hah, dia menyusul? Mau apa dia?” pikirku.

Segera aku keluar untuk menemuinya. Di ruang tamu hotel sederhana ini, terlihat Mas Pujo. Ia duduk bersila di kursi panjang. Di hotel ini pun, jangan-jangan dia berpikir sebagai Amangkurat….

“Hua-ha-ha…” ia tertawa menyambutku.

Aku bersiap-siap untuk berhadapan dengan Sunan Amangkurat lagi. “Mas sudah putuskan semuanya? Kita langsung bicara soal bisnis saja, tidak usah membicarakan lakon segala. Sudah cukup bicara soal Amangkurat,” kataku tegas, karena aku tidak ingin malamku di hotel ini bakal tersia-sia.

“Ha-ha-ha…” dia tertawa lagi. Kemudian didekatkannya mukanya kepadaku. Dia ingin bicara pelan-pelan rupanya. “Sssttt…,” bisiknya memberi isyarat. “Mas butuh teman tidur? Yang saya ceritakan tadi, si Ratu Wetan, saya bawa ke sini. Dia bisa jadi teman tidur,” lanjutnya dengan suara berbisik.

“Hah?” aku yang terperangah. Amangkurat Pujono ini serba tak terduga.

“Dia menunggu di luar. Mas tunggu di sini. Akan saya bawa kemari…” ucapnya sembari berdiri, tanpa memberiku kesempatan untuk menimbang-nimbang sama sekali.

Tak berapa lama kemudian, dia masuk bersama seorang wanita. Aku merasa dia bawa dari satu keterpanaan ke keterpanaan. Wanita ini cantik, meski sudah tidak muda lagi. Usianya dugaanku tiga puluhan, atau bahkan menjelang empat puluh. Ada beberapa helai rambutnya yang kelihatan mulai memutih. Inikah Ratu Wetan….

Rombongan ketoprak Mas Pujo akhirnya jadi main, mengisi acara di pekan raya. Pertunjukannya tak istimewa, bahkan boleh dikata gagal. Mereka tak pernah berhasil menarik penonton seperti diharapkan.

Dari situ aku berkesimpulan, tontonan ini memang sudah masanya gulung tikar. Kalau toh ada yang masih bisa dikenang dari “laskar terakhir” kesenian rakyat ini, hanyalah si Ratu Wetan, wanita cantik, yang entah sudah berapa lelaki menidurinya….

Jakarta, Mei 2004

April 6, 2011 at 12:07 pm Leave a comment

Mbak


“JANGAN percaya pada novelis,” katanya. “Jangan pernah yakin, bahwa kita tidak bakal dibawanya ke tempat tidur pada suatu hari, telanjang, di antara halaman-halaman buku….”

 

DENGAN gembira dan tertawa-tawa ia mengucapkan kata-kata dari buku yang dia pamer-pamerkan padaku. Buku itu berbahasa Inggris, dan kutipan tadi terjemahan bebas saya atas apa yang diucapkannya. Dalam beberapa hal, aku kadang menilai tingkah dia “yang usianya dua tahun lebih tua dariku, oleh karenanya aku memanggilnya mbak”, agak kekanak-kanakan. Untuk soal terakhir itu, ia tampaknya menangkap persepsiku terhadapnya, menerimanya secara suka rela, dan kemudian tingkah yang sering berbau kekanak-kanakan itulah yang memang sengaja dimunculkannya di depanku.

 

Atau ia lebih merasa aman dengan pola hubungan seperti ini “Karena dalam dirinya, sebenarnya berkecamuk dorongan lain, bahwa sangat mungkin di antara kami berdua bisa terlibat hubungan” lebih daripada ini “Persoalannya Saudara-saudara, sering ada situasi tertentu dalam hubungan perempuan-lelaki, yang membatasi mereka untuk bisa begitu saja saling mengekspresikan ketertarikannya, mewujudkan dorongan itu menjadi “taruhlah” bahasa “eksistensialnya”: berhubungan seks.

 

Mana mungkin itu aku lakukan bersamanya. Entah apa kata sekeliling kami “atau bahkan kata dunia” kalau hal itu terjadi. Meskipun, sebenarnya dalam diriku terus terang selalu menggelegak gairah setiap kali melihatnya, atau bahkan sekadar mengingatnya. Seluruh penampilan kewanitaannya selalu mengundang berahiku. Betisnya, pinggangnya yang terpelihara bentuknya, sampai payudaranya “yang tidak terlalu besar” yang sangat mungkin terjaga “kesopanannya”, dalam arti tidak terjamah sembarang tangan, sering tak terhindarkan melintas di benakku.

 

Apakah dia sebenarnya menangkap juga apa yang berkecamuk di benakku. Jangan percaya pada novelis…. Oleh orang-orang tertentu, aku memang dianggap sebagai “novelis”. Anggapan atau sebutan itu selalu membuatku gamang. Meski pernah menghasilkan dua buku novel yang diterbitkan penerbit kurang dikenal, aku tidak pernah punya nyali untuk menyebut diri sebagai novelis. Dua buku itu pun kuanggap gagal. Aku sendiri malu kalau membacanya. Kulihat-lihat, terlalu banyak cerita dan adegan seks yang tak berjuntrungan.

 

“Jangan percaya pada novelis….”

 

Kupegang tangannya untuk mencoba merebut buku yang dipamer-pamerkannya. Ia makin tertawa kegirangan. Aku menangkap kulit tangannya yang halus….

 

Ah Mbak….

 

DIA adalah putri bude alias ayah kakak. Dulu kami dibesarkan sama-sama di Semarang, karena begitu lulus sekolah dasar, aku dikirim ke Semarang oleh ayahku, dititipkan kepada bude. Pertimbangannya, di Bandungan, ayah adalah petani bunga (mawar) di daerah pegunungan bernama Bandungan di Jawa Tengah itu, belum terdapat sekolah lanjutan.

 

Mbak adalah figur kebanyakan siswa di sekolah. Artinya, jejak hidupnya adalah jejak hidup yang juga dijalani sebagian besar orang. Ia bukan “bintang sekolah”, “primadona” yang menjadi rebutan para cowok, mayorete drumband yang membikin semua orang berdecap, tukang pesta yang beredar di mana-mana, dan semacamnya. Bukan. Ia bukan itu semua. Dia hanya sekolah, belajar dengan tekun seusai sekolah atau pada petang hari. Kegiatan lain yang dia ikuti seingat saya sebatas pada rombongan kur gereja.

 

Lalu dia lulus SMA (waktu pesta perpisahan sekolah pun, bahkan barangkali tidak mendapati sesuatu yang istimewa, misalnya dicium cowok yang lantas dikenangnya sebagai kenangan manis). Dia melanjutkan kuliah di perguruan tinggi dengan ketekunan dan rutinitas hidup yang sama, lulus pada waktunya, kemudian melamar kerja di sebuah bank di Jakarta, dan diterima. Sejak itu ia pindah ke Jakarta.

 

“Di bagian apa, Mbak” tanyaku mengenai pekerjaan yang dijalaninya di Jakarta.

 

“Aku menjadi teler,” jawabnya.

 

***

 

ENTAH mengapa, ketika aku mulai terpengaruh pada berbagai kredo kepengarangan “termasuk di antaranya kalau mau mengeksplorasi kehidupan manusia carilah pada pengalaman sehari-hari yang sederhana, bukannya pengalaman spektakuler dan spesial yang barangkali tak dialami semua manusia” aku suka tergoda untuk menokohkan dirinya. Segi apa darinya” Ya tentang kesederhanaan dan semua hal yang bersifat biasa dari hidupnya itu, Saudara-saudara.

 

Aku membayangkan, pekerjaannya sebagai teler, bagian yang langsung menghadapi para nasabah bank, untuk urusan menyetor uang, mengambil uang, mentransfer dana, memindahkan dana antar rekening, dan seterusnya. Ia hanya menjadi perantara dari instrumen hidup yang rasanya lebih fungsional, yakni uang. Siapakah akan memerhatikannya, apalagi dalam urusan penampilan, dia tergolong biasa-biasa saja, bukan “katakanlah” seorang Sophia Latjuba?

 

Lalu aku mereka-reka cerita, bahwa pada suatu saat ada seorang pangeran yang cukup sering mendatangi banknya. Sang pangeran diam-diam suka memperhatikan dirinya, sambil mencari-cari cara, bagaimana bisa berkomunikasi lebih lanjut dengan pegawai bank di garis depan pelayanan nasabah ini, yang umumnya sifatnya menjadi seperti uang? berharga tapi hambar.

 

Tiba-tiba sang pangeran menemukan cara. Pada kertas bank yang isinya selalu cuma kolom-kolom kosong untuk diisi angka-angka, ia berpura-pura salah menulis isian. Dia minta kertas yang lain lagi. Sementara pada kertas yang ia akui sebagai telah salah mengisi tadi, ia tulis kata-kata untuk si Mbak, deformasi sembarangan dari sajak penyair terkenal Chairil Anwar: “Hidup terlalu berharga untuk dibekukan dalam cakrawala angka-angka/Makin jauh dari cinta sekolah rendah/Dan tak ada yang tak terucapkan/Sebelum kita menyerah…. Salam dari saya.”

 

“Ini untuk Anda,” kata sang pangeran mencuri-curi.

 

Jantung Mbak terasa copot menerima pesan tak terduga, yang disampaikan dengan cara yang tak biasa itu.

 

Siapakah pangeran yang telah memutus rutinitas hidupku ini?

 

***

 

ORANG kadang bertanya, mana hal yang sungguh-sungguh terjadi dan mana yang tidak padaku. Ada juga yang langsung menyimpulkan, bahwa yang ditulis seorang pengarang sebenarnya adalah pengalaman pribadi.

 

Tidak gampang aku menjawab pertanyaan itu. Bukankah semua orang punya pengalaman pribadi, dan kalau itu dituliskannya dengan demikian semua orang adalah pengarang? Sebaliknya, ketika seorang pengarang menulis, dia memang menulis sesuatu dari facet-facet pribadinya, mengungkapkan pribadinya?

 

Kembali kepada soal Mbak itu misalnya. Apakah dia benar-benar ada dan punya kaitan hubungan pribadi seperti kuceritakan tadi? Sungguh pertanyaan yang sukar kujawab. Termasuk, ketika seorang wanita benar-benar bertanya padaku: “Apakah yang kamu maksud dalam tulisan itu diriku”?

 

Aku tergeragap. Yang mengajukan pertanyaan tersebut teman dekat, yang karena soal kedekatan dan lain-lain, selalu membuat aku segan terhadapnya.

 

“Bukankah kamu bukan teller sebuah bank”? ucapku. “Dan aku tidak memanggilmu Mbak”?

 

Dia menyungging senyum tipis, yang sulit kutangkap maknanya. Apakah dia tersinggung? Ia berbalik, berlalu dari hadapanku.

 

Tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku mengejarnya. “Apakah aku menyinggungmu”?

 

“Kuharap, jangan ceritakan bagian lainnya. Never, never, never…” katanya memutus perbincangan.

 

***

 

SEBENARNYA, tulisan mengenai wanita di bank yang bertugas di bagian pelayanan nasabah atau disebut teler tadi, ada lanjutannya. Wanita itu tidak berdaya belaka, ketika dalam kerutinan bahkan kedunguan pekerjaan sehari-hari, pangeran yang entah datang dari mana itu menjemputnya, memberinya mawar dari kebun keluarganya di Bandungan, Jawa Tengah, memberinya minum anggur merah yang tak pernah dirasakannya sebelumnya, dan membawanya ke tempat tidur…. (Bagian ini kuhapus).

 

Jika Anda bertanya, aku bakal tidak bisa menjawab secara pasti, wanita (atau wanita-wanita) yang kuceritakan itu benar-benar ada atau tidak. Soal Mbak, putri bude, sebagaimana orang yang biasa hidup dalam keluarga besar, aku pasti punya. Teman, dalam suatu relasi yang aku segani, aku juga punya. Teler bank, yang kadang memikat perhatian kita, pasti juga ada, bahkan banyak di kota besar ini.

 

Terus terang, sebutan sebagai novelis (novelis gagal sekalipun) sering membuatku gamang. Benarkah novelis suka membawa wanita ke tempat tidur, telanjang, di halaman-halaman bukunya?

 

Kupegang tangan wanita itu.

 

“Tidak, aku tidak akan pernah menceritakannya…,” janjiku padanya.

 

Dia tersenyum, tampak lega.

 

Banjarsari, Ciawi, Oktober 2004

April 6, 2011 at 12:04 pm Leave a comment

Pelayanan Kudus


AKU mendarat, dan seperti biasa-aku sudah diberi tahu sebelumnya-Joni-lah yang akan menjemputku di airport. Kota tempat tinggal Ros, kakak perempuanku, masih sekitar satu setengah jam dari kota di mana airport ini berada.

“Om…”

KUDENGAR teriakan anak perempuan. Aku menoleh. Dua keponakan perempuanku-alasan utama aku selalu datang ke sini-menghambur ke arahku. Ini hari istimewa, terutama bagi si kecil, Wida (kelas V SD), yang hari ini berulang tahun. Dia berlari-lari ke arahku, diikuti kakaknya, Vivi (kelas II SMP), yang setahun tak kulihat, dalam pandanganku sekarang terlihat begitu cepat besar dan manis. Di belakang keduanya, ada Joni yang senyum-senyum-satu ekspresi paling khas pada dirinya.

“Kalian tidak sekolah?” tanyaku.

“Kan libur, Natal…,” jawab Wida sambil menggeleyot manja. Si adik ini memang selalu begitu.

“Om dulu kalau Natal tidak libur ya?” sela Vivi. Ini khas ekspresi sang kakak: agak jahil.

Coba kucubit pipinya. Dia menghindar sambil tersenyum meledek.

Joni mengambil alih bawaanku. Kami berendengan menuju area parkir.

“Kamu apa kabar Jon?”

“Baik.”

Dia kulihat juga bertambah dewasa kalau mengingat pertama ikut Mama di kota kelahiran kami dulu, ia baru lulus SD. Kecil, udik, dan penakut. Bahkan kalau bicara pun, sering bergemetaran. Dia ikut keluarga kami, bersekolah sampai lulus SMA, sebelum kemudian pindah ke kota ini, ikut Ros. Ia kelihatan gagah dan penuh kepercayaan diri sekarang. Kudengar, dia aktif berlatih silat, bahkan kadang sudah bertindak sebagai pelatih.

“Umur kamu sekarang berapa Jon?” tanyaku.

“Dua empat, eh, dua lima,” jawabnya.

“Sudah punya pacar?”

Ia cuma tersenyum.

“Ibu di rumah?” aku bertanya tentang Ros.

“Tidak,” kata Joni. “Pergi, pelayanan…,” tambahnya. Ia selalu berkata satu-satu begitu, dan cenderung tidak bersuara kalau tidak ditanya.

Siang ini cuaca mendung. Udara menjadi agak dingin, sejuk.

NASI kuning dengan sejumlah lauk-pauk termasuk ikan asin yang dibakar-makanan yang menurut hematku terenak di dunia-terhidang di meja. Beberapa anak tetangga teman-teman Wida menunggu di rumah. Satu lagi yang kusukai dari lingkungan kota kecil: kesederhanaan semacam ini.

“Selamat ulang tahun…,” seruku sambil mencium Wida. “Siapa yang membikin nasi kuning luar biasa ini? Mama?” tanyaku.

“Bukan,” jawab Wida. “Mas Joni.”

Aku melirik Joni. “Kamu yang membikin, ya Jon?”

Lagi-lagi ia cuma tersenyum, sembari sibuk menurun-nurunkan dan mengatur barang bawaanku.

“Gila, kamu makin pandai memasak,” aku bicara sambil mencomot tempe yang dipotong kecil-kecil, dimasak dengan bumbu manis-manis pedas. Kepiawaian memasak Mama rupanya Joni yang mewarisinya. Bukan Ros. Aku tahu Ros tidak suka memasak, dan barangkali tidak punya waktu. Apalagi, sejak dia makin sibuk melakukan pelayanan rohani di tahun-tahun belakangan ini.

“Kita akan makan nasi kuning ini bersama Mama?” tanyaku pada anak-anak.

“Mama bilang dia akan pergi seharian. Mama pesan kita-kita saja yang pesta…,” kata Vivi.

Aku mencari penegasan pada Joni.

“Ya, ibu pesan begitu,” ujar Joni.

“Ooh, pelayanan…,”

Tiba-tiba telepon rumah berdering. Vivi mengangkatnya, bercakap-cakap sebentar, sebelum kemudian menyodorkan gagang telepon padaku. “Mama,” ucapnya memberitahuku.

“Hai Ros…,” kataku.

“Ya, kamu baru datang ya? Perjalanan lancar? Di rumah semua sudah siap. Sudah ada nasi kuning segala, dibikin oleh Joni. Kamu makan saja sama anak-anak, tidak usah menunggu aku. Hari ini aku sibuk sekali. Pagi tadi sudah ke gereja, mengurusi persiapan bazar. Lalu aku harus segera lari ke Efatta karena harus ceramah di situ mengenai kesiapan wanita kalau harus hidup sendiri, memimpin keluarga sendiri…,” ia bicara seperti berondongan mitraliur, tentang topik yang terus terang sangat tidak menarik perhatianku.

Itulah Ros. Sejak berpisah dengan suaminya, dia menjadi sangat sibuk dengan kegiatan gereja, melakukan pelayanan rohani, ceramah dengan topik seperti disinggungnya tadi (yang tampaknya didasarkan pengalaman pribadi, bagaimana sebagai orangtua tunggal dia membesarkan dua anak), memberi kursus bahasa Inggris pada para mahasiswa sekolah theologia yang tidak sanggup membayar kursus di tempat-tempat kursus resmi, dan lain-lain.

“Nah, dari Efatta nanti aku harus ke desa tempat kami mendirikan taman bacaan untuk anak-anak. Kasihan sekali lho, anak-anak di desa itu. Mereka sama sekali tidak punya fasilitas apa-apa. Kamu mbok kalau punya buku, entah buku apa saja, dikirimkan kesini, disumbangkan kepada mereka. Tempatnya jauh. Aku pulang mungkin agak malam….”

Aku mulai jemu mendengar bicaranya. Nasi kuning di meja lebih menarik perhatianku daripada taman bacaan di desa.

“Ros, anak-anak sepertinya ingin pesta ulang tahun segera dimulai,” aku memotong pembicaraannya.

“Oke, oke, oke… baik. Tuhan memberkati,” katanya.

Kututup telepon.

“Mari kita makan…,” aku berseru di hadapan anak-anak, berlagak seperti bajak laut memimpin perompakan.

Semuanya siap menyerbu.

“Eh, tunggu, berdoa dulu,” sela Vivi.

“Oh, ya… Siapa yang memimpin doa? Kamu Joni. Kamu yang menghadirkan berkah ini,” selorohku pada Joni.

Joni tersenyum.

“Ayo…,” seruku.

“Saya tidak bisa berdoa,” ucap Joni malu-malu.

Entah siapa yang kemudian memimpin doa. Yang jelas, nasi kuning tersebut sangat istimewa, dan anak- anak semua bergembira. Ada beberapa penganan lain lagi setelah itu.

Tuhan memberkati Joni…

Seusai makan, aku merasa sangat ngantuk. Ada tetesan air. Hujan agaknya akan segera turun. Kesejukan udara inikah yang menstimulasi kantuk? Atau mungkin karena tadi aku bangun terlalu pagi, untuk penerbangan yang sangat awal?

“Om ingin tidur, kalian jangan terlalu ribut,” ujarku kepada anak- anak. Aku masuk kamar dan menutup pintu.

RUMAH ini dipimpin Joni. Kubayangkan betapa repot kalau tidak ada dia. Mataku terasa semakin berat, sementara di luar terdengar berisiknya keponakanku dan teman- teman kecilnya-entah melakukan apa mereka.

Rasanya belum terlalu lama aku terlelap ketika aku dikejutkan oleh ketukan di pintu kamar yang cukup keras. Aku mendengar suara keponakanku berseru-seru membangunkanku. Apa yang terjadi?

“Om, bangun, bangun… Mas Joni sakit….”

Aku meloncat dari tempat tidur dan membuka pintu. Wida berada di depan pintu dengan wajah cemas. “Mas Joni sakit…” katanya.

“Di mana?”

“Di depan.”

Kudapati Joni tengah duduk di kursi di teras, bersama Vivi yang kebingungan. Tak jelas bagiku, apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa Jon?”

Joni mencoba menjawab, tapi tampaknya membuka bibir pun dia kesulitan. Kulihat bibirnya bahkan agak miring. Dari matanya, kulihat dia juga berada dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.

“Ada apa?” tanyaku lagi.

Ia mencoba bangkit dari kursi, tetapi tiba-tiba hampir saja dia jatuh. Dengan cepat aku memegangnya. Tubuhnya sangat dingin. Tangan kanannya, kaki kanannya, bibir, dan sorot mata itu….

“Ya Tuhan,” seruku dalam hati. “Mungkinkah stroke…”

“Di mana rumah sakit terdekat?” tanyaku kepada Vivi.

“Maranatha, tidak jauh dari sini…,” jawab Vivi.

“Kalian semua siap-siap. Kita bawa Mas Joni ke Maranatha. Kamu Vivi, menunjukkan jalan. Om yang nyetir.”

Kuangkat Joni ke dalam mobil. Ia duduk di belakang, ditemani si kecil Wida. Duduk di jok depan, di sebelahku, Vivi terus sibuk memencet- mencet handphone, untuk coba menghubungi mama-nya, Ros, kakak perempuanku.

“Tidak bisa Om, handphone Mama tidak aktif,” katanya. “Mungkin Mama sedang ceramah, atau melakukan pelayanan….”

SULIT rasanya memercayai kejadian ini. Betapa tak terduga kehidupan. Beberapa saat lalu aku melihat Joni yang sehat, cenderung perkasa. Tiba-tiba, ia tergeletak tak berdaya seperti ini. Di ruang gawat darurat Rumah Sakit Maranatha beberapa selang segera ditancapkan ke Joni, setelah sebelumnya aku mengisi berbagai formulir, termasuk menandatangani beberapa persetujuan untuk tindakan medis yang akan diambil. Apa yang disebut CT Scan Kepala (NK) segera dilakukan. Hasilnya keluar berupa film besar, yang dengan singkat diterangkan oleh dokter padaku apa artinya semua itu.

“Gejala semacam ini umumnya disebabkan dua hal, pendarahan di otak atau penyumbatan,” kata dokter yang bisa kuingat. “Dari foto ini bisa kita lihat. Tidak terjadi pendarahan. Hanya terlihat di situ ada suatu titik yang tampaknya merupakan penyumbatan. Ini bisa dianggap cukup melegakan,” tambah dokter, berusaha menenangkan kepanikanku. “Oke, tindakan pertama saya akan memberikan lovenox injection, itu untuk coba mencairkan sumbatan tadi….”

Aku mengangguk. Ia memang menginformasikan semua tindakan medisnya padaku, sebagai bagian dari pertanggungjawabannya. Ia katakan pula, ia adalah dokter umum, yang beberapa saat lagi akan dibantu oleh dokter khusus untuk kasus ini, seorang neurolog.

“Kasus semacam ini sering terjadi?” aku bertanya.

“Ya, tapi jarang terkena pada mereka yang berusia muda. Berapa umur dia tadi?”

“Dua empat, eh, dua lima….”

Dokter menggeleng-gelengkan kepala. Vivi terus sibuk dengan handphone-nya, namun tak kunjung bisa berkomunikasi dengan mamanya.

NATAL yang penuh kepanikan, tetapi neurolog atau dokter khusus ahli saraf yang beberapa saat kemudian datang, memberi penjelasan padaku secara lebih rinci lagi mengenai keadaan Joni sehingga kami bisa merasa lebih tenang. Tak lama kemudian, Joni dipindahkan dari ruang gawat darurat ke kamar rawat inap biasa. Dalam semua proses itu, aku bersama dua keponakanku terus mendampingi Joni. Dua keponakanku itu kulihat seperti malaikat-malaikat kecil.

Beberapa waktu kemudian pula, Joni juga membuka mata, dalam tatapan yang berbeda dibanding ketika dia di rumah dan kami larikan ke rumah sakit tadi. Meski dengan sangat susah payah, ia mulai bisa berkomunikasi.

Saat itu pula Vivi tergopoh-gopoh mendatangiku, dan menyodorkan handphone-nya. Rupanya Ros telah bisa dihubungi. “Mama ingin bicara…,” kata Vivi.

“Ya Ros…,” kataku.

“Apa yang terjadi? Kenapa dia? Tidak apa-apa? Kamu bisa menangani semuanya? Sudah di rumah sakit, jadi apa hasilnya? Waduh, bagaimana ya, aku sangat sibuk. Ini Natal, kamu tahu kan… aku tidak segera bisa ke situ karena aku masih harus melakukan pelayanan di dua tempat berbeda, jaraknya berjauhan….”

Segera kupotong omongan Ros yang membuat kepalaku mendadak pusing. Kataku, “Ya Ros, kamu selesaikan urusanmu dulu, nanti kita bicara lagi….”

“Nanti kuberi tahu lagi aku di mana. Tuhan memberkati…,” kata Ros sebelum menutup telepon.

Aku kurang peduli.

DI luar, hujan kelihatannya mulai turun. Aku menatap mata Joni, yang balik menatapku, dengan pantulan seperti paduan antara pasrah dan terima kasih. Bahkan matanya kelihatan berkaca-kaca. Aku ingat, di kampungnya, Joni sudah tak punya siapa-siapa. Ayah dan ibunya sudah meninggal. Adik-adiknya tersebar di berbagai tempat, salah satunya ikut Mama di kota asalku.

“Kita sama-sama tidak bisa berdoa Jon, tapi percayalah, Tuhan akan menolong kita. Dia mungkin sudah turun, bersama hujan…” kataku mengajaknya sedikit bercanda.

Mata Joni makin berkaca-kaca. Hujan terdengar semakin deras.

“Nah, ya kan, Tuhan makin deras…,” ujarku lagi melucu.

Kali ini Joni terlihat tersenyum.

Entah di mana Ros. Aku tak berpikir mengenai dia. Ini memang Natal, dan tahu kan, seperti dikatakannya tadi, dia sibuk….

Aku hanya berpikir satu hal: mudah-mudahan Tuhan benar-benar datang bersama hujan, dan Joni cepat sembuh.

Banjarsari, Ciawi, Desember 2004

April 6, 2011 at 12:03 pm Leave a comment

Pelayanan Kudus


AKU mendarat, dan seperti biasa-aku sudah diberi tahu sebelumnya-Joni-lah yang akan menjemputku di airport. Kota tempat tinggal Ros, kakak perempuanku, masih sekitar satu setengah jam dari kota di mana airport ini berada.

“Om…”

KUDENGAR teriakan anak perempuan. Aku menoleh. Dua keponakan perempuanku-alasan utama aku selalu datang ke sini-menghambur ke arahku. Ini hari istimewa, terutama bagi si kecil, Wida (kelas V SD), yang hari ini berulang tahun. Dia berlari-lari ke arahku, diikuti kakaknya, Vivi (kelas II SMP), yang setahun tak kulihat, dalam pandanganku sekarang terlihat begitu cepat besar dan manis. Di belakang keduanya, ada Joni yang senyum-senyum-satu ekspresi paling khas pada dirinya.

“Kalian tidak sekolah?” tanyaku.

“Kan libur, Natal…,” jawab Wida sambil menggeleyot manja. Si adik ini memang selalu begitu.

“Om dulu kalau Natal tidak libur ya?” sela Vivi. Ini khas ekspresi sang kakak: agak jahil.

Coba kucubit pipinya. Dia menghindar sambil tersenyum meledek.

Joni mengambil alih bawaanku. Kami berendengan menuju area parkir.

“Kamu apa kabar Jon?”

“Baik.”

Dia kulihat juga bertambah dewasa kalau mengingat pertama ikut Mama di kota kelahiran kami dulu, ia baru lulus SD. Kecil, udik, dan penakut. Bahkan kalau bicara pun, sering bergemetaran. Dia ikut keluarga kami, bersekolah sampai lulus SMA, sebelum kemudian pindah ke kota ini, ikut Ros. Ia kelihatan gagah dan penuh kepercayaan diri sekarang. Kudengar, dia aktif berlatih silat, bahkan kadang sudah bertindak sebagai pelatih.

“Umur kamu sekarang berapa Jon?” tanyaku.

“Dua empat, eh, dua lima,” jawabnya.

“Sudah punya pacar?”

Ia cuma tersenyum.

“Ibu di rumah?” aku bertanya tentang Ros.

“Tidak,” kata Joni. “Pergi, pelayanan…,” tambahnya. Ia selalu berkata satu-satu begitu, dan cenderung tidak bersuara kalau tidak ditanya.

Siang ini cuaca mendung. Udara menjadi agak dingin, sejuk.

NASI kuning dengan sejumlah lauk-pauk termasuk ikan asin yang dibakar-makanan yang menurut hematku terenak di dunia-terhidang di meja. Beberapa anak tetangga teman-teman Wida menunggu di rumah. Satu lagi yang kusukai dari lingkungan kota kecil: kesederhanaan semacam ini.

“Selamat ulang tahun…,” seruku sambil mencium Wida. “Siapa yang membikin nasi kuning luar biasa ini? Mama?” tanyaku.

“Bukan,” jawab Wida. “Mas Joni.”

Aku melirik Joni. “Kamu yang membikin, ya Jon?”

Lagi-lagi ia cuma tersenyum, sembari sibuk menurun-nurunkan dan mengatur barang bawaanku.

“Gila, kamu makin pandai memasak,” aku bicara sambil mencomot tempe yang dipotong kecil-kecil, dimasak dengan bumbu manis-manis pedas. Kepiawaian memasak Mama rupanya Joni yang mewarisinya. Bukan Ros. Aku tahu Ros tidak suka memasak, dan barangkali tidak punya waktu. Apalagi, sejak dia makin sibuk melakukan pelayanan rohani di tahun-tahun belakangan ini.

“Kita akan makan nasi kuning ini bersama Mama?” tanyaku pada anak-anak.

“Mama bilang dia akan pergi seharian. Mama pesan kita-kita saja yang pesta…,” kata Vivi.

Aku mencari penegasan pada Joni.

“Ya, ibu pesan begitu,” ujar Joni.

“Ooh, pelayanan…,”

Tiba-tiba telepon rumah berdering. Vivi mengangkatnya, bercakap-cakap sebentar, sebelum kemudian menyodorkan gagang telepon padaku. “Mama,” ucapnya memberitahuku.

“Hai Ros…,” kataku.

“Ya, kamu baru datang ya? Perjalanan lancar? Di rumah semua sudah siap. Sudah ada nasi kuning segala, dibikin oleh Joni. Kamu makan saja sama anak-anak, tidak usah menunggu aku. Hari ini aku sibuk sekali. Pagi tadi sudah ke gereja, mengurusi persiapan bazar. Lalu aku harus segera lari ke Efatta karena harus ceramah di situ mengenai kesiapan wanita kalau harus hidup sendiri, memimpin keluarga sendiri…,” ia bicara seperti berondongan mitraliur, tentang topik yang terus terang sangat tidak menarik perhatianku.

Itulah Ros. Sejak berpisah dengan suaminya, dia menjadi sangat sibuk dengan kegiatan gereja, melakukan pelayanan rohani, ceramah dengan topik seperti disinggungnya tadi (yang tampaknya didasarkan pengalaman pribadi, bagaimana sebagai orangtua tunggal dia membesarkan dua anak), memberi kursus bahasa Inggris pada para mahasiswa sekolah theologia yang tidak sanggup membayar kursus di tempat-tempat kursus resmi, dan lain-lain.

“Nah, dari Efatta nanti aku harus ke desa tempat kami mendirikan taman bacaan untuk anak-anak. Kasihan sekali lho, anak-anak di desa itu. Mereka sama sekali tidak punya fasilitas apa-apa. Kamu mbok kalau punya buku, entah buku apa saja, dikirimkan kesini, disumbangkan kepada mereka. Tempatnya jauh. Aku pulang mungkin agak malam….”

Aku mulai jemu mendengar bicaranya. Nasi kuning di meja lebih menarik perhatianku daripada taman bacaan di desa.

“Ros, anak-anak sepertinya ingin pesta ulang tahun segera dimulai,” aku memotong pembicaraannya.

“Oke, oke, oke… baik. Tuhan memberkati,” katanya.

Kututup telepon.

“Mari kita makan…,” aku berseru di hadapan anak-anak, berlagak seperti bajak laut memimpin perompakan.

Semuanya siap menyerbu.

“Eh, tunggu, berdoa dulu,” sela Vivi.

“Oh, ya… Siapa yang memimpin doa? Kamu Joni. Kamu yang menghadirkan berkah ini,” selorohku pada Joni.

Joni tersenyum.

“Ayo…,” seruku.

“Saya tidak bisa berdoa,” ucap Joni malu-malu.

Entah siapa yang kemudian memimpin doa. Yang jelas, nasi kuning tersebut sangat istimewa, dan anak- anak semua bergembira. Ada beberapa penganan lain lagi setelah itu.

Tuhan memberkati Joni…

Seusai makan, aku merasa sangat ngantuk. Ada tetesan air. Hujan agaknya akan segera turun. Kesejukan udara inikah yang menstimulasi kantuk? Atau mungkin karena tadi aku bangun terlalu pagi, untuk penerbangan yang sangat awal?

“Om ingin tidur, kalian jangan terlalu ribut,” ujarku kepada anak- anak. Aku masuk kamar dan menutup pintu.

RUMAH ini dipimpin Joni. Kubayangkan betapa repot kalau tidak ada dia. Mataku terasa semakin berat, sementara di luar terdengar berisiknya keponakanku dan teman- teman kecilnya-entah melakukan apa mereka.

Rasanya belum terlalu lama aku terlelap ketika aku dikejutkan oleh ketukan di pintu kamar yang cukup keras. Aku mendengar suara keponakanku berseru-seru membangunkanku. Apa yang terjadi?

“Om, bangun, bangun… Mas Joni sakit….”

Aku meloncat dari tempat tidur dan membuka pintu. Wida berada di depan pintu dengan wajah cemas. “Mas Joni sakit…” katanya.

“Di mana?”

“Di depan.”

Kudapati Joni tengah duduk di kursi di teras, bersama Vivi yang kebingungan. Tak jelas bagiku, apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa Jon?”

Joni mencoba menjawab, tapi tampaknya membuka bibir pun dia kesulitan. Kulihat bibirnya bahkan agak miring. Dari matanya, kulihat dia juga berada dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.

“Ada apa?” tanyaku lagi.

Ia mencoba bangkit dari kursi, tetapi tiba-tiba hampir saja dia jatuh. Dengan cepat aku memegangnya. Tubuhnya sangat dingin. Tangan kanannya, kaki kanannya, bibir, dan sorot mata itu….

“Ya Tuhan,” seruku dalam hati. “Mungkinkah stroke…”

“Di mana rumah sakit terdekat?” tanyaku kepada Vivi.

“Maranatha, tidak jauh dari sini…,” jawab Vivi.

“Kalian semua siap-siap. Kita bawa Mas Joni ke Maranatha. Kamu Vivi, menunjukkan jalan. Om yang nyetir.”

Kuangkat Joni ke dalam mobil. Ia duduk di belakang, ditemani si kecil Wida. Duduk di jok depan, di sebelahku, Vivi terus sibuk memencet- mencet handphone, untuk coba menghubungi mama-nya, Ros, kakak perempuanku.

“Tidak bisa Om, handphone Mama tidak aktif,” katanya. “Mungkin Mama sedang ceramah, atau melakukan pelayanan….”

SULIT rasanya memercayai kejadian ini. Betapa tak terduga kehidupan. Beberapa saat lalu aku melihat Joni yang sehat, cenderung perkasa. Tiba-tiba, ia tergeletak tak berdaya seperti ini. Di ruang gawat darurat Rumah Sakit Maranatha beberapa selang segera ditancapkan ke Joni, setelah sebelumnya aku mengisi berbagai formulir, termasuk menandatangani beberapa persetujuan untuk tindakan medis yang akan diambil. Apa yang disebut CT Scan Kepala (NK) segera dilakukan. Hasilnya keluar berupa film besar, yang dengan singkat diterangkan oleh dokter padaku apa artinya semua itu.

“Gejala semacam ini umumnya disebabkan dua hal, pendarahan di otak atau penyumbatan,” kata dokter yang bisa kuingat. “Dari foto ini bisa kita lihat. Tidak terjadi pendarahan. Hanya terlihat di situ ada suatu titik yang tampaknya merupakan penyumbatan. Ini bisa dianggap cukup melegakan,” tambah dokter, berusaha menenangkan kepanikanku. “Oke, tindakan pertama saya akan memberikan lovenox injection, itu untuk coba mencairkan sumbatan tadi….”

Aku mengangguk. Ia memang menginformasikan semua tindakan medisnya padaku, sebagai bagian dari pertanggungjawabannya. Ia katakan pula, ia adalah dokter umum, yang beberapa saat lagi akan dibantu oleh dokter khusus untuk kasus ini, seorang neurolog.

“Kasus semacam ini sering terjadi?” aku bertanya.

“Ya, tapi jarang terkena pada mereka yang berusia muda. Berapa umur dia tadi?”

“Dua empat, eh, dua lima….”

Dokter menggeleng-gelengkan kepala. Vivi terus sibuk dengan handphone-nya, namun tak kunjung bisa berkomunikasi dengan mamanya.

NATAL yang penuh kepanikan, tetapi neurolog atau dokter khusus ahli saraf yang beberapa saat kemudian datang, memberi penjelasan padaku secara lebih rinci lagi mengenai keadaan Joni sehingga kami bisa merasa lebih tenang. Tak lama kemudian, Joni dipindahkan dari ruang gawat darurat ke kamar rawat inap biasa. Dalam semua proses itu, aku bersama dua keponakanku terus mendampingi Joni. Dua keponakanku itu kulihat seperti malaikat-malaikat kecil.

Beberapa waktu kemudian pula, Joni juga membuka mata, dalam tatapan yang berbeda dibanding ketika dia di rumah dan kami larikan ke rumah sakit tadi. Meski dengan sangat susah payah, ia mulai bisa berkomunikasi.

Saat itu pula Vivi tergopoh-gopoh mendatangiku, dan menyodorkan handphone-nya. Rupanya Ros telah bisa dihubungi. “Mama ingin bicara…,” kata Vivi.

“Ya Ros…,” kataku.

“Apa yang terjadi? Kenapa dia? Tidak apa-apa? Kamu bisa menangani semuanya? Sudah di rumah sakit, jadi apa hasilnya? Waduh, bagaimana ya, aku sangat sibuk. Ini Natal, kamu tahu kan… aku tidak segera bisa ke situ karena aku masih harus melakukan pelayanan di dua tempat berbeda, jaraknya berjauhan….”

Segera kupotong omongan Ros yang membuat kepalaku mendadak pusing. Kataku, “Ya Ros, kamu selesaikan urusanmu dulu, nanti kita bicara lagi….”

“Nanti kuberi tahu lagi aku di mana. Tuhan memberkati…,” kata Ros sebelum menutup telepon.

Aku kurang peduli.

DI luar, hujan kelihatannya mulai turun. Aku menatap mata Joni, yang balik menatapku, dengan pantulan seperti paduan antara pasrah dan terima kasih. Bahkan matanya kelihatan berkaca-kaca. Aku ingat, di kampungnya, Joni sudah tak punya siapa-siapa. Ayah dan ibunya sudah meninggal. Adik-adiknya tersebar di berbagai tempat, salah satunya ikut Mama di kota asalku.

“Kita sama-sama tidak bisa berdoa Jon, tapi percayalah, Tuhan akan menolong kita. Dia mungkin sudah turun, bersama hujan…” kataku mengajaknya sedikit bercanda.

Mata Joni makin berkaca-kaca. Hujan terdengar semakin deras.

“Nah, ya kan, Tuhan makin deras…,” ujarku lagi melucu.

Kali ini Joni terlihat tersenyum.

Entah di mana Ros. Aku tak berpikir mengenai dia. Ini memang Natal, dan tahu kan, seperti dikatakannya tadi, dia sibuk….

Aku hanya berpikir satu hal: mudah-mudahan Tuhan benar-benar datang bersama hujan, dan Joni cepat sembuh.

Banjarsari, Ciawi, Desember 2004

April 6, 2011 at 12:02 pm Leave a comment

Indrakila


Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar, lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya, ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang, mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. Sebagai penulis, dia malah membayangkan produktivitasnya nanti, di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra.

Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. Ini untuk melukiskan, bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit, di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. Di seberang sana, lembah dan gunung-gunung. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya, lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak, ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya), kebiasaan serta irama keseharian mereka, sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata, fana.

”Kamu ini psikolog, pendeta, atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi.

”Sudahlah, kamu jawab semua pertanyaanku. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual, bukan teknis,” tukas sang teman.

”Wah, aku lupa, pekerjaanmu urban planner. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek, ha-ha-ha…,” sahutnya berseloroh.

Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu. Sang sahabat garuk-garuk kepala. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi,” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. ”Aku memang belum pernah membangun rumah. Kali ini aku mau, karena ini rumah wong edan…,” tambahnya getas.

Ketika hari pensiun tiba, teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta.

”Masih cantik ya…,” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan. Terus terang, ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu.

Dia disuruh pidato, menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. Beberapa teman ada yang mengusap air mata. Pimpinan perusahaan, orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut, mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”.

Begitulah, sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri, untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri, terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa.

Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi. Terasalah, waktu tidak seluas dibayangkannya. Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa. Setelah itu sore tiba. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain, dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung.

”Kalau ingin menulis, ya mustinya bangun pagi,” komentar istrinya.

Dia cuma tertawa. ”Benar juga,” ujarnya dalam hati.

Pertama berat, tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri. Ia mulai bangun saat subuh, sebelum matahari terbit.

”Kenapa bangun sepagi itu, Pa?” tanyanya. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, bersih-bersih, merapikan barang-barang, dan lain-lain. ”Ooh, barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan,” pikir sang istri.

Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman, memangkas dan merapikan daun-daun bambu, menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan, sesekali merawat dengan memberinya pupuk, memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman, sampai-sampai, dia seolah seperti landscaper. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. Dia lebih tertarik pada tanaman. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman, gardening, lanscaping, space planning, dan semacamnya.

Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga, orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani.

”Mas Daru kini jadi petani lho…,” celoteh orang di kantor.

”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya. ”Apa dia bisa pegang cangkul?”

”Hu… kalian tidak tahu. Coba tanya beberapa teman. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong. Waktu saya ke sana, kebun singkongnya itu sudah seperti hutan. Katanya dia sampai diprotes tetangga, takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling….”

Begitulah kehidupan pensiunan ini. Dia menjadi petani. Soal menulis, jangan-jangan dia bahkan sudah lupa….

Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan, selalu terjadi pada para pensiunan. Hanya saja, ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi, kaget juga banyak orang). Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong.

Ia dilarikan ke rumah sakit. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan.

”Stroke ya?”

”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?”

”Stres karena pensiun, kali….”

Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya. Sang istri percaya, tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa, dari berbagai penjelasan dokter, si istri ini percaya suaminya akan segera pulih. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya. Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. Akan tetapi, ia percaya, kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki.

Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali, melihat kemajuan suaminya. Ia merasa benar dengan feeling-nya. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. Bukan hanya stretching, tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya. ”Liong bun…,” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga….”

Perkembangan berikutnya lagi, sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya, dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit. Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian, dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi, berada di ruang kerja menghadap komputer. Dia baru menyadari, bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya, langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung.

”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya.

Sang suami diam, duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan.

Di balik gunung ada gunung, di balik cakrawala ada cakrawala….

Si istri kaget. Suaminya telah pulih kembali. Itu tadi ucapan suaminya, penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam.

Didekatinya suaminya dari belakang. Ia ingin menguji memori suaminya.

”Itu gunung apa Bib…,” tanyanya, dengan menggunakan nama panggilan suaminya, semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu.

”Indrakila!” jawabnya.

Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama. Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango.

”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila. Semua saudaranya tumbang di jalan. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan, diiringi anjing kita, Patman…,” suaminya melanjutkan kata-katanya.

Ah, realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali. Wanita ini tersenyum. Itu Gunung Gede-Pangrango, bukan Gunung Indrakila. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka.

Sang istri kian penasaran.

”Kita sekarang berada di mana?”

”Mertasari!”

Tersenyum sang istri. Dia tahu, suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari, bukan Mertasari.

”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik, di pinggir kolam.

Si suami diam sesaat, sebelum berucap, ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam. Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri, tentang asal-usulnya, tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita….”

Terhenyaklah sang istri. Itu peristiwa puluhan tahun lalu, pertemuan mereka, episode-episode manis yang pernah mereka lewati.

Mata sang istri menjadi berkaca-kaca. Dia peluk suaminya dari belakang.

”Bibib telah benar-benar sehat, siap menulis lagi…,” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya.

Langit semburat merah. Pagi benar-benar datang.

Ciawi Junction, 2005

April 6, 2011 at 11:58 am Leave a comment

Ciawi Junction


WAKTU seperti berhenti di perempatan kota kawedanan ini. Oh ya, bagi yang kurang paham, kawedanan adalah daerah administratif di bawah pimpinan seorang asisten residen, yang padanannya kini meski kurang tepat kira-kira seperti kecamatan. Seorang wanita menunggu pemenuhan janji cinta di perempatan yang membeku serupa potret tua hitam putih, potret yang dalam keusangannya selalu menampilkan masa lalu yang tak pernah mati sampai kini dan bahkan sampai selamanya nanti.

“Aku tahu, kau selalu mengingat tempat ini dan akan kembali ke sini nanti,” kata wanita itu di depan gedung bioskop yang bangunannya tak kalah tua dibanding impiannya. Waktu boleh membuat semua hal melepuh, namun tidak untuk bayang-bayang mimpi. Seperti misteri citra yang terpantul di layar bioskop, dunia bayang-bayang memiliki roh kehidupan sendiri yang mengatasi keadaan sekelilingnya yang melapuk oleh waktu. Kegairahan adegan ranjang layar bioskop tak pernah surut meski kenyataannya pemainnya telah jompo dan loyo.

Bagi wanita ini dunia tidak berubah. Lagu Portrait of My Love berikut tiruannya dalam bahasa Indonesia Potretmu tetap berdengung dalam kesenduan yang sama. “Orang bilang aku bermimpi. Tidakkah mereka tahu, bahwa kita terus berhubungan, membangun simpul kehidupan yang berpusat di perempatan ini, dengan gedung bioskop yang sangat kita cintai ini….”

Perempatan yang mencoba bertahan. Dalam beberapa hal sebenarnya memang tak banyak yang berubah dari perempatan milik wanita tersebut. Seperti saya singgung tadi: semuanya hanya dalam proses pelapukan dan menjadi usang. Di situ tetap ada toko kue yang menjual kue kelapa, apotek dengan nama tetap sama, yakni Intrafarm, sampai ke warung ronde di lorong menuju gedung bioskop yang bangku-bangkunya pun barangkali masih yang dulu. Gunung di latar belakang kota juga tidak ke mana-mana, selain hembusan hawa dingin dan kabutnya yang kini menghilang dikarenakan pemanasan bumi dan barangkali juga makin banyaknya manusia.

“Mereka tidak tahu, kamu tetap di sini, bersamaku….”

Tengah bermimpi di siang bolongkah wanita ini?

***

SEMUA perempatan dari Charring Cross, Time Square, Scotts Road sampai Ciawi memendam sihir yang bisa memenjarakan jiwa. Dulu di Charring Cross mereka saling tunggu, sebelum kemudian berjalan bersama-sama menyusuri Oxford Road yang gemerlapan.

“Yang kusukai dari musim gugur adalah angin yang hembusannya tak tentu arah, membawa suara datang dan pergi,” kata lelaki itu kepada wanita lawan bicaranya. Mereka duduk-duduk di bangku taman persimpangan Leicester Square setelah kaki agak pegal karena jalan kaki yang cukup jauh. Daun-daun yang melayang kelihatan bertambah warna kuningnya dikarenakan cahaya lampu mercury.

“Ya, seperti suara musik pengamen itu,” si wanita menyetujui.

Di trotoar di depan toko khusus yang menjual barang-barang dari Swiss memang terlihat ada pengamen, lelaki berambut panjang, berjaket blue jeans, menyanyikan lagu-lagu Don McLean. Dari penampilannya bisa dipastikan ia sisa laskar tahun 1970-an.

“Tahukah kamu lagu yang bertiup sayup-sayup itu?” tanya si lelaki.

“Starry starry night…,” jawab si wanita.

“Ha-ha, banyak orang menyebutnya demikian, judul sebenarnya Vincent. Itu adalah penghormatan untuk pelukis Vincent Van Gough untuk karyanya Starry Night. Malam yang berbintang seperti ini.”

Keduanya menatap langit, melihat bintang-bintang. Langit cerah di musim gugur.

“Melihat langit biru berbintang ini pun akan susah kalau kita pulang nanti,” kata wanita itu.

“Nanti kita cari tempat yang masih memungkinkan kita untuk melihat langit yang masih membiru, bukan yang tersaput kabut polusi,” kata lelaki itu setengah berkhayal.

“Kamu berpikir untuk kembali ke kota kecilmu?”

Lelaki itu tersenyum. “Tidak,” katanya. “Adakah sebuah tempat, di mana kita akan bisa menghirup udara gunung, namun tidak menjauhkan kita dari mesin espresso….”

Keduanya tertawa. Petang yang penuh khayal. Angin berhembus kian dingin.

“Kita menyeberang ke kafe itu…,” ajak si wanita.

Mereka bangkit, dan berjalan berpelukan.

***

BANYAK orang hidup dalam kenangan–atau, adakah seseorang yang hidup tanpa kenangan? Sementara seorang wanita tanpa sadar setia menghidupi dan menunggui kenangannya di perempatan kota seperti saya ceritakan di atas, pasangan lelaki-perempuan di Charring Cross itu pada masa sesudahnya dengan sadar dan sengaja menghidupkan segala sesuatu di masa lalu di sekelilingnya.

Sama-sama lulus dari Architectural Association Graduate School, London–sekolah arsitektur terkemuka di Inggris–dengan segala modal yang ada mereka membangun tempat tinggal di atas bukit berlembah di dekat perempatan kota kecil yang mereka perhitungkan tetap berada dalam jangkauan kehidupan kota metropolitan. “Karena kami tidak bisa jauh-jauh dari mesin espresso…,” ucapan itu sering mereka lontarkan.

Batas ruang mereka bukanlah tembok ataupun kaca dari arsitektur tempat tinggal mereka, melainkan keluasan pandangan berikut kawasan imajinasi yang tertangkap indera. “Ladang bukit lembah gunung itu milik kami….”

Tentu itu hanya canda mereka, menanggapi saudara teman kenalan yang berkunjung ke situ dan mendapati bagaimana sebuah bangunan betul-betul dirancang semata-mata untuk mengonfigurasi pemandangan alam sekelilingnya.

Dari lingkungan desa mereka mendapat pelajaran baru akan tanaman yang katanya mengundang kupu-kupu seperti lamtana, soka, alamanda, bauhemia, dan lain-lain. Mereka integrasikan tanaman bunga-bungaan sampai ke hibiscus dan bunga sepatu dengan berbagai variasinya, yang ternyata memunculkan sesuatu tak terduga. Bukan hanya kupu-kupu yang singgah tetapi juga berbagai jenis belalang, burung, dan entah makhluk apa lagi terutama serangga yang modelnya begitu bermacam-macam. Mereka kebanyakan masuk rumah karena tersesat–termanipulasi oleh dinding-dinding kaca. Sambil menyelamatkan makhluk-makhluk yang tersesat ke dalam rumah itulah mereka makin mengenali berbagai jenis makhluk hidup tadi.

Di antara berbagai hal, yang menjadi favorit lelaki ini adalah perempatan di sekitar situ. “Yang kusukai dan kusukuri, semua yang hidup dalam kenanganku seperti berpindah ke sini?,” katanya. “Kabut, hawa dingin….”

“Dan Charring Cross…,” timpa si wanita, teman hidupnya.

“Perempatan itu bisa Charring Cross, bisa Tuxedo Junction…,” kata lelaki itu menyebut suatu tempat yang dulu mereka suka berkencan. “Tetapi juga bisa berarti perempatan di kota kecilku dulu, dengan penanda kota berupa gedung bioskop bergaya art deco, yang seluruh anak muda kota pernah berpacaran di dalamnya,” lanjutnya.

“Termasuk kamu?”

“Ya, cinta monyet remaja, dengan anak pemilik toko di dekat situ. Namanya Li Hwa, wajahnya ketika dewasa sekarang pastilah seperti Lin Ching-hsia…,” dia berseloroh menyebut nama bintang film Taiwan kesukaannya, yang film kekanak-kanakannya, Semi-Gods and Semi-Devils ia tonton berkali-kali. Ya, Li Hwa boleh jadi sekarang secantik Lin Ching-hsia….

***

HANYA saja, ah, banyak wanita yang sebenarnya cuma cantik dalam kenangan kita. Kadang kita kecewa belaka, mendapati teman lama telah berubah tidak seperti dalam bayangan kita.

Selain itu, ada yang kurang diketahui lelaki ini, yakni mengenai makna kenangan bagi orang per orang. Hidupnya bergulir dari satu tempat ke tempat lain, baik dikarenakan sekolah maupun pekerjaan serta beberapa hal di luar itu. Ia membangun mimpinya sendiri, menjadikan gunung-gunung dan lembah di sekelilingnya sebagai fiksi yang seolah sesuatu yang otentik, nyata, atau dalam istilah intelektual yang menjadi bagian kehidupannya disebut sebagai “hiper-realitas”. Perempatan di dekat situ yang dalam pandangan orang lain boleh jadi menjengkelkan karena banyaknya angkutan kota alias angkot yang ngetem menyebabkan kemacetan lalu lintas, berikut pedagang yang menggelar dagangannya menjorok ke jalan, dia percantik dalam narasinya seolah itu Charring Cross atau Tuxedo Junction. Dengan kenangan dan gagasan itulah dia membangun kehidupan sehari-hari dengan wanita teman hidupnya.

Ia tak tahu keadaan sebenarnya dari beberapa hal yang telah ia tambal-sulam menjadi suatu narasi, menjadi sebuah kesadaran: state of mind. Misalnya perempatan kota di masa kecilnya dulu. Tahukah dia, bahwa seorang wanita, yang ia selorohkan sebagai Lin Ching-hsia, masih mengenang dan merindukannya? Atau baiklah, Li Hwa, sungguh tidak seperti Lin Ching-hsia alias Brigitte Lin seperti dibayangkannya. Sehari-hari, Li Hwa menunggui toko peninggalan keluarga, yang keadaannya tak berubah sejak dari dulu kala.

Kini, Li Hwa dan sejumlah pedagang lain di sekitar perempatan itu tengah cemas karena usaha mereka akan digusur. Seluruh kawasan itu akan dibangun menjadi kawasan baru, yang katanya akan lebih modern termasuk dengan pembangunan mal segala.

Kalau pembangunan itu benar-benar dilaksanakan, mereka bakal kehilangan bukan hanya tempat usaha, tetapi juga tonggak kenangan yang menjadi penanda perjalanan hidup kota mereka: gedung bioskop di perempatan kota.

Gedung bioskop mereka bakal dirobohkan. Tanda-tandanya sudah kelihatan. Film sudah tidak diputar lagi. Poster-poster sudah tidak dipasang, meninggalkan papan besar tempat pemasangan poster melompong dan kelihatanlah usang serta lapuknya kayu-kayu tempat memasang poster itu.

Tanpa gedung bioskop itu, apa artinya kota ini? Kehidupan sudah berakhir di perempatan tersebut, sementara di perempatan yang lain lagi, narasi demi narasi terus dilahirkan berdasar fakta yang tak lagi ada.

*** Banjarsari, November 2005

April 6, 2011 at 11:57 am Leave a comment

Older Posts


Categories